Syarat-Syarat Tobat
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita.my.id. - Tobat merupakan salah satu amal kebajikan yang paling agung dalam Islam. Melalui tobat, tembok penghalang berupa syahwat dan syubhat yang berdiri kokoh antara seorang hamba dengan Tuhannya dapat dihancurkan. Manusia yang membiarkan jiwanya dikuasai oleh syahwat dan syubhat tidak akan merasakan ketenangan dan ketenteraman. Hanya dengan bertobat kepada Allah SWT seseorang dapat memperoleh ketenangan jiwa, ketenteraman hati, kebahagiaan hidup, serta kemuliaan di akhirat kelak.
Namun demikian, agar tobat diterima oleh Allah SWT, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi sebagai bukti kejujuran seorang hamba dalam bertobat.
Pertama, ikhlas. Allah SWT tidak menerima amal seorang hamba kecuali amal tersebut dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena mengharap rida-Nya, mengharapkan wajah-Nya, sesuai dengan perintah-Nya, dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Amal yang benar tetapi tidak disertai keikhlasan tidak akan diterima. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak sesuai dengan tuntunan syariat juga tidak akan diterima.
Dalam hal ini, Umar bin Khattab RA pernah berdoa:
"Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang saleh. Jadikanlah amal itu ikhlas hanya untuk-Mu, dan jangan Engkau jadikan sedikit pun darinya untuk selain-Mu."
Ikhlas dalam bertobat berarti tujuan seorang hamba bertobat hanyalah untuk mencari rida Allah SWT, berharap agar Dia menerima tobatnya dan mengampuni dosa-dosanya, bukan untuk mendapatkan pujian atau sanjungan manusia.
Kedua, meninggalkan maksiat. Jiwa yang masih terbuai oleh kenikmatan maksiat akan sangat sulit melakukan kebaikan dengan ikhlas. Oleh karena itu, seorang hamba yang bertobat harus berusaha memerangi hawa nafsunya dan mencabut akar-akar keburukan dari hatinya agar amal saleh dapat terwujud dan diterima oleh Allah SWT.
Apabila maksiat yang dilakukan berupa perbuatan haram, maka ia wajib segera meninggalkannya. Jika yang ditinggalkan adalah kewajiban, maka kewajiban tersebut harus segera dilaksanakan. Apabila termasuk ibadah yang dapat diqadha, maka hendaknya segera diqadha. Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya dengan mengembalikan hak tersebut kepada pemiliknya atau meminta kerelaan dan penghalalan darinya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tobat juga mencakup penyesalan atas sikap meremehkan perintah Allah, kelalaian dalam berbuat kebaikan, perbuatan yang disangka baik ternyata buruk sebagaimana yang terjadi pada sebagian ahli bid'ah, serta perasaan ujub, yaitu merasa telah beribadah secara sempurna karena kekuatan dirinya sendiri. Padahal, semua kemampuan untuk beribadah merupakan karunia dan rahmat Allah SWT semata (Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa, Juz 11, hlm. 687–688).
Ketiga, menyesali perbuatan dosa. Penyesalan merupakan inti dari tobat. Seorang yang benar-benar bertobat akan merasa sedih dan menyesal atas dosa yang pernah dilakukannya.
Keempat, bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut. Tobat yang tulus harus disertai dengan niat dan tekad yang kuat untuk tidak kembali melakukan kemaksiatan yang sama.
Kelima, tidak terus-menerus melakukan dosa dan maksiat. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 135:
"Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu, sedang mereka mengetahui."
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang bertobat tidak boleh sengaja terus-menerus melakukan dosa yang sama.
Keenam, tobat harus dibuktikan dengan hati, lisan, dan perbuatan. Tobat bukan hanya ucapan istigfar di lisan, tetapi juga harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Ketujuh, senantiasa bertobat dan menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan tobat. Konsistensi dalam bertobat merupakan syarat kesempurnaan dan keberkahan tobat. Jika sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit, maka demikian pula dengan tobat. Tobat yang paling utama adalah tobat yang dilakukan secara berkelanjutan sepanjang kehidupan seorang hamba.
Kedelapan, tobat dilakukan pada waktu masih diterima. Tobat harus dilakukan sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari arah barat sebagai salah satu tanda besar kiamat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 25:
"Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, dan mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa tobat merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan membentuk sebuah sistem yang utuh. Seluruh syarat tersebut harus dipenuhi dan dilaksanakan agar tobat menjadi sempurna, diterima oleh Allah SWT, serta mendatangkan kebaikan bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat.
