Breaking News

Beragam Fenomena Mudik Lebaran

Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  (Pengamat Hukum dan Sosial)

Jendelakita.my.id. - Tradisi mudik Lebaran dapat kita saksikan setiap tahun, khususnya menjelang Hari Raya Idulfitri. Fenomena ini dapat diamati dari berbagai sisi, baik sosial budaya maupun nilai religius.

Fenomena tersebut tidak hanya dilakukan oleh para pemudik, tetapi juga melibatkan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Pemerintah menyiapkan angkutan mudik Lebaran gratis, baik melalui jalur laut maupun darat. Bahkan, untuk pertama kalinya TNI Angkatan Laut menyediakan angkutan menggunakan kapal perang menuju Kepulauan Bangka Belitung dengan waktu tempuh sekitar 24 jam.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga melepas sejumlah bus dari halaman Griya Agung menuju beberapa kota di Pulau Jawa. Namun demikian, program mudik Lebaran juga dihadapkan pada permasalahan kemacetan yang cukup parah hingga mencapai puluhan kilometer, seperti yang terjadi di beberapa titik, misalnya jalur Jambi–Sumatera Selatan, sebagaimana diberitakan di media sosial, media massa, maupun televisi.

Dari sisi religius, fenomena ini tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan. Kegiatan mengunjungi orang tua dan kerabat di kampung halaman mencerminkan nilai kebersamaan serta mempererat silaturahmi dengan saling memaafkan.

Fakta tersebut sejalan dengan teori dalam ilmu hukum adat yang menyatakan bahwa hukum adat suatu masyarakat tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan (teori resepsi). Hukum adat juga dapat dipahami sebagai hukum asli Indonesia yang tidak tertulis dalam bentuk peraturan perundang-undangan, tetapi dipengaruhi oleh nilai-nilai agama.

Dari sisi ekonomi, mudik juga memberikan dampak positif bagi masyarakat desa atau dusun. Pada umumnya, para perantau yang pulang kampung dipandang sebagai individu yang berhasil di kota, sehingga kehadiran mereka turut menggerakkan ekonomi lokal, baik melalui pemberian Tunjangan Hari Raya (THR), zakat fitrah, zakat mal, maupun bentuk lainnya.

Berbagai fenomena tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak berwenang, khususnya pemerintah pusat dan daerah, untuk terus melakukan perbaikan fasilitas penunjang. Hal ini penting agar pada masa mendatang perjalanan para pemudik dapat berlangsung lebih lancar tanpa kendala, seperti kemacetan di jalan tol, penumpukan kendaraan di pelabuhan penyeberangan akibat keterbatasan armada, serta manajemen lalu lintas yang belum optimal.