Kemana Lagi Kita Harus Berharap?
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. (Pengamat politik dan hukum)
Jendelakita.my.id. - Tulisan ini bagaikan bait-bait lagu yang dilantunkan oleh seorang penyanyi di atas sebuah panggung pentas.
Kalaupun mau diulas dari sebuah untaian kata atau kalimat, tulisan ini bagaikan sebuah puisi yang menceritakan kehidupan manusia yang sudah putus harapan, laksana sebuah jalan yang berakhir dengan kebuntuan. Tidak ada lagi yang bisa menjadi harapan untuk hidup sejahtera lahir dan batin, sebagaimana ditulis dengan tinta emas bahwa negara bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan kemakmuran rakyat Indonesia yang berkeadilan.
Renungan isi hati yang hampir putus asa ini muncul ketika bulan depan kita akan memasuki usia kemerdekaan yang ke-81 tahun. Namun, mayoritas warga negara Indonesia masih merasakan bahwa kehidupan belum benar-benar baik.
Tekanan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pokok masih dirasakan sangat berat sebagai dampak dari situasi dan kondisi yang belum berpihak kepada rakyat miskin.
Namun, di sisi lain, oknum-oknum yang memiliki kekuasaan dengan senyum terus menguras harta kekayaan negara yang seharusnya menjadi milik rakyat Indonesia sebagai rahmat Allah bagi bangsa dan negara Indonesia.
Beberapa hari ini, setidaknya pada tahun ini, kita merasa sedih dan pilu menyaksikan tayangan televisi nasional tentang peristiwa terjadinya OTT yang terjadi hampir di semua lembaga negara, mulai dari daerah hingga pusat.
Pertanyaannya, di mana letak kesalahannya? Dilihat dari sisi hukum, hal ini merupakan dampak dari penegakan hukum yang kurang efektif. Antara lain, lemahnya sanksi bagi pelaku (Korupsi), jika dibandingkan dengan negara-negara yang menerapkan hukuman mati.
Seandainya hukuman mati, khususnya bagi koruptor, dilaksanakan secara tegas tanpa pilih kasih, PASTI korupsi di Indonesia akan berangsur menurun. Pada akhirnya, tidak akan ada lagi oknum-oknum kotor yang berani melakukannya.
Dalam situasi yang demikian, kita sebagai manusia Indonesia bertanya, ke mana atau kepada siapa tempat kita mengadu, karena tampaknya hampir dari semua mata angin orang lebih memikirkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya masing-masing.
Di sisi lain, rakyat harus tetap hidup dalam kesusahan dan ketakutan. Setiap gerak dan aktivitas seolah diiringi oleh kewajiban membayar pajak.
Benar adanya pesan video yang beredar mengatakan: kalau pemerintah gagal memberantas korupsi, rakyat tidak usah membayar pajak.
