Breaking News

Berlian dari Tanah Merah



 Tulisan Oleh : Riski Dwi Wahyuni 

“Kewirausahaan adalah berlian dalam dirimu, ia mungkin tersembunyi di balik tantangan, tetapi ketika engkau terus mengasahnya, dunia akan menyaksikan kilau kejayaanmu.”

Mudah diucapkan namun sulit dilakukan, itulah yang terbesit dalam benakku setiap kali kata kewirausahaan terdengar. Tanpa pengalaman dan tanpa pandangan yang jelas, pikiranku dipenuhi tanda tanya: apa sebenarnya kewirausahaan itu? Mengapa harus berwirausaha? Dan apa yang sesungguhnya bisa didapat dari jalan yang sering disebut penuh risiko ini?

Banyak pertanyaan berputar di kepalaku, namun tak satu pun segera menemukan jawaban. Di bangku kuliah, kewirausahaan sering terdengar sebagai konsep, tentang ide, modal, dan keberanian mengambil risiko. Namun bagiku, semua itu masih terasa jauh, seolah berdiri di balik kaca yang bening namun tak bisa kusentuh.

Memikirkan semua itu membuatku teringat satu hal. Dahulu aku tumbuh bersama tanah merah yang perlahan dibentuk menjadi sebuah balok. Lempengan lembek yang ada kukumpulkan, kubuat bulatan-bulatan kecil untuk bermain.

Kenangan itu membawa langkah kakiku menyusuri jalan tanah di lingkungan tempat tinggalku. Di sana, deretan batu bata tersusun rapi di bawah terik matahari, merahnya kontras dengan debu yang menggantung di udara. Asap tipis mengepul dari kejauhan, naik perlahan, seakan ikut menyampaikan lelah dan harap para pembuatnya ke langit.

Aku berhenti sejenak. Untuk pertama kalinya, aku memandang batu bata bukan sekadar benda mati. Ada tangan-tangan kasar yang membentuknya, ada peluh yang mengering bersamanya, dan ada doa-doa sederhana yang terselip di setiap prosesnya. Saat itulah, tanpa kusadari, pertanyaan-pertanyaan tentang kewirausahaan mulai menemukan bentuknya sendiri, bukan dalam definisi, melainkan dalam kenyataan.

Di tempat sederhana itu, aku mulai memahami bahwa kewirausahaan tidak selalu lahir dari ide besar atau modal melimpah. Ia kadang tumbuh dari keberanian orang-orang biasa yang memilih bertahan, dari kesabaran yang ditempa hari demi hari, dan dari keyakinan bahwa kerja keras yang jujur tak pernah sia-sia.

Di sinilah aku, seorang mahasiswa Pendidikan Agama Islam, yang lebih sering berkutat dengan teori, justru menemukan pelajaran paling nyata dari pekerjaan yang terlihat sederhana, namun menyimpan lautan makna.


1. Di Bawah Langit Merah Bata

Di bawah langit yang merah bata, tanpa sengaja kedua binar mata ini menatap sayu seorang wanita dengan topi anyaman yang lusuh. Senyumnya sederhana, namun tak pernah rapuh. Dialah ibuku, seorang buruh yang tak mengenal kata lelah.

Setiap hari, pekerjaannya hanya mendorong gerobak berisi batu bata mentah, kemudian ditata kembali di tempatnya hingga membentuk tumpukan yang rapi dan menjulang, layaknya gedung-gedung di tengah kota. Pekerjaan itu beliau lakukan dari terbitnya sang mentari hingga senja kembali memerah, ketika langit kembali menjadi merah bata.

Demi sesuap nasi, tak ia hiraukan tangannya yang mengeras dan membengkak. Namun tangan itu tetap hangat ketika menggenggam, hangat yang menenangkan, hangat yang memberi kekuatan. Berkali-kali pertanyaan yang sama terucap, pertanyaan yang sejatinya tak memerlukan jawaban: apakah ibu tidak lelah?

Sudah pasti lelah. Usianya tak lagi muda, fisiknya pun telah renta. Namun dalam kamus hidupnya, tak pernah ada kata putus asa. Ia bekerja bukan karena memiliki banyak pilihan, melainkan karena ia memilih untuk bertahan.

