Rumah Penjahit Sang Merah Putih
Tulisan Oleh: Yeni Marini (Mahasiswa Prodi KPI semester IV STAI BS Lubuklinggau)
Jendelakita.my.id. - Rumah peninggalan Ibu Fatmawati, istri Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, menjadi salah satu destinasi bersejarah yang menyimpan banyak kisah penting perjalanan bangsa. Terletak di Bengkulu Jl. Fatmawati No. 10, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, 38222, ini merupakan tempat kelahiran sekaligus masa kecil Ibu Fatmawati sebelum akhirnya menikah dengan Soekarno dan pindah ke Jakarta.
Dalam wawancara yang dilakukan pada Minggu, 5 April 2026 siang, pengurus rumah tersebut, Marwan Armanadi, mengungkapkan bahwa dirinya telah merawat rumah bersejarah ini selama lebih dari 20 tahun. Ia juga memiliki hubungan keluarga dengan Ibu Fatmawati sebagai sepupu kandung.
“Fatmawati lahir di rumah ini dan tinggal di sini sampai menikah dengan Bung Karno. Setelah menikah, beliau dibawa ke Jakarta,” jelas Marwan.
Rumah ini merupakan kediaman orang tua Ibu Fatmawati, yakni Hasan Din dan Siti Khodijah. Meskipun telah mengalami renovasi, bentuk asli rumah tetap dipertahankan. Perubahan yang dilakukan hanya pada penggantian material seperti kayu dan atap, dari seng menjadi asbes, serta pengecatan ulang.
Di dalam rumah, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi foto bersejarah, mulai dari masa pengasingan Soekarno di Bengkulu pada tahun 1938–1942, hingga dokumentasi keluarga besar, termasuk anak dan cucu Ibu Fatmawati seperti Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah keberadaan mesin jahit yang digunakan Ibu Fatmawati untuk menjahit bendera Merah Putih pertama. Mesin tersebut masih asli dan kini menjadi koleksi penting di rumah ini, meskipun bendera aslinya disimpan di Istana Negara, Jakarta.
Selain itu, terdapat pula berbagai barang peninggalan asli seperti kursi, meja, lemari, serta beberapa pakaian milik Ibu Fatmawati. Namun, tidak semua yang dipajang merupakan benda asli, sebagian hanya replika untuk melengkapi tampilan sejarah.
Kamar tidur masa remaja Ibu Fatmawati juga masih dapat disaksikan, lengkap dengan beberapa perabot asli seperti keranjang tempat tidur berbahan besi, lemari, dan lampu yang masih bertahan sejak zaman dahulu.
Menariknya, rumah ini tetap mempertahankan nuansa tradisional, meskipun beberapa bagian seperti plafon telah mengalami perubahan dari bahan bambu menjadi model yang lebih modern.
Dengan tiket masuk yang terjangkau, yakni Rp5.000 per orang, rumah ini menjadi pilihan wisata edukatif yang tidak hanya menawarkan nilai sejarah, tetapi juga memberikan pengalaman langsung melihat jejak kehidupan salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
Rumah Ibu Fatmawati di Bengkulu tidak hanya menjadi bangunan bersejarah, tetapi juga saksi bisu perjalanan hidup seorang tokoh perempuan yang turut berperan dalam kemerdekaan Indonesia.
