Surat Al-Fatihah: Gambaran Hubungan Manusia dan Tuhannya
Jendelakita.my.id. - Surat Al-Fatihah, sebagaimana semua surat lainnya dalam Al-Qur’an—kecuali At-Taubah—diawali dengan menyebut nama Allah, nama yang paling agung dan suci.
Meskipun termasuk surat pendek, Al-Fatihah dianggap sebagai induk Al-Qur’an dan surat yang paling agung. Al-Fatihah memuat ringkasan akidah Islam serta menggambarkan perjanjian antara manusia dengan Tuhannya untuk mengemban amanat di dunia.
Kata al-hamd (pujian) dalam ayat ini mengandung tiga pengertian. Pertama, pujian terhadap kemuliaan, keindahan, dan kesempurnaan Allah. Kedua, pujian kepada Allah sebagai Sang Pencipta dan Pemberi rezeki atas segala rahmat, kemurahan, dan kebaikan-Nya. Ketiga, bentuk syukur kepada Allah atas segala kemurahan dan rahmat-Nya.
Karena kasih sayang-Nya, kita dapat hidup. Kasih dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Jika Allah tidak mengampuni dan mengasihi, niscaya kita akan binasa karena kejahatan dan kesombongan kita.
Allah menetapkan Surat Al-Fatihah sebagai bacaan wajib dalam salat. Inilah ungkapan doa yang paling lembut, menggugah, dan paling intim yang dipanjatkan hamba kepada Tuhannya. Inilah pernyataan tentang kebenaran dan keutamaan yang paling mendasar, serta munajat santun yang mengekspresikan kerendahan manusia di hadapan keagungan dan kemahakuasaan Allah. Salat yang dilaksanakan sesuai dengan ketetapan waktunya merupakan ungkapan permohonan hamba untuk memperoleh rida dan perlindungan Allah.
Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah saw. bersabda:
“Aku (Allah) membagi salat menjadi dua, antara Aku dan hamba-Ku, dan Aku akan memenuhi setiap permintaan hamba-Ku.”
Oleh karena itu, selayaknya kita senantiasa mendirikan salat untuk menyucikan jiwa, sebagaimana kita harus membersihkan tubuh setiap saat. Tubuh tidak akan bersih dan sehat hanya dengan sekali atau dua kali mandi. Setiap hari sepanjang hidup, tubuh harus dibersihkan agar terjaga dari segala kotoran yang membahayakan.
Demikian pula dengan salat dan doa. Kesucian dan kebersihan jiwa akan terus terjaga jika kita senantiasa memanjatkan doa dan menjaga salat. Salat atau doa yang dilakukan hanya sesekali tidak akan mampu memperbaiki sifat manusia. Sebab, jiwa manusia itu layaknya batu karang yang tidak akan goyah hanya dengan sekali pukulan. Terlebih lagi, setan tidak pernah bosan menggoda dan menggiring manusia menuju kesesatan.
Oleh karena itu, manusia harus senantiasa berdoa, mendirikan salat, dan bertobat atas segala kejahatan dan keburukannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisa’: 103).
Demikianlah gambaran hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Keagungan dan kemuliaan hubungan tersebut tidak ada bandingannya. Sebagai hamba, manusia harus senantiasa beriman, memuji, dan beribadah kepada-Nya sebagai bekal untuk menghadap-Nya, serta senantiasa berharap agar Allah mencintainya.
(Ringkasan dari karya Syekh Muhammad Al-Ghazali, Menikmati Jamuan Allah, Jilid 1, 2007, hlm. 7–13).
