Breaking News

Berpikir Itu Melelahkan?


 Tulisan oleh : Daiyan Akhtar Abidtama

(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)

Jendelakita.my.id. - Kita semua tentu pernah melakukannya. Saat sedang merenung, belajar, menulis, melamun, atau melakukan berbagai aktivitas lainnya, kita tidak pernah lepas dari proses berpikir. Namun, sebenarnya, apa esensi dari berpikir itu sendiri?

Seperti yang kita ketahui, berpikir merupakan proses ketika seseorang menggunakan akalnya secara sadar untuk mempertimbangkan, memahami, atau menentukan sesuatu. Lalu, apa yang sebenarnya kita dapatkan atau rasakan dari proses tersebut?

Banyak orang yang dapat larut begitu dalam pikirannya. Sebagai gambaran, kita bisa melihat seseorang yang sedang bermain catur. Seorang pemain catur tidak hanya memikirkan satu atau dua langkah yang akan diambil, tetapi juga memperhitungkan kemungkinan beberapa langkah ke depan. Melelahkan? Bisa jadi.

Seseorang yang terlalu larut dalam pikirannya dan memilih diam bisa saja merasa terjebak oleh pikirannya sendiri. Ia mungkin tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan atau membicarakan apa yang ada di dalam kepalanya. Kondisi tersebut dapat membuatnya mengalami kebuntuan. Ibarat seorang pemain catur, ia mampu memikirkan berbagai kemungkinan langkah ke depan, tetapi bidaknya tetap diam di petaknya.

Menurut saya, berpikir terkadang memang sangat melelahkan. Bagi mereka yang kesulitan mengungkapkan isi pikirannya melalui suara, tulisan dapat menjadi salah satu cara untuk menuangkannya. Saya sendiri sudah merasakan efeknya. Overthinking dan stres menjadi hal yang tidak asing bagi orang yang memiliki mental issue.

Karena itu, ketika tidak mampu membicarakan semuanya dengan orang lain, biarlah tulisan menjadi tempat untuk mengabadikan segala sesuatu yang ada di dalam pikiran. Hal tersebut seperti mengeluarkan keluh kesah, tetapi bukan manusia yang mendengarkannya, melainkan secarik kertas yang menjadi tempat untuk menumpahkan semua perasaan dan pikiran.

Sama seperti permainan catur, ketika kita berhasil menyudutkan pikiran sendiri hingga tidak lagi memiliki ruang untuk bergerak ke mana-mana, mungkin saat itulah kita mencapai skakmat. Kita berhasil memenangkan pertarungan dalam proses berpikir.