Di desa masih banyak kekurangan akses fasilitas kesehatan sehingga mengalami miris kesehatan
Nama : Busro Karim ( mahasiswa STAI BUMI SILAMPARI Lubuklinggau )
Dalam perspektif sosiologi, kondisi minimnya akses fasilitas kesehatan di pedesaan mencerminkan adanya ketimpangan struktural antara wilayah desa dan kota. Dalam kajian sosiologi pedesaan, desa sering kali menghadapi keterbatasan infrastruktur, tenaga medis, serta akses informasi kesehatan. Hal ini disebabkan oleh faktor geografis yang terpencil, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, serta keterbatasan ekonomi. Akibatnya, masyarakat desa cenderung mengalami keterlambatan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, penggunaan pengobatan tradisional yang lebih dominan, dan tingkat risiko penyakit yang lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan adanya ketergantungan desa terhadap kota sebagai pusat layanan kesehatan.
Sementara itu, dalam perspektif sosiologi perkotaan, kota memiliki fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan modern, seperti rumah sakit, klinik spesialis, dan tenaga medis profesional. Namun, bukan berarti kota bebas dari masalah kesehatan. Di perkotaan, muncul persoalan lain seperti ketimpangan akses bagi masyarakat miskin kota, kepadatan penduduk, serta gaya hidup yang tidak sehat. Dengan demikian, meskipun kota memiliki keunggulan dalam ketersediaan fasilitas, distribusi akses yang tidak merata tetap menjadi masalah sosial.
Secara sosiologis, perbedaan ini menunjukkan adanya ketimpangan sosial (social inequality) antara desa dan kota dalam hal pelayanan kesehatan. Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup masyarakat, tetapi juga memperkuat kesenjangan kesejahteraan secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan peran pemerintah dan masyarakat dalam pemerataan pembangunan kesehatan agar tercipta keadilan sosial baik di pedesaan maupun perkotaan.
