Breaking News

Kuasa Algoritma dan Dangkalnya Makna dalam Fenomena Viral



Penulis : Wawan Sopiyan, S.Kom.I., M.I.Kom (Ketua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam STAI Bumi Silampari Lubuklinggau)

Jendelakita.my.id. - Viralitas bukan lagi sebuah kebetulan, melainkan hasil rekayasa digital yang mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi. Media sosial telah bergeser dari alat komunikasi menjadi panggung amplifikasi masal. Fenomena ini membawa dampak ganda, membuka ruang demokrasi digital sekaligus mengikis kedalaman berpikir masyarakat.

Viralitas memiliki sisi positif berupa kekuatan besar untuk menciptakan perubahan nyata di masyarakat. sebagai upaya menciptakan keadilan sosial. Tagar viral sering kali mempercepat proses hukum yang sebelumnya lambat atau diabaikan (fenomena no viral, no justice). menciptakan solidaritas global, Penggalangan dana massal dan bantuan kemanusiaan dapat terkumpul dalam hitungan jam berkat penyebaran yang cepat. mengakomodir suara kelompok minoritas, media sosial memberikan panggung bagi individu yang tidak memiliki akses ke media mainstream untuk menyuarakan ketidakadilan.

Meski demikian viralitas juga memiliki sisi negatif karena memberikan dampak  berupa pendangkalan narasi dan manipulasi. di balik kecepatan informasi tersebut, terdapat konsekuensi sistemik yang merugikan kualitas ruang publik. Matinya Validasi Data: Kecepatan menjadi lebih utama daripada kebenaran, sehingga hoaks dan disinformasi sangat mudah menyebar. secara sistemik muncullah fenomena eksploitasi emosi, Algoritma media sosial dirancang untuk memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat seperti kemarahan, ketakutan, atau kontroversi. Efek kejut sesaat, Kebanyakan fenomena viral hanya bertahan beberapa hari, menciptakan masyarakat yang cepat peduli namun cepat lupa (short attention span). 


Media sosial telah merevolusi distribusi informasi, namun pergeserannya menjadi media berita utama sering kali memicu hiperbola digital yang merugikan publik. Saat algoritma dan monetisasi berbasis klik (clickbait) mendikte ruang redaksi digital, jurnalisme warga dan akun informasi media sosial kerap terjebak dalam dramatisasi peristiwa. Akibatnya, esensi berita tenggelam dalam lautan sensasi.

Kita menyaksikan bersama begitu banyak media sosial yang bertransformasi menjadi media berita cenderung melebih-lebihkan berita. hal ini tidak dapat di pungkiri karena cara kerjanya memang dituntut demikian. Algoritma memprioritaskan konten yang memicu reaksi emosional ekstrem demi mendapatkan interaksi (views, likes, shares). Komodifikasi tragedi, Peristiwa tragis atau kontroversial sering kali dikemas dengan judul bombastis untuk memancing empati atau kemarahan instan. Kecepatan Mengalahkan Akurasi, Demi menjadi yang pertama mengunggah (upload), proses verifikasi dan cek fakta berlapis sering kali diabaikan. meski demikian jika pemilik media berita atau wartawan memiliki pengetahuan jurnalistik yang mapan dan taat terhadap kode etik jurnalistik (KEJ) media berita akan berjalan tetap pada rel yang telah di tentukan.

Media berita sebaiknya memberitakan sebuah peristiwa secara wajar, tidak berlebihan dengan melakukan amplifikasi atau penekanan yang lebih besar pada suatu isu, informasi, atau narasi berita. amplipikasi berdampak buruk berupa kelelahan mental publik, Paparan konstan terhadap berita buruk yang didramatisasi memicu kecemasan masal dan doomscrolling bagi pengguna. Penghakiman Massa (Trial by Social Media), Pemberitaan sepihak yang dilebih-lebihkan dapat menghancurkan reputasi seseorang sebelum ada keputusan hukum yang sah. Kaburnya fakta objektif, Informasi penting dan edukatif tertutup oleh narasi sensasional yang sebenarnya tidak substantif.

Media sosial dan viralitas adalah alat yang netral; kualitasnya bergantung pada literasi penggunanya. Selama masyarakat masih mengukur kebenaran berdasarkan jumlah penayangan (views) dan tanda suka (likes), ruang publik kita akan terus didominasi oleh sensasi digital yang dangkal. Kita perlu bertransisi dari sekadar netizen yang reaktif menjadi warga digital yang kritis.