Pola Asuh dan Lingkungan, Dua Faktor yang Membentuk Sifat Anak
Tulisan oleh : Daiyan Akhtar Abidtama
(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)
Jendelakita.my.id. - Kehidupan manusia tidak semata-mata berlangsung dari bayi, remaja, dewasa, kemudian berakhir dengan kematian. Dalam pandangan agama, manusia hidup untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan serta berperilaku baik terhadap sesama. Namun, jika dipikirkan lebih mendalam, muncul pertanyaan tentang untuk apa manusia hidup jika pada akhirnya akan tiada. Pertanyaan tersebut tidak akan dibahas kali ini. Tulisan ini akan menyinggung mengenai beberapa hal yang dapat memengaruhi sifat dan karakter seseorang.
Semuanya dapat dimulai sejak bayi. Pada tahap ini, bayi berada dalam kondisi yang sangat rentan. Seiring perkembangannya, otak bayi mulai merekam berbagai pengalaman dan rangsangan, seperti mengenali wajah ibu dan ayah, merasakan sentuhan orang tua, serta mendengar suara di sekitarnya. Oleh karena itu, pola pengasuhan memiliki pengaruh terhadap perkembangan kondisi dan perilaku bayi.
Bayangkan jika seorang bayi tumbuh dalam asuhan orang tua yang keras, sering bertengkar, atau melakukan tindakan kasar. Lebih jauh lagi, bagaimana jika bayi tersebut harus mengalami kekerasan fisik? Kondisi tersebut tentu dapat menimbulkan rasa takut, cemas, bahkan trauma. Pengalaman buruk yang dialami sejak usia dini dikhawatirkan dapat terbawa hingga anak tumbuh dan berkembang.
Ketika memasuki masa kanak-kanak, misalnya sekitar usia lima tahun, anak yang pernah mengalami kekerasan dapat menjadi lebih takut untuk bertemu atau berinteraksi dengan orang baru. Ia mungkin merasa khawatir bahwa orang lain akan memperlakukannya seperti yang dilakukan oleh “pengasuhnya”. Kondisi ini tentu berbeda dengan anak yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Perlakuan yang baik dapat membuat anak lebih percaya diri dan berani berinteraksi dengan orang lain.
Jika perjalanan perkembangan tersebut diteruskan hingga masa remaja dan dewasa, anak mulai mencari serta mengenali jati dirinya. Pada tahap ini, dukungan orang tua menjadi hal yang penting. Ketika seorang anak tidak mendapatkan tanggapan, perhatian, atau justru menerima perlakuan yang membuatnya merasa tidak nyaman, ia dapat menjadi lebih tertutup. Kondisi tersebut dapat membuat anak kesulitan memahami dirinya sendiri dan pada akhirnya berpengaruh terhadap kehidupannya di masa depan.
Dukungan dan pendampingan orang tua sangat penting bagi kesehatan mental anak. Pola asuh memang menjadi salah satu faktor yang berperan dalam membentuk sifat anak. Namun, ada faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu lingkungan sekitar.
Kenakalan remaja dapat ditemukan di berbagai lingkungan. Pergaulan bebas, kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman keras, serta balap liar merupakan beberapa contoh perilaku yang dapat memberikan pengaruh kepada remaja lainnya. Selain itu, kondisi lingkungan tempat seseorang tumbuh juga dapat memengaruhi karakter dan kebiasaannya. Sifat seseorang yang tinggal di wilayah pesisir pantai, misalnya, dapat memiliki perbedaan dengan seseorang yang tumbuh di daerah dataran tinggi karena adanya perbedaan lingkungan dan pengalaman hidup.
Lalu, bagaimana cara membentuk atau mengubah sifat diri? Misalnya, bagaimana seseorang yang cenderung menutup diri dan antisosial dapat menjadi lebih mudah bergaul dengan orang lain?
Mengubah kebiasaan dan sifat bukanlah hal yang mudah jika dilakukan seorang diri. Namun, tekad dari dalam diri tetap menjadi langkah awal yang penting. Seseorang dapat mulai dengan mencari teman yang dapat dipercaya atau meminta bantuan dari orang yang memiliki kemampuan dan keahlian untuk mendampinginya dalam menghadapi persoalan tersebut.
Pada dasarnya, sifat manusia dapat diibaratkan seperti adonan yang mudah dibentuk. Akan tetapi, ketika adonan tersebut sudah terbentuk dengan tidak baik, membentuknya kembali tentu membutuhkan usaha dan proses yang lebih sulit.