Kesalahan dalam Menyikapi Tobat
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita.my.id. - Terdapat beberapa kekeliruan yang dilakukan seorang hamba dalam menyikapi tobat. Kesalahan-kesalahan tersebut mendorong sebagian pelaku maksiat menunda bahkan enggan untuk bertobat. Selain itu, tidak sedikit pula yang melakukan kekeliruan dalam proses bertobat. Di antara kesalahan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Menunda-nunda Tobat hingga Dosa Semakin Menumpuk
Sebagian orang sengaja menunda tobat dengan alasan akan melakukannya setelah menikah, setelah mapan, atau setelah mencapai kondisi tertentu. Padahal, kewajiban seorang hamba adalah segera bertobat karena tidak seorang pun mengetahui batas usianya. Kebiasaan melakukan maksiat akan mengeraskan hati sehingga pelakunya tidak lagi merasa bersalah ketika berbuat dosa. Akibatnya, keinginan untuk bertobat pun semakin berkurang.
2. Lalai untuk Bertobat
Sebagian pelaku maksiat lalai dalam bertobat karena dipengaruhi berbagai faktor, seperti lemahnya keimanan, merasa bangga terhadap diri sendiri, puas dengan perbuatan yang dilakukan, tidak memahami syariat, atau terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga melupakan persiapan untuk kehidupan akhirat.
3. Takut Kembali Melakukan Dosa
Ada orang yang enggan bertobat karena takut suatu saat akan mengulangi dosanya. Ketakutan tersebut akhirnya membuatnya tetap bertahan dalam kemaksiatan. Padahal, hal itu merupakan salah satu tipu daya setan untuk memalingkan manusia dari jalan tobat dan membiarkannya terus terjerumus ke dalam dosa.
4. Takut terhadap Godaan dan Ejekan
Ejekan, cibiran, atau gunjingan dari orang-orang di sekitar sering kali menjadi hambatan bagi seseorang yang ingin bertobat. Akibatnya, niat untuk meninggalkan maksiat pun diurungkan sehingga dosa terus dilakukan. Ingatlah, wahai pelaku maksiat, bahwa kehidupan bersama manusia hanyalah sementara, sedangkan hisab Allah pasti akan datang, dan azab-Nya menanti bagi orang yang meninggal tanpa bertobat. Jadikan ejekan dan gunjingan ketika meninggalkan kemaksiatan sebagai ujian keimanan agar memperoleh pahala yang besar dan derajat yang tinggi di sisi Allah.
5. Mengejar Prestasi dan Kedudukan Sosial
Sebagian pelaku maksiat enggan bertobat karena khawatir kehilangan jabatan, kedudukan, pengaruh, atau popularitas di tengah masyarakat. Kekhawatiran tersebut membuat mereka lebih memilih mempertahankan kemaksiatan daripada kembali kepada jalan yang benar.
6. Meremehkan Ampunan dan Rahmat Allah
Sebagian pelaku maksiat terus-menerus berbuat dosa dengan alasan bahwa ampunan Allah sangat luas serta Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sikap seperti ini menunjukkan kesombongan, meremehkan ketentuan Allah, dan lebih condong kepada jalan orang-orang yang rusak. Kekeliruan ini merupakan bentuk kejahilan yang besar terhadap hakikat tobat. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang bagi hamba-hamba-Nya yang bertobat, yaitu mereka yang berbuat dosa karena kebodohan, kemudian segera kembali kepada-Nya dengan tobat nasuha. Sebaliknya, Allah juga Mahadahsyat siksa-Nya bagi hamba yang terus-menerus berbuat maksiat serta menyombongkan diri dengan tidak mau bertobat.
7. Berputus Asa dari Rahmat Allah
Sebagian pelaku maksiat merasa putus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah karena menganggap kebinasaan telah menjadi ketetapan bagi dirinya. Bahkan, ada yang beranggapan bahwa keadaan sudah tidak dapat diperbaiki lagi, seperti ungkapan "nasi sudah menjadi bubur" atau "sudah kepalang basah". Seolah-olah dosa yang dilakukan telah menjadi takdir yang tidak mungkin diubah. Cara berpikir seperti ini merupakan kesalahan yang dapat menghalangi seseorang untuk kembali kepada Allah.
8. Tobat yang Tidak Sungguh-Sungguh
Sebagian orang berhenti melakukan maksiat hanya dalam waktu singkat, misalnya karena sakit atau karena keadaan tertentu. Namun, setelah kondisi kembali normal, mereka kembali melakukan dosa dan kemaksiatan. Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa mereka belum melakukan tobat secara sempurna (tobat nasuha). Bahkan, mereka masih mengikuti hawa nafsu dan tipu daya setan serta tetap akrab dengan kemaksiatan yang sulit ditinggalkan, kecuali apabila Allah Swt. memberikan pertolongan dan hidayah kepada mereka.
