Yang Dibutuhkan Kail, Bukan Ikan
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. (Mantan Instruktur SP2W. Ketua Koordinator Penerima Beasiswa Supersemar Unsri)
Jendelakita.my.id. - Slogan “yang dibutuhkan adalah kail, bukan ikan” sangat populer pada era Orde Baru ketika Presiden Republik Indonesia, almarhum H. Soeharto, mencanangkan semangat pembangunan yang menekankan kemandirian bangsa dan prinsip hidup di atas kaki sendiri. Pada masa itu, berbagai program pembangunan digulirkan untuk mendorong masyarakat agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya melalui usaha dan kerja keras. Dampaknya, kehidupan masyarakat mengalami kemajuan, sementara kebutuhan sandang, pangan, dan papan relatif lebih mudah diperoleh.
Kini, semua itu telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa. Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih layak dikenang dan dijadikan bahan refleksi dalam kehidupan bernegara.
Mengapa yang diberikan harus kail, bukan ikan? Karena dengan kail, masyarakat memiliki alat untuk berusaha dan mencari rezeki secara mandiri. Mereka dapat pergi ke berbagai tempat yang memiliki sumber daya melimpah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, pemerintah berkewajiban menyediakan sarana dan prasarana yang memadai agar masyarakat dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Sebagai ilustrasi, masyarakat diibaratkan menuju tempat yang banyak ikannya. Mereka bebas memilih jenis ikan yang sesuai dengan kebutuhan dan seleranya, mulai dari ikan patin, baung, gabus, sepat, hingga ikan asin. Semua tersedia, tetapi untuk mendapatkannya diperlukan usaha, keterampilan, dan kemauan. Filosofi inilah yang dahulu menjadi dasar berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Penulis teringat pada salah satu program nasional yang pernah dicanangkan pemerintah, yaitu pembukaan lahan pertanian berskala besar di Kalimantan. Program tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk para alumni perguruan tinggi negeri maupun swasta yang didorong untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Sebelum diterjunkan ke lapangan, mereka memperoleh pelatihan dan pembekalan melalui program yang dikenal dengan nama SP2W. Sebagian besar pesertanya merupakan penerima beasiswa Supersemar.
Pelatihan dilaksanakan di berbagai daerah, antara lain di Cilodong, Jawa Barat, serta beberapa kota lain di Indonesia, termasuk Palembang dan Jambi. Setelah mendapatkan pembekalan, para peserta kemudian ditugaskan ke sejumlah kabupaten untuk menjalankan program pemberdayaan masyarakat.
Penulis yang saat itu tergabung dalam program tersebut sebagai instruktur pernah terlibat dalam pengiriman tenaga sukarelawan dari kalangan alumni penerima beasiswa Supersemar ke Kabupaten Bangka Belitung, sebelum wilayah tersebut dimekarkan menjadi provinsi tersendiri. Di daerah penugasan, para sukarelawan melatih masyarakat sesuai dengan keahlian dan potensi lokal masing-masing wilayah. Mereka mendampingi masyarakat dalam berbagai kegiatan produktif selama beberapa waktu, bahkan ada yang akhirnya menetap, membangun keluarga, dan berasimilasi dengan masyarakat setempat.
Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, bangsa Indonesia sedang mempersiapkan generasi penerus menuju satu abad kemerdekaan atau Indonesia Emas 2045. Namun, berbagai tantangan juga menghadang. Salah satunya adalah bagaimana membentuk generasi yang tetap mandiri, kreatif, dan memiliki semangat berusaha di tengah kemudahan yang ditawarkan oleh perkembangan zaman.
Saat ini, berbagai program bantuan dan fasilitas disediakan bagi peserta didik, mulai dari jenjang PAUD hingga perguruan tinggi. Bahkan terdapat gagasan agar mahasiswa dapat menikmati berbagai fasilitas penunjang tanpa harus menghadapi kesulitan yang dialami generasi sebelumnya. Di satu sisi, hal tersebut merupakan bentuk perhatian negara terhadap pendidikan. Namun, di sisi lain, perlu dipastikan bahwa kemudahan yang diberikan tidak mengurangi semangat kemandirian, kerja keras, dan daya juang generasi muda.
Pada akhirnya, tulisan ini hanyalah sebuah refleksi dari seorang anggota generasi yang pernah mengalami masa-masa pembangunan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Bukan untuk membandingkan secara mutlak antara masa lalu dan masa kini, melainkan untuk mengingatkan bahwa nilai kemandirian tetap relevan di setiap zaman. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya mampu menyediakan "ikan" bagi rakyatnya, tetapi juga mampu membekali mereka dengan "kail" agar dapat terus bertahan, berkembang, dan sejahtera dengan usaha mereka sendiri.