2. Peluh yang Mengajariku Makna Usaha

Melihat kerja keras ibu yang mengartikan akan sebuah perjuangan, kesabaran, dan kegigihan, membuat angin berembus pelan, menyapu wajahku seolah ikut berbisik: kesabaran melahirkan kekuatan.

Teringat begitu banyak pula orang kami yang mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan usaha batu bata ini. Hampir setiap harinya, suara mesin terdengar menggelegar. Begitulah ketika pembuatan batu bata mulai dilakukan, tanah basah diaduk dan dimasukkan ke dalam mesin cetak, lalu dibawa dengan gerobak untuk dijemur di bawah terik matahari yang seperti tidak pernah ingin beristirahat. Dalam sekejap, keringat para pengrajin mengalir, seolah berlomba dengan panasnya hari.

"Kerja di sini bukan soal kuat atau tidak kuat, tetapi soal mau atau tidak mau."

Begitulah ucapan pengrajin yang acap kali terdengar. Sebagai bahan refleksi, aku mencatat ucapannya dalam hati. Di kampus, kami sering bicara tentang entrepreneurship mindset, inovasi, strategi, tetapi di sini aku melihat wujud paling murni dari ketekunan yang membumi.

Di sela-sela melihat bata dijemur, aku teringat sebuah ayat:
"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."
(QS. An-Najm: 39)

Ayat itu seperti menegaskan apa yang baru saja kulihat.
Usaha itulah yang membedakan antara tanah biasa dan bata yang mampu menopang rumah.

3. Api yang Membakar Ketakutan

Tungku pembakaran menyala menjelang sore. Api bergerak seperti makhluk hidup, menari, melahap, menguji setiap bata yang masuk ke perut merahnya.

Jika ditanya, apakah pernah gagal? Apakah selalu ramai pembeli?
Semua pertanyaan itu hanya memberikan senyuman tipis yang terukir pada wajah para pengrajin, seolah ada jawaban yang tak tersirat.

Jika kata gagal kulontarkan, mereka hanya tertawa kecil.
"Jika bata ini tidak digosongkan dengan benar, ia hancur. Begitu juga hidup kita. Kadang Allah mengizinkan panas datang bukan untuk membakar kita, tetapi untuk menguatkan."

Begitulah jawaban yang kudengar dari pengrajin yang tak lagi asing dengan kata kegagalan.

Kalimat itu menusuk lembut di dadaku. Aku teringat sebuah hadis Nabi:
"Sesungguhnya besarnya pahala itu sebanding dengan besarnya ujian."
(HR. Tirmidzi)

Hadis itu terasa berbeda ketika didengar di depan tungku yang menyala.
Aku melihat sendiri bagaimana panas membuat bata menjadi lebih kuat, bukan lebih lemah.

Kembali kutermenung, ketika melihat bata-bata yang tersusun rapi itu seperti menunggu nasib, diam namun sarat cerita. Kini, bata-bata itu tak lagi cepat berpindah tangan. Pembeli kian jarang datang, harga pun perlahan menurun. Namun lelah tetap sama. Tanah tetap harus diolah, api tetap harus dijaga.

Saat itulah aku memahami bahwa usaha tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Ada masa ketika kerja keras belum mampu mendatangkan keuntungan, bahkan sekadar untuk bertahan pun terasa berat.

Hari-hari sepi pembeli membuat beberapa pengrajin mengurangi produksi. Bata-bata dibiarkan menumpuk, merahnya perlahan memudar diterpa hujan dan panas, seperti harapan yang diuji oleh waktu.

Akankah terpikir untuk berhenti?
Berhenti itu mudah, tetapi menyerah, itulah yang berat di hati. Selama masih ada tenaga, selama masih bisa usaha yang halal, mengapa harus putus asa?

Aku teringat firman Allah:
"Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirah: 6)

Ayat itu terasa lebih hidup di tengah sepi peminat dan harga yang menurun. Kesulitan bukan sekadar ujian, melainkan bagian dari proses menempa keyakinan.

Meski pasar sedang lesu, para pengrajin tetap menjaga kualitas. Mereka percaya, rezeki mungkin tertunda, tetapi kejujuran tidak boleh ditinggalkan. Bata yang retak disingkirkan, yang kurang matang dibakar ulang. Prinsip itu tetap dijaga, meski keadaan memaksa untuk mengalah.

