Breaking News

Nirempati?


Tulisan oleh : Dian Yuvita Sari  (Guru SMA Negeri Tugumulyo)

Nirempati?

Ya, seseorang terkadang selalu menganggap dirinya paling benar dan melihat orang-orang di sekitarnya sebagai pihak yang salah. Seseorang yang gemar memaki dan menghakimi orang lain, apakah sikap seperti itu dapat dibenarkan?

Ketika sebuah persoalan kecil terus dibesar-besarkan, apakah benar itu sebuah kesalahan? Atau mungkin, sebenarnya bukan sebuah kesalahan sama sekali?

Jari begitu mudah menunjuk ke depan. Namun, bisakah sekali saja jari itu diarahkan ke belakang, tepat ke dada sendiri, sekadar untuk melakukan koreksi diri?

Berapa banyak orang yang pernah terluka oleh lisannya? Berapa banyak orang yang pulang sambil menyeka air mata karena ucapan yang diterimanya? Sering kali, seseorang tidak menyadari bahwa tindakan dan perkataannya telah menyakiti orang lain. Cobalah sekali saja menempatkan diri pada posisi orang yang disakiti.

Namun, entahlah. Ada yang tetap berlindung di balik argumen, "emang saya orangnya seperti ini". Orang lain dituntut untuk selalu memahami dirinya, sementara ia sendiri tidak berusaha memahami orang lain. Bahkan yang lebih menyakitkan, ia tidak pernah menyadari bahwa perbuatannya berulang kali melukai hati orang-orang di sekitarnya.

Ketika rasa benci telah tertanam begitu dalam di hati, apa pun yang berkaitan dengan orang yang dibenci akan terasa menyebalkan dan menjengkelkan. Pada akhirnya, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk memahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan.

Bukankah nasihat yang disampaikan dengan lembut akan lebih mudah diterima daripada kata-kata cacian?

Jangan sampai seseorang malas datang karena sikap kita. Jangan sampai ada hati yang terluka atau air mata yang jatuh hanya karena ucapan yang tidak kita pikirkan sebelum mengatakannya. Jangan sampai seseorang mengadu dan mengangkat kedua tangannya di sepertiga malam karena perbuatan kita.

Pada akhirnya, mungkin akan ada seseorang yang memilih menjauh dan menyendiri dalam kesepian. Bukan karena sombong, melainkan karena ingin memberikan waktu kepada hatinya untuk kembali pulih.

Ia tidak lagi sibuk mencari validasi. Ia memilih ketenangan dan tidak memaksa orang lain untuk menyukainya. Sebab, pada kenyataannya, kita tidak selalu menjadi bagian penting dalam kehidupan orang lain.

Jadi, bersikaplah sewajarnya. Belajarlah memahami sebelum menghakimi dan mengoreksi diri sebelum menunjuk kesalahan orang lain.