Breaking News

Pengangguran dan pekerjaan informal ( persaingan kerja di kota sangat tinggi )


Nama: Busro Karim ( mahasiswa STAI BUMI SILAMPARI Lubuklinggau )

Dalam perspektif sosiologi, tingginya pengangguran dan maraknya pekerjaan informal di kota merupakan dampak dari ketimpangan pembangunan antara desa dan kota. Dalam kajian sosiologi pedesaan, keterbatasan lapangan pekerjaan, rendahnya akses pendidikan dan keterampilan, serta minimnya industrialisasi mendorong masyarakat desa melakukan migrasi ke kota dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun, perpindahan ini sering tidak diimbangi dengan kesiapan kompetensi, sehingga banyak penduduk desa yang akhirnya hanya mampu memasuki sektor informal seperti pedagang kaki lima, buruh lepas, atau pekerjaan serabutan. Hal ini menunjukkan bahwa desa berperan sebagai daerah pemasok tenaga kerja, tetapi belum mampu menyediakan peluang kerja yang memadai bagi masyarakatnya.


Sementara itu, dalam perspektif sosiologi perkotaan, tingginya arus urbanisasi menyebabkan persaingan kerja di kota menjadi sangat ketat. Kota sebagai pusat ekonomi memang menyediakan lebih banyak peluang kerja, tetapi juga menuntut kualifikasi dan keterampilan yang tinggi. Akibatnya, tidak semua pendatang dapat terserap di sektor formal, sehingga sektor informal menjadi alternatif utama untuk bertahan hidup. Kondisi ini menimbulkan berbagai masalah sosial seperti ketidakstabilan pendapatan, kurangnya jaminan sosial, hingga munculnya kawasan permukiman kumuh. Dengan demikian, fenomena pengangguran dan pekerjaan informal mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara jumlah tenaga kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan, serta menunjukkan kompleksitas persoalan sosial akibat modernisasi dan urbanisasi dalam kehidupan masyarakat desa dan kota.