Breaking News

Tobat Menurut Istilah Syar'i


 Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  

Jendelakita.my.id. -  Tobat adalah menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan pada masa lalu, bertekad untuk tidak mengulanginya, memperbaiki kewajiban yang pernah disia-siakan, menunaikan hak-hak orang lain yang berkaitan dengan harta benda, serta membersihkan diri dari pengaruh harta haram dan syubhat. Seorang yang bertobat hendaknya merasakan kesedihan dan penyesalan yang mendalam atas dosa-dosanya, hingga tumbuh dalam dirinya semangat untuk memperbaiki kehidupan dengan rezeki yang halal dan amal yang saleh. Ia juga harus merasakan beratnya ketaatan sebagaimana dahulu merasakan kenikmatan dalam kemaksiatan.

Tobat dapat pula dimaknai sebagai kondisi seorang hamba yang sebelumnya jauh dari Allah SWT, kemudian kembali mendekat kepada-Nya. Inilah yang dimaksud dengan penyesalan yang hakiki. Rasulullah SAW bersabda, “Penyesalan adalah tobat.” Penyesalan tersebut merupakan keadaan ketika hati terasa tersayat setiap kali mengingat dosa dan kemaksiatan yang pernah dilakukan, disertai tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Tobat berarti melepaskan diri dari dosa, menyesali kesalahan masa lalu, serta berkomitmen untuk tidak melakukannya kembali pada masa yang akan datang (Risalah fi at-Taubah, hlm. 32).

Menurut Ibnu Qayyim, tobat adalah berlepas diri dari segala sesuatu yang dibenci Allah, baik secara lahir maupun batin, menuju kepada segala sesuatu yang dicintai Allah, baik secara lahir maupun batin. Semua itu terangkum dalam nilai-nilai Islam, iman, dan ihsan (Madarij as-Salikin).

Tobat berawal dari gerakan hati sebelum diucapkan oleh lisan. Tobat dimulai dengan merenungkan keindahan surga dan pahala yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertobat, serta merenungkan siksa neraka dan ancaman bagi hamba yang durhaka. Tobat juga harus disertai harapan untuk memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT. Abu Bakar Ad-Daqqaq Al-Misri berkata, “Hendaknya orang yang bertobat mengembalikan hak orang yang dizalimi, meminta kerelaan dari pemilik hak tersebut, serta terus-menerus melakukan ketaatan” (Tafsir Al-Qurthubi, Juz 18, hlm. 19).

Seseorang belum dapat dikatakan bertobat hanya karena meninggalkan perbuatan dosa. Tobat berarti kembali, menghadap, dan berinabah kepada Allah SWT, bukan sekadar meninggalkan sesuatu yang dibenci-Nya. Tobat merupakan langkah nyata seorang hamba dalam menyesali dosa-dosanya. Orang yang benar-benar bertobat akan berusaha menahan diri dari setiap bentuk kemaksiatan dan bersegera melakukan amal-amal yang dicintai Allah. Oleh karena itu, seseorang yang hanya meninggalkan dosa tanpa kembali kepada Allah dan tanpa memperbanyak ketaatan belum sepenuhnya dapat disebut sebagai orang yang bertobat.

Allah SWT berfirman:

"Dan (Hud berkata), 'Wahai kaumku! Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.'" (QS. Hud: 52).

Ayat ini menunjukkan bahwa istigfar dan tobat merupakan sebab datangnya keberkahan, kekuatan, serta pertolongan dari Allah SWT (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4, hlm. 231; Tafsir Al-Qurthubi, Juz 9, hlm. 35).

Allah SWT juga berfirman:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222).

Ayat ini menegaskan bahwa tobat merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa memperbarui tobatnya, memperbaiki amalnya, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT agar memperoleh ampunan, rahmat, dan ridha-Nya.