Beragam Sisi Lebaran
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. (Pengamat Hukum dan Sosial)
Jendelakita.my.id. - Tulisan ini tergores setelah penulis berselancar di beranda Facebook dan menemukan sebuah cerita yang menarik untuk disimak sebagai bagian dari kajian sosial dan budaya. Cerita tersebut merupakan pemberitaan yang dilansir oleh Tribun Sumsel yang mengutip unggahan Instagram Karina Ranau (akun: karina.ranau9) pada Senin, 23 Maret 2026.
Peristiwa yang menjadi sorotan adalah ketika seorang ibu bernama Karina Ranau, istri dari aktor Epy Kusnandar, merayakan Hari Raya Idulfitri tahun ini dengan cara yang tidak biasa. Selain membawa karangan bunga, ia juga membawa foto suaminya ke lokasi pemakaman. Hal yang menarik perhatian publik adalah tindakan beliau yang menggelar tikar, tidak hanya untuk berziarah, tetapi juga menyajikan makanan layaknya merayakan Lebaran bersama keluarga di tempat tersebut.
Peristiwa ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, karena suasana seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam pandangan publik. Terlepas dari berbagai komentar, baik yang mendukung maupun yang menolak, penulis sebagai kolumnis tidak bermaksud memasuki ranah privasi seseorang.
Namun, karena peristiwa tersebut telah menjadi konsumsi publik, hal ini dapat menjadi bahan analisis, meskipun bersifat subjektif. Patut diduga bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk ekspresi kasih sayang seorang istri terhadap suami yang telah mendahuluinya.
Selain itu, perhatian penulis juga didorong oleh fakta bahwa media yang memberitakan adalah Tribun Sumsel yang berbasis di Palembang. Di sisi lain, Karina Ranau diketahui berasal dari Palembang dan memiliki latar belakang budaya dari komunitas masyarakat adat Ranau, yang berada di kawasan Danau Ranau—wilayah yang memisahkan Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung dengan keindahan alamnya.
Namun demikian, yang menjadi perhatian adalah apabila perilaku tersebut dilakukan secara konsisten dan terus-menerus, maka berpotensi menjadi sebuah budaya baru yang dapat ditiru oleh masyarakat luas, terutama oleh mereka yang mungkin memiliki pemahaman terbatas dari perspektif nilai adat dan agama.
Oleh karena itu, diperlukan perhatian dari pihak-pihak yang berwenang, khususnya pengelola lokasi pemakaman umum. Secara teoritis, manusia cenderung mudah meniru gaya hidup orang lain, meskipun belum tentu sejalan dengan nilai-nilai adat dan ajaran agama.
