Yang Kaya Semakin Kaya, Yang Miskin Semakin Miskin
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. (Pengamat sosial dan budaya)
Jendelakita.my.id. - Judul tulisan ini mengingatkan kita pada sebuah lagu legendaris yang dipopulerkan oleh Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama. Lagu yang populer pada era 1980-an tersebut seolah tetap relevan hingga hari ini. Menariknya, pada Mei lalu Rhoma Irama sempat berkunjung ke sebuah kota di kaki Gunung Dempo untuk menghibur para tamu dalam sebuah pesta pernikahan. Dari situlah penulis kembali teringat pada lirik yang sarat makna tersebut: "Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin."
Beberapa peristiwa yang terjadi pada awal Juni 2026 membuat penulis merenungkan kembali makna kalimat tersebut. Melalui pemberitaan media massa dan media sosial, masyarakat disuguhi berbagai kabar mengenai penangkapan dan penahanan sejumlah pejabat negara yang diduga terlibat dalam tindak pidana korupsi maupun penyalahgunaan kewenangan.
Setidaknya terdapat beberapa peristiwa penting yang menjadi perhatian publik. Pertama, penetapan sejumlah tersangka oleh Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terjadi hampir dalam waktu bersamaan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa praktik korupsi masih menjadi tantangan serius dalam tata kelola pemerintahan.
Di Sumatera Selatan, Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan juga menetapkan seorang wakil bupati bersama beberapa pejabat daerah sebagai tersangka dalam perkara yang diduga merugikan pihak lain maupun keuangan negara. Kasus ini menambah panjang daftar pejabat publik yang harus berhadapan dengan proses hukum.
Tidak hanya itu, Kejaksaan Agung juga melakukan penahanan terhadap mantan pimpinan Badan Gizi Nasional. Sementara itu, berbagai informasi yang beredar di ruang publik menyebutkan bahwa lembaga yang mengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki anggaran yang sangat besar. Besarnya anggaran negara tersebut seharusnya menjadi amanah yang dikelola secara transparan dan akuntabel demi kepentingan masyarakat.
Pada saat yang hampir bersamaan, KPK juga menetapkan dan menahan sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, termasuk seorang wakil menteri, pejabat direktorat jenderal, hingga pejabat wilayah yang diduga terlibat dalam perkara hukum tertentu. Peristiwa-peristiwa tersebut semakin memperkuat kesan bahwa sebagian pihak yang telah memiliki kekuasaan dan akses terhadap sumber daya justru berupaya memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi.
Gambaran tersebut seolah mencerminkan bagian pertama dari ungkapan "yang kaya semakin kaya". Namun, akan terasa tidak adil apabila kita hanya melihat sisi tersebut tanpa memperhatikan realitas masyarakat kecil yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Di tengah suasana Hari Raya Iduladha, terdapat kisah yang sangat menyentuh. Sepasang suami istri lanjut usia menerima daging kurban sebagai bagian dari hak mereka. Namun, sambil meneteskan air mata, mereka justru mengembalikan daging tersebut kepada pemberi kurban. Alasannya sederhana tetapi menyayat hati: mereka tidak memiliki biaya untuk membeli bumbu dan kebutuhan lain yang diperlukan agar daging tersebut dapat diolah dan dinikmati bersama keluarga.
Kisah lainnya datang dari Gresik. Beberapa penerima daging kurban memilih menjual kembali daging yang mereka terima. Bukan karena tidak membutuhkan makanan, melainkan karena kebutuhan yang lebih mendesak adalah uang tunai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, pilihan tersebut menjadi jalan yang mereka anggap paling realistis.
Dua kisah sederhana tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan kekurangan makanan, tetapi juga keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar yang lebih luas. Ketika seseorang tidak mampu membeli bumbu untuk mengolah daging kurban atau terpaksa menjualnya demi memenuhi kebutuhan harian, maka kemiskinan telah berada pada titik yang sangat memprihatinkan.
Di satu sisi, kita menyaksikan kasus-kasus yang melibatkan pengelolaan anggaran bernilai miliaran rupiah. Di sisi lain, masih ada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup paling mendasar. Kontras inilah yang membuat lirik lagu Rhoma Irama terasa begitu aktual hingga hari ini.
Pada akhirnya, ungkapan "yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin" bukan sekadar judul lagu, melainkan sebuah refleksi sosial yang mengingatkan kita bahwa pembangunan dan pertumbuhan ekonomi harus mampu menghadirkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. Sebab, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari besarnya anggaran dan megahnya pembangunan, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan kesejahteraan bagi mereka yang paling membutuhkan.
Semoga kita semua diberikan kepekaan sosial untuk melihat, memahami, dan bersama-sama mencari solusi atas berbagai persoalan ketimpangan yang masih terjadi di negeri tercinta ini.
