Breaking News

Allah yang Menolong Saya


 Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. 

Jendelakita.my.id. - Setelah Perang Badar dimenangkan oleh kaum Muslimin, berbagai ancaman dan peperangan lain masih terus terjadi. Ketika Nabi Muhammad SAW bersama kaum Muslimin memasuki wilayah kekuasaan Bani Muharib, tiba-tiba hujan turun sangat deras sehingga jalan menjadi licin. Sebelum tiba di tempat yang aman untuk berlindung, seluruh pasukan basah kuyup, termasuk Nabi Muhammad SAW sendiri.

Nabi SAW berjalan agak tertinggal dari rombongan. Beliau kemudian melepas pakaiannya dan menggantungkannya di sebuah pohon agar cepat kering. Setelah itu, beliau berteduh dan berbaring di bawah pohon tersebut hingga tertidur. Namun, gerak-gerik pasukan Muslim, terutama Nabi Muhammad SAW, telah lama diawasi oleh mata-mata musuh.

Tidak lama kemudian, Nabi SAW terbangun dan mendapati seorang laki-laki berdiri di hadapannya sambil menghunuskan pedang. Laki-laki itu adalah Du’tsur, kepala suku Muharib yang bertanggung jawab atas rencana penyerangan terhadap kaum Muslimin.

“Hai Muhammad, sekarang siapa yang akan melindungimu?” tanya Du’tsur.

“Allah,” jawab Nabi Muhammad SAW dengan tegas.

Pada saat itu, Malaikat Jibril turun dan mendorong pundak Du’tsur hingga pedangnya terlepas. Sesaat kemudian, Du’tsur menyadari bahwa ia telah melihat malaikat.

Kini Nabi Muhammad SAW balik bertanya, “Sekarang siapa yang akan melindungimu?”

“Tidak ada,” jawab Du’tsur dengan ketakutan.

Lalu Du’tsur berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.”

Nabi Muhammad SAW kemudian mengembalikan pedang tersebut dan memeluknya dengan erat. Mereka berjalan bersama menuju perkemahan, dan Du’tsur mulai mempelajari agama Islam. Setelah itu, ia kembali kepada kaumnya dan mengajak mereka masuk Islam.

Dalam kehidupan ini, banyak orang ingin sukses, bahagia, sejahtera, terkenal, dan selamat. Berbagai cara dilakukan untuk mencapai keinginan tersebut. Ada yang mengandalkan kecerdasan, kemampuan, jaringan, harta, bahkan ada pula yang bergantung kepada perdukunan. Semua itu dijadikan sebagai tumpuan utama untuk meraih apa yang diinginkan.

Fenomena ini banyak terjadi pada manusia modern yang terjebak dalam gaya hidup kapitalis, materialistis, dan hedonis. Ukuran keberhasilan hanya dinilai dari harta, jabatan, dan kenikmatan duniawi. Ketika memiliki kekayaan melimpah, kendaraan mewah, kekuasaan, dan pasangan yang cantik, mereka merasa telah memperoleh kebahagiaan.

Sayangnya, ketika semua yang dijadikan andalan itu gagal atau mengalami masalah, mereka mudah frustrasi, stres, dan putus asa seolah-olah dunia runtuh.

Berbeda dengan orang yang hanya menggantungkan hidupnya kepada Allah SWT. Mereka menjalani hidup dengan lebih tenang dan penuh makna. Bagi mereka, kaya dan miskin sama-sama merupakan ujian. Orang miskin diuji dengan kesabaran, sedangkan orang kaya diuji dengan rasa syukur.

Jika orang miskin mampu bersabar dan orang kaya mampu bersyukur, maka keduanya akan mendapatkan pahala dan keberkahan dari Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat. Tujuan hidup mereka hanyalah mengharap rida Allah SWT.

Orang-orang yang hanya mengandalkan Allah SWT inilah yang akan memperoleh kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati; bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula apa yang kamu minta.’”
(QS. Fushilat: 30–31)

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Barang siapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sungguh sempurnalah imannya.”

Karena itu, agar memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, marilah kita hanya menggantungkan diri kepada Allah SWT, bukan kepada selain-Nya.