Keutamaan Puasa Ramadan dalam Perspektif Hadis dan Al-Qur’an
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita,my.id. - Sesungguhnya puasa termasuk ibadah dan bentuk ketaatan yang paling utama, sebagaimana disebutkan dalam hadis dan atsar. Di antara keutamaannya adalah bahwa Allah telah mewajibkan seluruh umat untuk melaksanakan ibadah puasa, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (QS. Al Baqarah ayat 183).” Sekiranya puasa bukan merupakan ibadah yang agung, tentulah seorang hamba tidak akan membutuhkannya dalam rangka beribadah kepada Allah, meskipun di dalamnya terdapat pahala yang telah Allah wajibkan kepada seluruh umat. Seorang hamba pasti membutuhkan ibadah kepada Allah dan memerlukan dampak positifnya berupa pahala.
Di antara keutamaan puasa Ramadan adalah ia merupakan sebab terampuninya dosa dan dihapuskannya kesalahan. Disebutkan dalam ash-shahihain dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan beriman dan karena mengharapkan pahala niscaya akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu". Maksudnya, jika ia berpuasa dengan keimanan kepada Allah dan rida terhadap kewajiban berpuasa, mengharapkan pahala dan ganjarannya, tidak membenci kewajiban tersebut, serta tidak ragu terhadap pahalanya, maka Allah benar-benar akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “antara sholat sholat yang lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa dosa yang ada diantara waktu waktu tersebut, selama dosa dosa besar dijauhi.” Hadis-hadis yang sahih menunjukkan keutamaan puasa dari berbagai segi.
Pertama, Allah mengkhususkan puasa untuk diri-Nya, berbeda dengan ibadah lainnya. Hal ini disebabkan kemuliaan puasa di sisi Allah, kecintaan-Nya terhadap puasa, serta tampaknya nilai keikhlasan dalam pelaksanaannya. Puasa merupakan rahasia antara hamba dengan Rabbnya. Tentang puasa, Allah SWT berfirman dalam hadis tadi: “Akulah yang akan membalasnya.” Dia menyandarkan pahala puasa kepada diri-Nya yang mulia. Puasa juga merupakan bentuk kesabaran dalam ketaatan kepada Allah, kesabaran terhadap apa yang diharamkan oleh-Nya, serta kesabaran atas ketetapan-Nya berupa lapar, dahaga, dan lemahnya jiwa serta raga.
Kedua, puasa adalah perisai. Artinya, puasa mampu mencegah sekaligus menjadi tabir yang menjaga pelakunya dari perbuatan buruk dan sia-sia. “Jika kalian berpuasa, maka jangan lah mengatakan perkataan yang jelek dan berteriak teriak.” Puasa adalah perisai yang dipakai oleh seorang hamba untuk melindungi diri dari Neraka. Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir RA.
Ketiga, bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah dibandingkan dengan wangi minyak kasturi, sebab ia merupakan efek dari puasa.
Keempat, orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Kegembiraan saat berbuka adalah kegembiraan atas nikmat yang telah Allah berikan berupa kemampuan menyempurnakan puasa, yang termasuk amal saleh paling utama. Ia juga bergembira atas apa yang kembali dihalalkan Allah baginya berupa makanan, minuman, dan persetubuhan, karena semua itu diharamkan baginya pada siang hari. Adapun kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya adalah saat ia memperoleh balasan yang sempurna atas puasanya di sisi Allah, ketika ia sangat membutuhkannya. Pada saat itu terdengar seruan: “mana orang orang yang berpuasa??. Hendaklah mereka memasuki Surga dari pintu ar'-Rayyan. Tidak boleh ada yang masuk dari pintu itu kecuali mereka.”
Hadis di atas juga mengandung pelajaran bagi orang yang berpuasa. Apabila ia dicaci atau diperangi, hendaklah ia tidak membalas dengan perbuatan serupa agar celaan dan peperangan tidak berlanjut. Ia juga tidak boleh menunjukkan sikap lemah dengan diam semata, tetapi hendaknya memberi tahu bahwa ia sedang berpuasa sebagai bentuk penghormatan terhadap puasanya, bukan karena tidak mampu membalas.
Kelima, puasa mampu memberikan syafaat kepada pelakunya pada hari kiamat. “Puasa dan Al Qur'an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari Kiamat (HR. Ahmad).”
Ya Allah, jagalah puasa kami, jadikanlah ia sebagai pemberi syafaat bagi kami, serta ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.
