Memutus Hubungan dengan Manusia
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita.my.id. - Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah mengatakan, “Putuskanlah hubunganmu dengan sesama makhluk dengan izin Allah Swt., bukan karena hawa nafsu.” Allah Swt. berfirman:
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Al-Ma’idah: 23).
Demikian pula dengan segala bentuk keinginanmu terhadap takdir Allah Swt. Jika telah demikian, engkau layak menjadi wadah bagi ilmu Allah Swt. Tanda kefanaanmu (putusnya ketergantungan) terhadap sesama makhluk adalah terputusnya hubungan batinmu dari mereka, yaitu tidak lagi bergantung dalam mengharapkan kebaikan dari mereka serta tidak berputus asa atas apa yang mereka perbuat.
Adapun tanda kefanaanmu dari hawa nafsu adalah meninggalkan upaya yang berlebihan untuk memperoleh manfaat maupun menghindari bahaya, serta tidak bergantung sepenuhnya pada sebab-sebab dari kedua hal tersebut. Maka janganlah engkau menggerakkan dirimu secara berlebihan dalam mengejar manfaat dan menolak bahaya.
Jangan pula terlalu berpegang pada diri sendiri, membela diri sendiri, atau bahkan melarikan diri dari kenyataan. Pasrahkan semuanya kepada Allah Swt., karena sesungguhnya Dia-lah yang menguasai segala sesuatu, baik di awal maupun di akhir. Allah Swt. adalah Zat tempat bersandar sejak engkau berada dalam rahim, masa kecil, hingga saat disusui dalam buaian.
Sedangkan tanda kefanaanmu dari segala keinginan yang tunduk pada takdir Allah Swt. adalah ketika engkau tidak lagi memiliki keinginan pribadi, tujuan duniawi, ataupun kehendak selain kehendak-Nya. Engkau tidak menginginkan apa pun selain iradah Allah. Bahkan ketentuan-Nya berlaku sepenuhnya dalam dirimu.
Pada akhirnya, engkau akan selalu berada dalam naungan Allah dan takdir-Nya, dengan anggota tubuh yang tenang, hati yang tenteram, dada yang lapang, wajah yang bersinar, serta merasa cukup dengan Sang Pencipta. Engkau tidak lagi membutuhkan selain-Nya. Kekuasaan-Nya akan membolak-balikkan keadaanmu.
Seruan zaman azali akan senantiasa memanggilmu. Sang Pemilik agama akan mengajarkanmu, menghiasimu dengan cahaya iman, dan menempatkanmu pada derajat orang-orang berilmu yang utama. Setelah itu, engkau akan menjadi pribadi yang terlepas dari keinginan duniawi. Dalam dirimu tidak tersisa syahwat maupun keinginan lainnya, seperti tanah retak yang tidak dapat menampung air.
Engkau akan bersih dari sifat-sifat manusiawi yang tercela. Batinmu tidak akan menerima apa pun kecuali iradah Allah Swt. Dalam qadar Allah terdapat kebaikan dan keburukan, namun Allah akan menjagamu dari keburukan dan memasukkanmu ke dalam samudra kebaikan takdir-Nya.
Qadar menjadi sumber segala kebaikan, kenikmatan, kebahagiaan, cahaya, dan ketenangan. Fana’ sebagai tujuan akhir merupakan puncak perjalanan para wali, yaitu istiqamah yang senantiasa mereka cari.
Adapun para nabi dijaga dari hawa nafsu. Sementara makhluk Allah lainnya, baik manusia maupun jin yang mukalaf, tidak terlepas dari keinginan dan hawa nafsu.
(Rangkuman dari kitab Futuh al-Ghaib)
