Seputar Hukum Sholat Malam Pada Bulan Ramadhan
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita,my.id. - Allah mewajibkan para hamba-Nya untuk melaksanakan sholat lima kali dalam sehari semalam. Lima kali dalam pelaksanaannya, namun dihitung lima puluh kali dalam pahala. Allah juga menganjurkan untuk memperbanyak pelaksanaan sholat-sholat sunnah sebagai penyempurna sholat wajib sekaligus sebagai bentuk penambahan kedekatan kepada-Nya.
Di antara sholat-sholat Sunnah Rawatib yang menyertai pelaksanaan sholat wajib adalah dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Magrib, serta dua rakaat sesudah Isya. Di antaranya pula adalah sholat malam. Bahkan, Allah telah memuji di dalam kitab-Nya orang-orang yang melaksanakannya. Allah berfirman:
“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (QS. Al-Furqaan, 64).
Rasulullah Saw bersabda: “Seutama-utama sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda: “Wahai, manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali kekerabatan, dan sholatlah pada waktu malam tatkala orang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk sorga dengan keselamatan.” (HR. At-Tirmidzi).
Salah satu sholat malam adalah sholat witir. Jumlah minimalnya adalah satu rakaat dan jumlah maksimalnya sebelas rakaat. Witir dapat dilakukan dengan satu rakaat secara terpisah. Berdasarkan sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang ingin sholat witir dengan satu rakaat, maka hendaklah ia melakukan.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i).
Dalil yang menunjukkan bahwa witir dapat dilakukan dengan tiga rakaat adalah sabda Rasulullah Saw: “Barang siapa yang ingin sholat witir dengan tiga rakaat, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i). Sholat witir dapat dikerjakan tiga rakaat dengan satu salam berdasarkan riwayat Ath-Thahawi dari Umar bin Khattab Ra. Ia witir tiga rakaat dan tidak melakukan salam kecuali pada rakaat ketiga.
Seseorang juga boleh melakukannya dengan dua kali salam jika ia mau, yaitu sholat dua rakaat lalu salam, kemudian dilanjutkan dengan satu rakaat. Dalilnya adalah riwayat Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar bahwa ia melakukan salam pada rakaat kedua, lalu dilanjutkan dengan salam pada rakaat ketiga.
Sholat witir juga dapat dikerjakan lima rakaat secara berturut-turut tanpa duduk tasyahud dan tanpa salam selain pada akhir rakaat kelima. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Saw: “Barang siapa yang ingin mengerjakan witir dengan lima rakaat maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i).
Diriwayatkan dari Aisyah Ra, ia berkata: “Nabi Muhammad Saw melakukan sholat malam sejumlah tiga belas rakaat. Beliau melakukan witir lima rakaat, dan tidak duduk melainkan di akhir sholatnya.” (Muttafaq 'alaih).
Sholat witir juga boleh dilakukan dengan tujuh rakaat. Dalilnya adalah perkataan Ummu Salamah: “Rasulullah Saw sholat witir tujuh rakaat dan lima rakaat. Beliau tidak memisahkan rakaat-rakaatnya dengan salam atau pembicaraan.” (HR. Ahmad, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah).
Witir juga dapat dilakukan sembilan rakaat secara berurutan tanpa salam, tanpa duduk tasyahud kecuali pada rakaat kedelapan. Pada rakaat kesembilan dilakukan tasyahud akhir lalu salam. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah Ra (HR. Ahmad dan Muslim).
Sholat malam juga dapat dikerjakan sebanyak sebelas rakaat. Jika pelakunya menghendaki, ia boleh mengucapkan salam setiap dua rakaat dan berwitir satu rakaat. Berdasarkan hadits Aisyah: “Nabi Muhammad mengerjakan sholat malam sebelas rakaat selepas Isya hingga fajar. Beliau melakukan salam pada rakaat kedua dan witir dengan satu rakaat.” (HR. Al-Jamaah, kecuali At-Tirmidzi).
Jika pelakunya menginginkan, ia boleh sholat empat rakaat, kemudian empat rakaat lagi, lalu witir dengan tiga rakaat. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah: “Nabi Muhammad Saw melakukan sholat malam empat rakaat. Tidak perlu engkau tanyakan tentang bagus dan lamanya. Selanjutnya beliau melanjutkan dengan empat rakaat. Tidak perlu engkau tanyakan bagus dan lamanya. Kemudian, beliau shalat tiga rakaat witir.” (Muttafaq 'alaihi).
Pelaksanaan sholat witir dengan lima, tujuh, atau sembilan rakaat biasanya dilakukan ketika sholat sendiri atau berjemaah dalam jumlah terbatas yang memang memilih bentuk tersebut. Adapun di masjid-masjid umum, sebaiknya imam melakukan salam setiap dua rakaat agar tidak memberatkan makmum dan tidak membingungkan niat mereka, karena itulah yang lebih mudah bagi mereka.
Nabi Muhammad bersabda: “Barang siapa di antara kalian menjadi imam maka hendaklah ia meringkas sholat karena di belakangnya terdapat orang tua, orang lemah dan orang yang memiliki keperluan.” Dalam lafaz lain disebutkan tambahan: “Jika ia sholat sendiri, maka sholatlah sesukanya.”
Pendapat yang terkuat menyatakan bahwa jumlah rakaat sholat tarawih adalah sebelas atau tiga belas rakaat. Hal ini berdasarkan riwayat dalam Ash-Shahiihain dari Aisyah Ra ketika ditanya tentang bagaimana sholat Nabi Muhammad Saw pada bulan Ramadhan. Aisyah menjawab: “Rasulullah Saw tidak pernah menambah pelaksanaan sholat malam melebihi sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadhan atau selainnya.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Sholat malam Nabi sebanyak tiga belas rakaat.” (HR. Al-Bukhari).
(Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Pustaka Imam Syafi’i, 2007 M).
