Breaking News

Kesenian Tradisional Tergeser oleh Dampak Globalisasi


 Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  (Ketua Lembaga Adat Melayu Peduli Marga Batang Hari Sembilan)

Jendelakita.my.id. - Sudah kita maklumi bersama bahwa kebudayaan bersifat dinamis. Namun, kedinamisan tersebut tidak berarti harus melanggar nilai-nilai suci yang bersumber dari kepercayaan dan agama suatu komunitas. Kebudayaan harus tetap berpedoman pada satu titik acuan, yaitu Pancasila, terutama sila pertama.

Dalam filosofi adat disebutkan bahwa agama mengatur dan adat menjalankan, sebagaimana semboyan masyarakat Melayu: adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah Al-Qur’an. Prinsip ini menegaskan bahwa nilai budaya tidak boleh terlepas dari ajaran agama.

Baru-baru ini beredar sebuah video yang sempat menghebohkan “kota santri”, tepatnya di Desa Suka Pindah, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir. Video tersebut mendadak viral dan memicu kontroversi karena menampilkan aksi panggung berupa penari yang mencium beberapa penonton laki-laki.

Setelah dikonfirmasi, Kapolsek Tanjung Raja, AKP Zahirin, menegaskan bahwa pihak kepolisian tidak menerima pemberitahuan maupun mengeluarkan izin terkait penyelenggaraan hiburan tersebut (dilansir dari Harian Sriwijaya Post, Rabu, 1 April 2026, halaman 5, dengan judul “Heboh Penari Ular Cium Penonton”).

Dalam keterangannya, Zahirin menambahkan bahwa pihak kepolisian pada dasarnya tidak melarang masyarakat menggelar hiburan dalam acara hajatan. Namun, kegiatan tersebut harus tetap berada dalam batas kewajaran, memperhatikan norma kesusilaan, serta menghormati nilai-nilai lokal.

Terlebih lagi, Kabupaten Ogan Ilir yang dikenal sebagai “kota santri” seharusnya menjaga nilai-nilai religius. Oleh karena itu, hiburan yang diselenggarakan tidak semestinya menampilkan musik remix yang berpotensi mengarah pada unsur pornografi maupun penyalahgunaan narkoba.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi pada Minggu malam, 29 Maret 2026. Pertunjukan tersebut menampilkan kelompok penari ular yang diketahui merupakan waria.

Dalam video yang beredar luas di media sosial, tampak penari tersebut menghampiri tamu pria dan memberikan kecupan di pipi di hadapan umum. Meski sebagian penonton terlihat antusias, tidak sedikit pula yang menyatakan keberatan, terutama karena adegan tersebut disaksikan oleh anak-anak.

Padahal, masyarakat Ogan Ilir sejak dahulu dikenal dengan kesenian tradisional Dulmuluk, yang sarat dengan alur cerita penuh nasihat dan bernuansa nilai-nilai Islam. Meskipun Dulmuluk berasal dari kebudayaan Melayu yang lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, kesenian ini telah berkembang dan populer di Sumatera Selatan sebagai warisan budaya yang edukatif dan religius.