Jangan Jadi Tawanan Dosa
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita.my.id. - Setiap orang yang mempunyai akal sehat dan hati nurani yang bersih tentu takut akan akibat maksiat dan perbuatan dosa. Dosa adalah racun yang mematikan nurani. Dosa berdampak buruk bagi pribadi maupun masyarakat. Akibat pahit dari maksiat berlipat ganda dibandingkan dengan rasa manisnya.
Sesungguhnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya tidak mengenal istilah nepotisme atau kekerabatan. Allah Swt. Maha Adil dalam keputusan-Nya. Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, tetapi Dia juga memiliki azab yang sangat pedih. Maka, waspadalah. Untuk menghilangkan ketergantungan hati terhadap dosa dan maksiat, berikut langkah-langkah yang dapat ditempuh.
Pertama, di antara penyebab seseorang melakukan dosa adalah kelalaian, sedangkan penawarnya adalah ilmu. Oleh karena itu, seorang hamba yang hendak bertobat harus meniti jalan hidayah dengan cara menuntut ilmu, mengajarkannya, mendakwahkannya, dan mengamalkannya. Dia juga harus meyakini bahwa dosa itu berbahaya dan wajib ditinggalkan. Selain itu, dia harus senantiasa mengingat peringatan Al-Qur'anul Karim serta ancamannya terhadap para pelaku maksiat, dan merenungkan segala azab serta bencana yang telah menimpa para penentang Allah pada setiap zaman akibat dosa yang mereka perbuat.
Jika penyebabnya adalah syahwat dan rayuan nafsu, maka penawarnya adalah bersabar dalam rangka mengharap pahala di sisi Allah. Tidak ada hal yang lebih baik bagi seorang hamba untuk memadamkan api amarah dan syahwat selain dengan wudu dan salat. Oleh sebab itu, hendaklah ia berwudu, melaksanakan salat, dan mengisi waktu dengan ketakwaan, membersihkan jiwa dengan ketaatan, menyucikan diri dari akhlak yang buruk, serta menyingkirkan perangai yang tercela.
Kedua, berpegang teguh pada agama Allah. Siapa yang berpegang teguh pada agama Allah dan bersandar kepada-Nya dalam setiap keadaan, maka Allah akan melindungi dan membantunya mengalahkan kedua musuhnya, yaitu hawa nafsu dan setan yang terkutuk. Allah tidak akan pernah menghinakannya selama-lamanya.
Allah berfirman, " Siapa yang berpegang teguh kepada ( agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus ( QS, Ali Imran ayat 101).
Kemudian, dia harus berpegang kepada tali Allah, yaitu Al-Qur'anul Karim, mengamalkan perintah dan hukum-hukumnya, menjadikannya sebagai pedoman hidup, selalu merenungkannya, serta mengambil pelajaran dari berita-berita yang tertera di dalamnya.
Ketiga, menumbuhkan rasa takut bahwa Allah mempercepat siksa-Nya di dunia, karena seorang hamba bisa terhalang dari rezeki akibat dosa yang dilakukannya. Demikian pula, hendaklah dia takut jatuh miskin atau sakit apabila tidak berhenti melakukan maksiat.
Keempat, tidak makan atau minum kecuali dari harta yang halal, sebab ibadah dapat tertolak karena makan atau minum dari sesuatu yang haram. Beribadah sambil mengonsumsi makanan haram bagaikan membangun istana di atas aliran ombak.
Kelima, terus-menerus ingat dan sadar bahwa kelak dia akan berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Pada hari itu, dia akan melihat bahwa kelezatan maksiat telah sirna, sementara hukuman atasnya telah tiba. Dengan terus mengingat hal ini, dia akan mampu menghalau hawa nafsunya, takut terhadap dosa yang diperbuatnya, dan memutus semua sebab yang dapat menjauhkannya dari Allah.
Keenam, menyadari cepatnya perjumpaan dengan Allah, sehingga pada setiap waktu dia selalu menganggap kematian akan menjemputnya. Dia membayangkan apa yang akan terjadi setelah mati. Dia ingat bahwa setelah kematian hanya ada surga dan neraka. Dia juga membayangkan kehidupan akhirat, dahsyatnya Padang Mahsyar, kerasnya siksa Allah, dan pedihnya azab-Nya.
Ketujuh, menjauhi teman yang buruk.
Kedelapan, berlindung kepada Allah dari bisikan setan.
Kesembilan, istigfar termasuk amal kebaikan yang paling besar.
Kesepuluh, menahan diri dari memandang, berbicara, dan makan secara berlebihan, serta tetap taat kepada Allah di mana pun berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan-perbuatan baik. Allah berfirman,
"Dan dirikan lah itu pada kedua tepi siang ( pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan dari pada malam. Sesungguhnya perbuatan perbuatan yang baik itu menghapus ( dosa) perbuatan perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang orang yang ingat ( QS, Hud ayat 114)."
