Dunia yang Membingungkan
Tulisan oleh : Sekar Destia Sari
(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)
Jendelakita.my.id. - Pada hari Rabu, 19 September 2026, saya bersiap untuk pergi ke sekolah. Saya merasa sangat senang karena di sekolah saya dapat bertemu dengan teman-teman. Namun, ada beberapa hal yang membuat saya merasa kurang nyaman.
"Hal apa itu?"
Ketika berada di kelas, saya merasa kurang nyaman karena beberapa teman bermain secara berkelompok atau membuat circle. Padahal, orang yang sama pernah mengatakan, "jangan ada yang circle an di kelas ya inget semua teman". Namun, perkataan tersebut justru tidak dilakukan oleh dirinya sendiri.
Meskipun merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut, saya berusaha untuk tetap semangat belajar. Saya menyadari bahwa tidak semua hal harus dipikirkan secara berlebihan. Saya juga memilih berteman dengan siapa saja yang mau berteman dengan saya. Bagi saya, pertemanan tidak seharusnya dibatasi dengan memilih-milih teman.
Selain masalah pertemanan, terkadang saya juga merasa kurang nyaman karena suara beberapa teman yang terlalu keras di dalam kelas.
"Kenapa begitu?"
Ketika beberapa teman sedang bercerita dengan suara yang tidak terlalu keras, ada orang yang justru berteriak dan menyuruh mereka diam. Namun, tidak lama kemudian, suara orang tersebut malah terdengar paling keras dan memenuhi ruangan. Ketika ada teman lain yang meminta agar volume suaranya dikecilkan, ia juga tidak menghiraukannya.
Sejujurnya, saya memang merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Bahkan, terkadang muncul keinginan dalam diri saya untuk pindah kelas. Kelas mana pun sebenarnya tidak menjadi masalah bagi saya.
Namun, saya kembali berpikir bahwa saya hanya akan berada di kelas ini selama satu tahun. Saya tidak akan selamanya berada di SMA bersama orang-orang yang sama. Karena itu, saya berusaha menerima perbedaan sifat yang dimiliki setiap orang.
Saya menyadari bahwa tidak semua orang harus selalu memahami diri saya. Di sisi lain, mungkin justru saya yang perlu belajar memahami sifat dan karakter mereka yang berbeda-beda. Dengan begitu, saya berharap dapat menjalani kehidupan di kelas dengan lebih sabar dan tetap bersemangat.