Hikmah Iduladha: Sabar dan Pendidikan Faktor Utama Suksesnya keluarga Nabi Ibrahim
| Imam dan Khatib Ustad Ahmad Abdullah Azim, LC, MA. |
Jendelakita.my.id. - Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah kembali menjadi momentum penting bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Pada 10 Zulhijjah tahun ini, ribuan jemaah haji bergerak menuju Mina untuk melanjutkan rangkaian rukun haji berikutnya. Sementara itu, umat Islam di berbagai daerah di Indonesia juga berbondong-bondong menuju masjid dan lapangan guna melaksanakan Sholat Iduladha bersama keluarga dan masyarakat sekitar.
Salah satu pelaksanaan Sholat Iduladha berlangsung di Masjid Muallimin, Jalan Seruni, Perumahan Dosen Unsri. Sholat Iduladha tersebut dipimpin oleh Imam dan Khatib Ustad Ahmad Abdullah Azim, LC, MA. Sebelum pelaksanaan khotbah dimulai, kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Pengurus Masjid Muallimin, Prof. Dr. Ir. H. M. Faisal, DEA, yang menyampaikan rasa syukur atas kesempatan kembali merayakan Iduladha dalam suasana penuh kebersamaan dan kekhusyukan.
Dalam khutbahnya, Ustad Ahmad Abdullah Azim menyampaikan materi yang singkat, jelas, namun sarat makna mengenai perjalanan hidup para nabi, khususnya Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang menjadi kunci kesuksesan keluarga Nabi Ibrahim, yaitu kesabaran dan pendidikan. Kedua nilai tersebut menjadi teladan penting yang relevan diterapkan dalam kehidupan umat Islam hingga saat ini.
Khatib menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS mendapatkan ujian yang sangat berat dalam hidupnya. Salah satunya adalah ketika beliau baru memperoleh keturunan pada usia 46 tahun. Penantian panjang tersebut menjadi bukti kesabaran seorang hamba dalam menerima ketetapan Allah SWT. Setelah kehadiran Nabi Ismail AS, ujian berikutnya kembali datang ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putranya sendiri sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan.
Pada saat yang sangat menentukan itu, terjadi dialog penuh hikmah antara Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Keduanya menerima dan menyetujui perintah Allah SWT dengan penuh keikhlasan. Peristiwa tersebut menggambarkan betapa pentingnya pendidikan dalam keluarga, terutama dalam menanamkan nilai keimanan, ketaatan, dan kesabaran kepada anak sejak usia dini. Pendidikan yang baik menjadikan seorang anak mampu memahami nilai pengorbanan dan ketundukan kepada Sang Pencipta.
Melalui kisah tersebut, umat Islam diajak untuk memahami bahwa kesabaran memiliki hubungan yang sangat erat dengan keberhasilan hidup seorang hamba. Tidak hanya dalam menghadapi ujian kehidupan, tetapi juga dalam mendidik keluarga agar memiliki akhlak dan keimanan yang kuat. Kesabaran dan pendidikan yang baik akan melahirkan generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama.
Selain itu, Iduladha juga mengajarkan makna pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari. Menyembelih hewan kurban tidak hanya dimaknai secara simbolis, tetapi juga sebagai bentuk upaya menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri manusia, seperti keserakahan, iri hati, ghibah, dan perilaku negatif lainnya. Momentum Iduladha menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas spiritual maupun sosial.
Dengan semangat Iduladha 1447 Hijriah, diharapkan umat Islam mampu meneladani kesabaran dan keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS dalam kehidupan sehari-hari. Nilai pengorbanan, pendidikan, dan keikhlasan menjadi bekal penting dalam membangun keluarga dan masyarakat yang lebih baik. Mudah-mudahan peringatan 10 Zulhijjah tahun ini dapat menjadi sarana meningkatkan kualitas diri masing-masing serta memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT. Aamiin.