Putus Asa? No Way!
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita.my.id. - Qasim ibn Muhammad berkata: Ketika istriku meninggal, Muhammad ibn Ka'ab al-Qurdi mendatangiku untuk mengucapkan belasungkawa. Ia berkata bahwa dahulu ada seorang cendekiawan dari kalangan Bani Israil yang taat beribadah. Ia memiliki seorang istri yang sangat dicintai dan dikaguminya. Ketika istrinya meninggal dunia, ia diliputi kesedihan yang mendalam. Ia mengurung diri di rumahnya, dan tidak seorang pun berani mengunjunginya.
Pada suatu hari, seorang wanita dari Bani Israil meminta izin untuk masuk ke rumahnya. Wanita itu berkata, “Aku memiliki suatu masalah dan ingin meminta penjelasan darinya. Aku tidak akan pergi sebelum berbincang dengannya.” Setelah menunggu cukup lama, akhirnya laki-laki itu mengizinkannya masuk.
Wanita itu berkata, “Aku ingin meminta pendapat tentang masalah yang sedang kuhadapi.”
Laki-laki itu menjawab, “Apa masalahmu?”
Wanita itu berkata, “Aku pernah meminjam sebuah perhiasan dari tetanggaku. Aku memakainya dalam waktu yang cukup lama. Namun, suatu hari ia mengutus seseorang untuk mengambilnya kembali, dan aku pun mengembalikannya.”
Laki-laki itu bertanya, “Lalu?”
Wanita itu melanjutkan, “Demi Allah, aku telah memakainya sangat lama.”
Laki-laki itu menjawab, “Apa yang engkau lakukan sudah benar, karena engkau telah mengembalikan barang kepada pemiliknya yang sah.”
Wanita itu kemudian berkata, “Sungguh disayangkan jika orang sepertimu terus bersedih, hanya karena Allah mengambil sesuatu yang sebelumnya Dia pinjamkan kepadamu. Bukankah engkau sendiri mengatakan bahwa mengembalikan kepada yang berhak adalah perbuatan yang benar? Maka bersabarlah atas apa yang menimpamu.”
Mendengar ucapan itu, laki-laki tersebut tersadar. Ia memahami kesalahannya dalam bersikap selama ini. Ia pun mendapatkan pelajaran berharga dari perbincangan tersebut.
Tidak sedikit orang bertanya, “Bagaimana cara terlepas dari masalah?” Jawaban yang sering muncul secara keliru adalah kematian. Namun, kematian—terlebih dengan cara bunuh diri—bukanlah solusi. Justru hal itu menambah masalah, karena selain berdosa, juga membawa konsekuensi di akhirat kelak.
Perlu disadari bahwa selama manusia hidup di dunia, tidak mungkin terbebas dari masalah. Siapa pun kita—kiai, ustaz, pendeta, biksu, pengusaha, pekerja, kaya, miskin, tua, maupun muda—semua pasti menghadapi ujian hidup. Sayangnya, tidak sedikit orang yang tidak kuat menghadapi masalah hingga akhirnya berputus asa dan mengambil jalan pintas.
Orang yang putus asa tidak mampu menikmati keindahan hidup dan enggan menyongsong masa depan yang lebih baik. Mereka adalah orang-orang yang berhenti mencoba, bahkan sebelum mencapai keberhasilan. Dengan kata lain, mereka telah mengakui kegagalan sebelum berjuang sepenuhnya.
Lalu, bagaimana agar kita mampu menghadapi masalah?
Janganlah berputus asa dari rahmat Allah sebagaimana firman-Nya dalam QS. Az-Zumar ayat 53. Putus asa adalah ciri orang yang gagal. Jika tidak ingin gagal, hadapilah masalah dengan sabar, tenang, arif, dan bijaksana.
Adukanlah setiap masalah kepada Allah Swt., Sang Maha Penyelesai segala persoalan. Jika kita menggantungkan seluruh urusan kepada-Nya, maka yakinlah bahwa segala sesuatu akan menemukan jalan keluar. Allah berfirman bahwa Dia akan mengabulkan permohonan hamba-Nya.
Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Fatir ayat 34–35:
“Mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri, yang menempatkan kami di tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.’”
