Breaking News

Kewirausahaan: Pentingkah untuk Semua Orang?

 


Penulis: Salsa Cristint

A. Pendahuluan
Kewirausahaan sering dipahami secara sempit sebagai aktivitas jual beli atau kegiatan bisnis yang berorientasi pada keuntungan semata. Pandangan ini membuat sebagian orang, terutama mahasiswa, merasa bahwa kewirausahaan bukanlah bidang yang menarik untuk dipelajari. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa jika tidak bercita-cita menjadi pedagang atau pebisnis, maka pembelajaran kewirausahaan dapat diabaikan.
Penulis sendiri termasuk orang yang pada awalnya kurang tertarik pada dunia bisnis. Ketertarikan penulis lebih condong pada bidang jasa, pelayanan, dan aktivitas yang memberikan manfaat langsung kepada orang lain. Oleh karena itu, muncul pertanyaan: mengapa harus belajar kewirausahaan jika tidak menyukai dunia usaha? Apakah kewirausahaan benar-benar penting dalam kehidupan, atau sekadar pelengkap dalam dunia pendidikan?
Pertanyaan tersebut menjadi dasar penulisan ini. Kewirausahaan perlu dipahami bukan hanya sebagai kegiatan ekonomi, tetapi sebagai cara berpikir dan bersikap dalam menghadapi kehidupan. Dengan memahami kewirausahaan secara lebih luas, diharapkan muncul kesadaran bahwa ilmu ini relevan bagi siapa pun, tanpa memandang profesi atau latar belakang.

B. Isi
Pada dasarnya, kewirausahaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Baik dalam dunia bisnis maupun dunia jasa, seseorang tetap berhadapan dengan orang lain yang memiliki kebutuhan, harapan, dan masalah yang harus diselesaikan. Seorang dokter melayani pasiennya, seorang hakim melayani masyarakat yang mencari keadilan, dan seorang guru melayani murid serta orang tua yang mempercayakan pendidikan kepada mereka. Semua bentuk pelayanan tersebut membutuhkan kemampuan memahami kebutuhan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.
Kewirausahaan tidak hanya mengajarkan cara menjual produk, tetapi juga melatih kemampuan mengelola ide, berkomunikasi secara efektif, berpikir kreatif, serta bertindak solutif. Ilmu ini membentuk sikap mandiri dan berani mengambil inisiatif. Oleh karena itu, meskipun seseorang tidak tertarik pada dunia usaha, ia tetap membutuhkan jiwa kewirausahaan dalam menjalani profesi dan kehidupan sehari-hari.
Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, kewirausahaan memiliki peran yang sangat penting. Mahasiswa Fakultas Tarbiyah tidak hanya mempelajari akidah, fikih, dan teori pendidikan, tetapi juga berhadapan langsung dengan manusia yang memiliki karakter dan kebutuhan yang beragam. Banyak lulusan Tarbiyah yang akhirnya mengelola TPQ, membuka bimbingan belajar, mengadakan kegiatan keagamaan, atau menjalankan program sosial di masyarakat. Semua kegiatan tersebut memerlukan kemampuan mengelola, berkomunikasi, dan berinovasi, yang merupakan inti dari kewirausahaan.
Selain itu, kewirausahaan juga membentuk ketahanan mental. Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kegagalan, penolakan, dan perubahan yang tidak terduga. Jiwa kewirausahaan membantu seseorang untuk bangkit, beradaptasi, dan mencari peluang baru dalam kondisi apa pun.

C. Hasil Wawancara dengan Pelaku Usaha
Pemahaman penulis mengenai kewirausahaan semakin diperkuat melalui hasil wawancara dengan ibunda penulis yang merupakan pelaku usaha kecil di bidang kuliner. Berdasarkan wawancara tersebut, diketahui bahwa ibunda telah mengenal dunia usaha sejak lama, dimulai dari membantu usaha milik orang lain hingga akhirnya mencoba menjalankan usaha secara mandiri.
Berbagai jenis usaha pernah dijalani, seperti menjual pakaian, aksesori, dan membuka warung sembako. Namun, kegiatan usaha tersebut sempat berhenti ketika ibunda memilih untuk fokus mengurus keluarga dan anak-anak. Keputusan ini menunjukkan bahwa dalam praktik kewirausahaan, seseorang harus mampu menyesuaikan pilihan usaha dengan kondisi kehidupan yang sedang dijalani.
Ketika penulis masih menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri dan adik penulis baru memasuki sekolah dasar, ibunda kembali memutuskan untuk membuka usaha. Usaha yang dipilih adalah berjualan makanan berupa nasi uduk, lontong, dan aneka gorengan. Pemilihan usaha ini didasarkan pada kemampuan dan pengalaman ibunda dalam memasak, serta kebutuhan masyarakat sekitar terhadap makanan siap saji.
Modal awal yang digunakan untuk memulai usaha tersebut berkisar antara Rp300.000 hingga Rp400.000. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kebutuhan bahan baku, modal harian bertambah menjadi sekitar Rp400.000–500.000. Dari usaha tersebut, keuntungan harian yang diperoleh berkisar antara Rp50.000–80.000, dan pada hari tertentu seperti hari Minggu, keuntungan dapat mencapai sekitar Rp100.000.
Dalam wawancara tersebut, ibunda menegaskan bahwa hal terpenting dalam usaha makanan adalah menjaga konsistensi rasa. Rasa merupakan identitas utama dari sebuah usaha kuliner dan menjadi alasan utama pelanggan kembali membeli. Selain itu, sikap sopan, ramah, dan jujur dalam melayani pembeli juga menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan konsumen.
Dari hasil wawancara ini, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan tidak selalu berkaitan dengan usaha besar atau keuntungan yang tinggi. Nilai-nilai seperti konsistensi, ketekunan, kejujuran, dan tanggung jawab justru menjadi faktor utama dalam menjaga keberlangsungan usaha kecil.

D. Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan merupakan ilmu yang penting dan relevan bagi semua orang, tidak terbatas pada mereka yang ingin menjadi pedagang atau pebisnis. Kewirausahaan membentuk pola pikir kreatif, mandiri, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Belajar kewirausahaan bukan berarti harus membuka usaha, tetapi belajar untuk memahami kehidupan, membaca peluang, dan memberikan solusi atas kebutuhan di sekitar. Oleh karena itu, pembelajaran kewirausahaan seharusnya dipandang sebagai bekal hidup yang berharga, bukan sebagai beban dalam dunia pendidikan.

E. Biodata Penulis
Salsa Cristint lahir di Beruge Ilir pada tanggal 24 November 2007. Ia merupakan warga negara Indonesia yang beragama Islam dan berdomisili di Taba Jemekeh, Kota Lubuk Linggau. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri 09 Tebing Tinggi, kemudian dilanjutkan dan diselesaikan di SD Negeri 5 B Srikaton hingga lulus pada tahun 2019. Pendidikan menengah pertama diselesaikan di SMP Negeri 11 Lubuk Linggau pada tahun 2022, dan pendidikan menengah atas di MAN 2 Lubuk Linggau pada tahun 2025. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan strata satu (S1) Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), semester I, di Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari Lubuk Linggau.