4. Rumah yang Tak Pernah Mereka Tinggali

Saat matahari condong ke barat, para pekerja mengangkut bata-bata matang. Merahnya indah, seperti menyimpan nyala semangat di dalamnya.

Sontak pertanyaan mulai muncul dalam kepalaku. Pernahkah mereka terpikir membangun rumah besar dari hasil kerja ini?

Mereka tersenyum, tetapi matanya redup. Menjawab bahwa memang benar mereka membangun rumah untuk orang banyak, tetapi rumah mereka sendiri sederhana saja. Yang terpenting ada tempat pulang dan hati yang tenang.

Aku tercekat.
Ada rasa haru yang menjalar seperti air panas dari tungku. Betapa sering kita menikmati hasil kerja orang lain, sementara mereka sendiri tidak pernah merasakannya. Namun di balik kesederhanaan itu, ada kebanggaan yang tidak bisa dibeli.

5. Di Antara Bata dan Doa

Langit senja memerah, mirip dengan warna bata yang baru matang. Aku berdiri di ujung area pembakaran sambil memandangi ratusan bata yang tersusun rapi.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa setiap bata bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga hasil kesabaran, doa, dan keikhlasan orang-orang yang hidup dari tanah.

Bata-bata itu seperti manusia:
• Dibentuk oleh tangan yang penuh harapan
• Dijemur oleh panas ujian
• Dikuatkan oleh api kehidupan
• Dan akhirnya menguatkan orang lain

Sembari menikmati angin senja yang hangat, kuteringat salah satu pesan pengrajin.
"Jika hidupmu terasa berat, jangan buru-buru mengeluh. Bata saja perlu dijemur, diuji, dibakar. Barulah ia layak menjadi penopang."

Aku tersenyum. Sejak saat itu, aku tahu, berlian yang disebut-sebut itu mungkin memang ada. Ia tidak berkilau sejak awal, tidak pula mudah ditemukan. Namun di balik debu, panas, dan kelelahan, aku mulai belajar bahwa setiap usaha adalah proses mengasah diri, perlahan, perih, tetapi penuh makna.

Menjelang senja, aku memandang tumpukan bata yang masih tersisa. Bata-bata itu seperti diam, namun sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu, tentang sabar yang tidak gaduh, tentang ikhtiar yang tidak banyak bicara, dan tentang iman yang diuji bukan saat lapang, melainkan saat sempit.

Aku teringat sabda Rasulullah:
"Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya."
(HR. Thabrani)

Di desa kecil pembuat batu bata ini, aku belajar bahwa kewirausahaan bukan hanya soal berani memulai, tetapi juga tentang setia pada proses, bahkan ketika hasil tidak segera tampak. Harga boleh turun, pembeli boleh sepi, namun nilai kerja keras, kejujuran, dan tawakal tidak pernah kehilangan maknanya.

Mungkin inilah berlian itu, bukan yang berkilau di etalase keberhasilan, melainkan yang tersembunyi dalam kesabaran orang-orang yang memilih bertahan. Dari tanah, api, serta doa-doa yang tak terdengar, aku belajar bahwa kegigihan adalah bentuk kewirausahaan paling sunyi, namun paling nyata.

Biodata Penulis

Riski Dwi Wahyuni merupakan seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari Lubuk Linggau. Ia lahir di Desa H. Wukirsari pada tanggal 27 Juli 2006 dan saat ini menempuh pendidikan pada Program Studi Pendidikan Agama Islam. Riwayat pendidikannya dimulai dari SD Negeri Wukirsari yang diselesaikan pada tahun 2019, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri Wukirsari dan lulus pada tahun 2022. Pendidikan menengah atas ia selesaikan di SMA Negeri Tugumulyo pada tahun 2025.

Ia tumbuh di lingkungan masyarakat pembuat batu bata, sebuah realitas yang membentuk cara pandangnya tentang kerja keras, ketekunan, dan makna usaha yang dijalani dengan kejujuran. Melalui tulisannya, ia berupaya menghadirkan kewirausahaan bukan hanya sebagai konsep ekonomi, tetapi sebagai perjalanan iman, kesabaran, dan keberanian bertahan di tengah keterbatasan. Buku ini menjadi salah satu ikhtiarnya dalam merekam pelajaran hidup dari usaha-usaha sederhana yang kerap luput dari perhatian.