Breaking News

Fenomena Penerima Daging Kurban Menjual Kembali


Penulis:
H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  (Pengamat Sosial Budaya)

Jendelakita.my.id. - Fenomena pasca-Iduladha tahun ini menyisakan berbagai cerita di tengah masyarakat. Tentu terdapat sejumlah faktor yang melatarbelakangi munculnya berbagai peristiwa tersebut.

Salah satu fenomena yang menjadi perhatian publik terjadi di beberapa daerah, di antaranya di Gresik. Sejumlah penerima daging kurban yang telah memperoleh bagiannya, baik dari pekurban secara langsung maupun melalui panitia pelaksana kurban, diketahui menjual kembali daging yang mereka terima. Penjualan dilakukan baik di pasar maupun secara pribadi kepada pihak yang bersedia membelinya.

Di sisi lain, beredar pula sebuah video yang memperlihatkan sepasang suami istri mengembalikan daging kurban yang mereka terima kepada pemberinya. Dengan mata berkaca-kaca, mereka mengaku tidak memiliki biaya untuk mengolah daging tersebut menjadi makanan siap santap. Menurut mereka, memasak daging memerlukan tambahan biaya untuk membeli bumbu dan kebutuhan lainnya yang saat itu tidak mampu mereka penuhi.

Di Gresik, terlihat pula sejumlah bungkusan daging kurban yang ditumpuk di atas alas sederhana untuk kemudian dijual kembali. Daging-daging tersebut merupakan bagian yang diterima oleh masyarakat yang berhak menerima kurban.

Fenomena ini layak menjadi bahan refleksi dan analisis bagi siapa saja yang peduli terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat saat ini. Muncul pertanyaan mendasar: apakah mereka sebenarnya membutuhkan daging, atau justru lebih membutuhkan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak?

Boleh jadi alasan mereka tidak jauh berbeda dengan pasangan suami istri dalam kisah sebelumnya. Tanpa biaya tambahan untuk mengolah daging tersebut, mereka tidak dapat menikmati hidangan kurban sebagaimana mestinya pada Iduladha 1447 Hijriah tahun ini.

Persoalan ini tidak dapat dipandang sebagai hal yang sepele. Menurut penulis, fenomena tersebut merupakan gambaran nyata tentang sebagian masyarakat yang masih hidup dalam kondisi serba kekurangan. Situasi tersebut tentu tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai persoalan ekonomi yang telah berlangsung dalam kurun waktu tertentu.

Di tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya stabil, tekanan terhadap daya beli masyarakat kecil masih terasa. Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan biaya hidup yang terus meningkat memaksa sebagian masyarakat untuk menentukan skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam konteks itulah, penjualan kembali daging kurban dapat dipahami sebagai strategi bertahan hidup. Bagi sebagian keluarga, uang hasil penjualan daging kurban mungkin dianggap lebih bermanfaat untuk membeli beras, membayar kebutuhan rumah tangga, atau memenuhi keperluan lain yang lebih mendesak.

Fenomena ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa masih terdapat kelompok masyarakat yang menghadapi kesulitan ekonomi yang serius. Oleh karena itu, kurban tidak hanya perlu dimaknai sebagai ibadah berbagi daging, tetapi juga sebagai momentum untuk memahami dan mencari solusi atas persoalan kemiskinan yang masih dihadapi sebagian anggota masyarakat.