Semangat Jihad di Bulan Ramadhan
Oleh : M. Umar Husein *)
Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan Jihad
Perjuangan. Sejarah mencatat sejumlah peristiwa besar yang terjadi di bulan
ini, termasuk peperangan yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Perang Badar, Fathu Makkah
dan ekspedisi Tabuk; adalah contoh nyata bagaimana jihad fi sabilillah
berlangsung di bulan penuh berkah. Dengan
Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, Proklamasi Kemerdekaan RI pun dibacakan
pada hari ke-9 bulan Ramadhan 1364 Hijriyah/17 Agustus 1945 Masehi. Ramadhan
menjadi saksi lahirnya Republik Indonesia, menegaskan bahwa memperjuangan dan
menegakkan kemerdekaan adalah jihad fi sabilillah melawan penjajahan.
Nilai jihad dalam peristiwa-peristiwa tersebut tidak sekadar
militeristik, melainkan mencakup dimensi spiritual, sosial dan politik. Hal ini
relevan untuk direnungkan oleh umat Islam masa kini. Jihad berarti
bersungguh-sungguh atau berjuang, sedangkan fi sabilillah berarti “di jalan
Allah.” Maka, jihad fi sabilillah adalah segala bentuk usaha sungguh-sungguh
yang dilakukan seorang muslim untuk menegakkan Agama Allah dan mencari
ridha-Nya.
Namun akhir-akhir ini, banyak orang menafsirkan jihad tidak
terbatas pada peperangan. Dalam banyak tafsir dan penjelasan ulama, jihad
mencakup seluruh aktivitas mulia yang dilakukan dengan niat ikhlas dan
sungguh-sungguh karena Allah.
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan
jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan
kesukaran untukmu dalam agama.” (QS. Al-Hajj: 78)
Rasulullah ﷺ bersabda : “Barangsiapa
berperang di jalan Allah, maka ia benar-benar berjihad fi sabilillah.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Bentuk-Bentuk Jihad fi Sabilillah
Menurut para ulama, jihad fi sabilillah memiliki cakupan luas,
yakni :
Jihad dengan ilmu. Menuntut ilmu, mengajarkannya, dan menyebarkan kebenaran
termasuk jihad. Seorang pelajar yang tekun belajar untuk kemaslahatan umat juga
berjihad.
Jihad dengan harta, menginfakkan harta untuk dakwah, pendidikan, pembangunan
masjid, atau membantu fakir miskin adalah bagian dari jihad.
Jihad dengan lisan dan tulisan, menyampaikan kebenaran, berdakwah,
menulis karya ilmiah, atau menyebarkan pesan Islam melalui media adalah jihad.
Jihad dengan tenaga dan profesi, petani yang bekerja untuk
menghidupi keluarga, pedagang yang jujur, atau ilmuwan yang meneliti demi
kemaslahatan umat, semuanya termasuk jihad fi sabilillah.
Jihad dengan senjata (qital), dalam kondisi tertentu, jihad berarti
berperang melawan musuh yang mengancam agama dan umat Islam. Namun, ini hanya
berlaku dengan syarat-syarat syar’i : adanya pemimpin sah, tujuan membela agama
dan tidak melanggar aturan syariah.
Berbagai peristiwa penting terjadi. Dalam sejarah Rasulullah ﷺ pada bulan Ramadhan, terjadi
sejumlah peperangan yang menjadi tonggak perjuangan umat Islam. Berikut
rangkaian peristiwa perang yang tercatat :
1. Perang Badar (17 Ramadhan, Tahun 2 Hijriah)
Perang Badar adalah pertempuran besar
pertama antara kaum Muslimin dan Quraisy Makkah. Awalnya Rasulullah ﷺ mengutus sahabat untuk
menghadang kafilah dagang Quraisy, namun berujung pada pertempuran
terbuka. Jumlah tentara Kaum Muslimin
berjumlah sekitar 313 orang melawan 1.000 pasukan Quraisy, sangat tidak sebanding. Namun hasilnya, kaum Muslimin meraih
kemenangan besar. Perang ini disebut “Yaumul Furqan” (hari pembeda antara yang
haq dan batil).
2. Perang Khandaq (Persiapan di Bulan Ramadhan, Tahun 5 Hijriah)
Disebut juga Perang Ahzab, melibatkan koalisi Quraisy dan
sekutunya. Rasulullah ﷺ
bersama sahabat menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi
pertahanan. Persiapan besar dilakukan pada bulan Ramadhan, meski pertempuran
berlangsung setelahnya.
3. Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah, Ramadhan Tahun 8 Hijriah)
Rasulullah ﷺ bersama 10.000 pasukan Muslim memasuki Makkah tanpa perlawanan
berarti. Berhala-berhala di sekitar Ka’bah dihancurkan, dan Makkah kembali
menjadi pusat tauhid. Peristiwa ini menandai kemenangan besar Islam dengan cara
damai.
4. Perang Tabuk (Ramadhan Tahun 9 Hijriah)
Rasulullah ﷺ memimpin ekspedisi ke Tabuk untuk menghadapi ancaman Byzantium.
Meski tidak terjadi pertempuran besar, ekspedisi ini menunjukkan kekuatan umat
Islam dan memperluas pengaruh politik Islam.
Nilai Hikmah yang dipetik dari Peristiwa Perang Rasulullah di Bulan
Ramadhan
·
Keteguhan iman : Perang Badar menunjukkan bahwa kemenangan bukan ditentukan
jumlah pasukan, tetapi keteguhan iman.
·
Strategi dan persiapan : Perang Khandaq mengajarkan
pentingnya strategi dan kerja sama.
Kemenangan damai : Fathu Makkah menegaskan bahwa kemenangan terbesar
adalah ketika musuh tunduk tanpa pertumpahan darah.
·
Kekuatan politik Islam : Perang Tabuk memperlihatkan bahwa
Islam mulai diakui sebagai kekuatan besar di kawasan.
Allah menegaskan pentingnya jihad fi sabilillah, termasuk
dalam konteks peperangan :
- “Diizinkan
berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi.
Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka.” (QS. Al-Hajj:
39)
- “Berapa banyak
terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan
izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)
Kesimpulannya, bahwa bulan Ramadhan bukan hanya bulan ibadah
ritual, tetapi juga bulan perjuangan. Sejumlah peristiwa perang besar terjadi
pada bulan ini, menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum spiritual sekaligus
momentum sejarah perjuangan umat Islam merebut kemenangan.
Perang di bulan Ramadhan menunjukkan bahwa ibadah berpuasa tidak menghalangi perjuangan bertempur. Jika
dimotivasi oleh semangat Jihad fi sabilillah, maka bertambahlah energy, nyali,
keberanian, dan kekuatan melawan musuh. Resiko tewas di medan perang pun jadi
jembatan menuju syahid.
Survei SMRC (Saiful Muzani Research and Consulting) 2024 menunjukkan hanya 62,9% Muslim
Indonesia yang rutin berpuasa Ramadhan, sisanya jarang atau tidak berpuasa.
Data ini menunjukkan perlunya penyadaran sosial untuk meningkatkan kesadaran
beragama agar Islam dilaksanakan secara kaffah, tidak sepenggal-penggal,
sebagian diimani sebagian ditolak.
Rasulullah ﷺ menggunakan momentum Ramadhan untuk memperkuat legitimasi
politik Islam, Fathu Makkah adalah
contoh diplomasi damai yang menghasilkan kemenangan besar. Perang Tabuk
menuntut pengorbanan harta. Jihad dengan harta adalah bagian penting dari
perjuangan.
- Riset Alvara 2025 mencatat peningkatan konsumsi masyarakat
selama Ramadhan, terutama untuk kuliner dan hiburan digital. Hal ini
menunjukkan perlunya jihad ekonomi : mengendalikan konsumsi dan memperbanyak
sedekah.
Dengan demikian, nilai jihad dalam perang Rasulullah di bulan
Ramadhan mencakup dimensi keimanan utuh dan lengkap (kaffah), dirumuskan dan
dipandu oleh strategi perjuangan. Kemampuan mengerahkan potensi Sumber Daya
Manusia (tentara) dan logistik, konsolidasi dan garis komando untuk meraih kemenangan dan penguatan ummat
Islam. Adalah indikator kepemimpinan Rasulullah
menegakkan Risalah kenabian, menjadi acuan bagi ummatnya sepanjang hidup sampai
hari kiamat.
Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat ketakwaan sekaligus
memperjuangkan keadilan sosial. Dengan memahami nilai jihad fi sabilillah, umat
Islam Indonesia dapat menjadikan Ramadhan sebagai bulan perjuangan spiritual
dan sosial-politik, bukan sekadar ritual tahunan.