Dari Jerami Menjadi Harapan: Efek Berganda Hulu Migas yang Mengubah Kehidupan
Feature Oleh: Muhammad Ibnu Al-Kautsar
Jendelakita.my.id. - Sore itu, hamparan sawah di Desa Pengabuan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, tampak menguning selepas panen. Namun beberapa tahun lalu, pemandangan yang muncul setelah musim panen bukanlah tanda kesejahteraan. Tumpukan jerami berserakan di berbagai sudut lahan. Karena tidak tahu harus berbuat apa, para petani memilih membakarnya.
Asap mengepul. Udara tercemar. Jerami habis menjadi abu.
“Daripada menumpuk, lebih baik dibakar,” begitu kira-kira cara berpikir yang selama bertahun-tahun hidup di kalangan petani.
Di balik kebiasaan itu, tersimpan kenyataan yang tidak mudah. Penghasilan petani rata-rata hanya sekitar Rp1,7 juta per bulan. Hasil panen cukup untuk bertahan hidup, tetapi belum mampu membuka jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
Salah seorang yang merasakan kondisi itu adalah Sarbeni. Sebagai petani, ia memahami betul bagaimana kerasnya perjuangan mengolah sawah, sementara nilai tambah dari hasil pertanian sangat terbatas. Namun siapa sangka, tumpukan jerami yang selama ini dianggap limbah justru menjadi titik awal perubahan.
Perubahan itu hadir melalui Program PERMATA yang dijalankan Pertamina EP Adera Field. Bukan sekadar bantuan sesaat, program ini membawa pendekatan yang lebih mendasar: memberikan keterampilan, teknologi, dan pendampingan agar masyarakat mampu menciptakan nilai ekonomi baru dari sumber daya yang selama ini terabaikan.
Jerami yang dulunya dibakar kini diolah menjadi produk bernilai jual. Ada yang menjadi briket ramah lingkungan, ada pula yang diubah menjadi wadah berbahan alami yang semakin diminati pasar. Para petani juga dibekali kemampuan mengelola usaha, membaca peluang pasar, hingga membangun kemandirian ekonomi.
Hasilnya berbicara lebih keras daripada angka-angka program. Sebanyak 60 petani berhasil meningkatkan pendapatan hingga rata-rata Rp3,9 juta per bulan. Yang berubah bukan hanya kondisi ekonomi mereka, tetapi juga cara pandang terhadap masa depan.
Kisah Desa Pengabuan sesungguhnya adalah potret kecil dari efek berganda (multiplier effect) industri hulu minyak dan gas bumi di Indonesia.
Selama ini publik sering memandang industri hulu migas sebatas aktivitas pengeboran sumur, produksi minyak, atau pembangunan fasilitas energi. Padahal, dampaknya menjalar jauh melampaui wilayah operasi. Ketika sektor hulu migas berkembang, manfaatnya mengalir ke berbagai lapisan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan usaha lokal, peningkatan keterampilan, hingga tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru.
Di Jambi, misalnya, Pertamina EP Jambi Field membuka peluang bagi ibu-ibu rumah tangga melalui Kelompok Kuliner Kenali Asam Atas (KUALITAS). Mereka mendapatkan pelatihan pengembangan produk makanan ringan, mulai dari peningkatan kualitas produk, desain kemasan, hingga strategi pemasaran digital. Program tersebut bukan hanya menghasilkan produk yang lebih kompetitif, tetapi juga melahirkan pelaku usaha baru yang lebih percaya diri menghadapi persaingan pasar.
Di Riau, cerita yang tak kalah inspiratif datang dari Koperasi Pucuk Rebung Jaya. Berkat pendampingan yang berkelanjutan, koperasi ini berhasil menandatangani kerja sama ekspor dengan Koperasi Petaling Berhad di Selangor, Malaysia. Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa usaha mikro dari daerah mampu menembus pasar internasional ketika memperoleh akses, pembinaan, dan kesempatan yang tepat.
Pada saat yang sama, roda industri hulu migas terus bergerak menjaga ketahanan energi nasional. Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengembangkan berbagai inovasi seperti survei seismik 3D, teknologi Artificial Intelligence (AI), Machine Learning (ML), hingga metode Multi Stage Fracturing untuk mengoptimalkan potensi lapangan migas. Di Sumatera Selatan, Sumur MJ-169 di Musi Banyuasin menunjukkan potensi produksi hingga 1.857 barel minyak per hari. Di Bengkalis, Sumur Pungut PT-069 berhasil menghasilkan produksi awal 903 barel per hari dengan efisiensi biaya yang mengesankan.
Bagi sebagian orang, angka-angka tersebut mungkin hanya statistik produksi. Namun sesungguhnya, di balik setiap barel minyak yang dihasilkan, terdapat cerita manusia yang ikut bergerak maju. Ada petani yang memperoleh penghasilan lebih baik. Ada ibu rumah tangga yang menjadi wirausaha. Ada UMKM yang berhasil menembus pasar ekspor. Ada generasi muda yang melihat peluang baru di daerahnya sendiri.
Inilah makna sesungguhnya dari efek berganda hulu migas.
Energi tidak hanya mengalir melalui pipa dan fasilitas produksi. Energi juga mengalir melalui harapan. Ia hadir dalam bentuk pengetahuan yang dibagikan, keterampilan yang ditumbuhkan, peluang usaha yang dibuka, dan mimpi-mimpi masyarakat yang perlahan menjadi kenyataan.
Dari tumpukan jerami di sebuah desa kecil di PALI hingga sumur-sumur migas yang menopang kebutuhan energi nasional, tersambung sebuah benang merah yang sama: ketika energi dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, manfaatnya tidak berhenti di lokasi pengeboran. Ia menjalar ke rumah-rumah warga, menghidupkan ekonomi, memperkuat ketahanan bangsa, dan menyalakan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih mandiri.