Musywil Ke-4 ABDSI di Palembang Bahas Transformasi Pendamping UMKM Berbasis Teknologi
Jendelakita.my.id. - Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) Sumatera Selatan menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) Ke-4 pada Senin, 25 Mei 2026, pukul 14.00 WIB hingga selesai, di Aula Dinas Provinsi Sumatera Selatan, Jalan Sudirman No. 565 Palembang.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat arah transformasi organisasi sekaligus mempertegas peran strategis pendamping usaha dalam mendukung pengembangan koperasi dan UMKM di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan.
Hadir dalam Muswil adalah Ketua Umum ABDSI periode 2026–2030, Bahrul Ulum Ilham, Ph.D.
Dalam kegiatan tersebut Ketua Umum ABDSI memberikan pemaparan bertajuk “Penguatan Peran ABDSI dalam Pengembangan Koperasi dan UMKM”.
Dalam pemaparannya, Ketua Umum ABDSI periode 2026–2030, Bahrul Ulum Ilham, P.HD., menegaskan bahwa ABDSI merupakan organisasi profesi konsultan dan lembaga pendamping pengembangan bisnis koperasi dan UMKM tertua serta terbesar di Indonesia.
Organisasi yang resmi berdiri pada 19 Mei 2002 tersebut hadir sebagai jawaban atas kebutuhan ekosistem pendampingan usaha yang profesional, terstandar, dan berorientasi pasar.
Hingga saat ini, ABDSI telah memiliki lebih dari 500 anggota konsultan dan lembaga pendamping yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam forum tersebut juga dijelaskan bahwa UMKM masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja, serta mencakup lebih dari 64 juta unit usaha di Indonesia.
Namun demikian, sebagian besar UMKM dinilai masih berada pada level “survival economy” akibat rendahnya akses terhadap pendampingan usaha yang berkualitas. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi ABDSI untuk memperkuat fungsi pendampingan secara profesional dan berkelanjutan.
ABDSI juga menyoroti pentingnya transformasi peran pendamping UMKM di tengah perubahan zaman dan disrupsi teknologi.
"Dalam salah satu kutipan yang dipaparkan disebutkan, "Jika BDS ingin menjadi partner sejajar, jadilah mitra, bukan pelaksana!" — Dr. Noer Soetrisno (Wakil Kepala BPS-KPKM RI)." ujar Bahrul Ulum Ilham, Ph.D., dalam pemaparannya.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting bahwa pendamping UMKM tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelaksana program birokrasi, melainkan harus mampu menjadi mitra strategis yang mandiri, inovatif, dan memiliki daya saing.
Selain itu, forum Musyawarah Wilayah tersebut turut membahas sejumlah tantangan strategis organisasi, mulai dari fragmentasi kualitas layanan pendamping, penguatan identitas profesi, kemandirian finansial organisasi, hingga pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
ABDSI bahkan menargetkan seluruh konsultan dan pendamping UMKM mampu mengadopsi AI tools sebagai bagian dari transformasi layanan pendampingan usaha.
Visi besar ABDSI ke depan adalah mewujudkan organisasi profesi Business Development Services (BDS) yang kuat secara kelembagaan, mandiri, inovatif, dan berdaya saing dalam mendukung transformasi UMKM Indonesia.
Untuk mencapai visi tersebut, organisasi akan fokus pada penguatan tata kelola, peningkatan kompetensi dan sertifikasi profesi, transformasi digital organisasi, hingga memperluas kemitraan strategis di tingkat nasional maupun regional ASEAN.
Kegiatan ini juga memaparkan sejumlah program prioritas ABDSI tahun 2026, di antaranya validasi database nasional anggota, aktivasi DPW prioritas, webinar nasional AI dan UMKM, pengembangan dashboard digital organisasi, serta persiapan Temu Nasional Pendamping (TNP) IV yang akan digelar di Makassar pada Agustus 2026 mendatang.
Agenda tersebut sekaligus akan dirangkaikan dengan peringatan Hari UMKM Nasional edisi ke-10 yang mengusung semangat transformasi UMKM menuju era kecerdasan buatan.
Melalui Musywil ini, ABDSI Sumatera Selatan diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antarpendamping, pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media dalam membangun ekosistem UMKM yang lebih adaptif dan kompetitif.
Kehadiran ABDSI juga diharapkan menjadi motor penggerak lahirnya pendamping UMKM yang profesional, adaptif terhadap teknologi, serta mampu mendorong peningkatan daya saing ekonomi kerakyatan di masa depan.