Breaking News

Pembatal-Pembatal Amal Ibadah


 Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  

Jendelakita.my.id. - Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada penutup para nabi dan rasul. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang Haq) kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Kebahagiaan abadi seorang hamba terletak di surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Namun, seseorang tidak akan mampu meraihnya kecuali dengan ibadah yang dibangun di atas dasar ilmu (bashirah). Karena itu, seorang Muslim harus senantiasa membenahi niat, memperbaiki amal, serta mengikuti (ittiba) As-Sunnah.

Selain itu, seseorang perlu terus melakukan muhasabah terhadap dirinya. Hal ini penting karena bisa saja seseorang telah banyak melakukan amal saleh, tetapi kemudian melakukan sesuatu yang dapat membatalkan amal tersebut tanpa disadarinya.

Para as-Salaf ash-Shalih sangat takut apabila amal mereka terhapus, sementara mereka tidak menyadarinya. Allah SWT berfirman;

Sesungguhnya orang orang yang sangat takut akan azab Rabb mereka adalah orang orang yang sangat berhati-hati, orang orang yang beriman dengan ayat ayat Rabb mereka, orang orang yang tidak mempersekutukan Rabb mereka dengan sesuatu apapun dan orang orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka takut ( karena mereka tahu bahwa) mereka akan kembali kepada Rabb mereka ( Al Mu'minun : 57-60).

Aisyah Radhiallahu Anhu bertanya kepada Rasulullah Saw tentang ayat ini, ( dan orang orang yang memberikan sesuatu yang telah mereka berikan sedang hati mereka takut). Aisyah Radhiallahu Anhu bertanya apakah mereka itu adalah mereka yang meminum khamar dan mencuri?. Rasulullah Saw menjawab, bukan, wahai putri ash- Shiddiq. Namun , mereka itu adalah orang orang yang berpuasa, sholat dan bersedekah, sedangkan hati mereka takut bila amal amal mereka tidak diterima. Mereka itu adalah orang orang yang bersegera dalam kebaikan ( HR, Achmad, At-Tirmidzi dan Al Hakim, sera dihasankan oleh Salim Al Halili.

Rasa takut terhadap tidak diterimanya amal justru mendorong mereka untuk semakin berlomba-lomba dalam kebaikan dan bersungguh-sungguh melakukan kebajikan.

Abdullah bin Abi Mulaikah, seorang tabiin, berkata. Aku mendapati tiga puluh orang dari sahabat Nabi Muhammad Saw mereka semua takut kemunafikan ( terjadi) pada diri mereka. Diriwayatkan oleh Al Buchori secara mu'allaq di dalam shahih (Al-Fath 1/109) dan diriwayatkan secara maushul dalam riwayat Abu -Zur'ah dalam Tarikh Dimaksud.

Setelah menyebutkan sebagian sahabat yang pernah dijumpai Ibnu Abi Mulaikah di dalam Al-Fath, Al-Hafizh berkata. Yang dimaksud itu, karena orang mukmin kadang muncul padanya sesuatu yang dapat mencemari di dalam amalnya sendiri dari perkara perkara yang ikhlas.

Dalam pandangan mazhab salaf ash-shalih mengenai pembatal-pembatal amal, pembatalan yang bersifat hakiki adalah pembatalan iman secara keseluruhan, seperti kufur, syirik, riddah (murtad), dan nifak.

Sementara itu, pembatalan yang bersifat nisbi tidak menghapus iman secara keseluruhan. Contohnya adalah batalnya sebagian ibadah akibat perbuatan maksiat atau berkurangnya pahala karena sebab-sebab tertentu.

Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya senantiasa menjaga keimanan, keikhlasan, dan amal ibadahnya. Muhasabah diri menjadi bagian penting agar amal kebaikan yang telah dilakukan tidak rusak atau berkurang nilainya karena perbuatan yang tidak disadari.