Di pedesaan masih ada keterbatasan akses fasilitas teknologi informasi
Nama : Busro Karim
Mahasiswa STAI BUMI SILAMPARI Lubuklinggau
Keterbatasan akses fasilitas teknologi informasi di pedesaan merupakan fenomena sosial yang dapat dipahami melalui perspektif sosiologi sebagai bagian dari ketimpangan struktur masyarakat. Dalam pandangan struktural fungsional, kondisi ini terjadi karena belum meratanya pembangunan infrastruktur seperti jaringan internet, listrik, dan sarana pendukung lainnya, sehingga fungsi pendidikan, ekonomi, dan komunikasi di desa belum berjalan secara optimal seperti di perkotaan. Sementara itu, dari perspektif teori konflik, keterbatasan ini mencerminkan adanya ketimpangan distribusi sumber daya antara masyarakat desa dan kota, di mana akses terhadap teknologi lebih banyak dinikmati oleh kelompok perkotaan atau kelas sosial yang lebih tinggi, sehingga memunculkan kesenjangan digital (digital divide). Dari sudut pandang interaksionisme simbolik, keterbatasan tersebut juga dipengaruhi oleh cara masyarakat desa memaknai teknologi, yang sering dianggap rumit, kurang penting, atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai tradisional, ditambah dengan rendahnya literasi digital. Dalam konteks modernisasi, terbatasnya akses teknologi informasi menjadi salah satu penghambat proses perubahan sosial di pedesaan menuju masyarakat yang lebih maju. Oleh karena itu, secara sosiologis, keterbatasan akses teknologi informasi di pedesaan tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan struktur sosial, budaya, ekonomi, serta proses pembangunan yang belum merata.
