Tahapan Beragama
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita.my.id. - Ada tiga tahapan dalam beragama, yaitu tahapan dogmatis, rasional, dan spiritual. Pada tahapan pertama, agama berupa ajaran yang berisi perintah tanpa syarat serta tanpa pengertian rasional tentang makna dan tujuan yang sesuai dengan perintah tersebut. Tahap ini, meskipun dapat membawa perubahan besar dalam sejarah sosial, kultural, dan politik suatu bangsa, tidak menimbulkan pertumbuhan serta perkembangan ruhaniah secara individual.
Pada tahapan kedua, kehidupan beragama berupa pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna dan tujuan perintah dalam ajarannya. Pada tahap ini, perhatian terpusat pada upaya mencari penjelasan logis dan rasional tentang hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Pada tahapan ketiga, kehidupan beragama berupa usaha menemukan Sang Pencipta dan mengadakan hubungan langsung dengan Realitas Terakhir, yaitu Allah. Pengalaman keagamaan tentang hubungan langsung antara manusia dengan Allah bersifat individual dan hanya dapat dikomunikasikan kepada orang lain jika yang mengalaminya memiliki ilmu, seperti tasawuf dan filsafat. Dalam uraian ini, perhatian hanya difokuskan pada tahapan beragama yang ketiga.
Dalam pengalaman kehidupan sehari-hari, kita senantiasa hidup dan bergerak dalam persaingan. Dunia lahiriah hanyalah bangunan yang dibentuk oleh intelek. Kita tidak berminat menemukan apa yang berada di balik yang lahiriah. Kita hanya berkutat dalam dunia lahiriah dan tidak berusaha mencapai individualitas yang hakiki (jati diri).
Puncak kehidupan keagamaan adalah penemuan diri yang sebenarnya. Jati diri hanya bisa ditemukan melalui kontak dengan Allah, dan jati diri pun hanya bisa ditemukan dalam Allah. Karena jati diri itu berasal dari Allah, berada dalam pengetahuan Allah, berada dalam kekuasaan Allah, serta bergantung sepenuhnya pada kekuatan Allah, maka satu-satunya cara untuk menyingkapkan hubungan ruhaniah manusia dengan Allah adalah melalui pengalaman keagamaan.
Perjalanan menuju Allah bersifat individual, baik dalam teori maupun praktik. Perangkat untuk menempuh perjalanan menuju Allah adalah pikiran, kesadaran, dan hati. Dengan pikiran, kita bisa mengerti, mengetahui, dan memahami Allah itu apa, siapa, di mana, bagaimana, dan seterusnya. Dengan kesadaran, kita menyadari adanya hubungan serta ketergantungan kita dengan Allah. Dengan hati, kita merasakan kekuatan Allah, petunjuk, bimbingan, tuntunan, pertolongan, dan perlindungan Allah.
Kebanyakan orang tidak menggunakan potensi ruhaniahnya secara maksimal. Mereka hanya sibuk dengan potensi jasmaniah, sehingga hanyut dan tenggelam dalam tumpukan fakta-fakta indrawi saja. Akibatnya, mereka terlepas sama sekali dari kedalaman wujud dirinya sendiri yang belum mereka sadari.
Hanya dengan memahami asal usul, masa depan, dan nasib terakhirnyalah manusia pada akhirnya dapat mengatasi serta memecahkan problem dasar yang dihadapinya. Dengan memahami asal usulnya, manusia dapat mengetahui bahan dan hakikat jati dirinya. Dengan memahami masa depannya, manusia bisa mengetahui tempat kembalinya. Dengan memahami nasib terakhirnyalah manusia dapat menemukan jati dirinya yang sebenarnya.
Agama sebagai usaha untuk menemukan jati diri yang sebenarnya (jati diri) dan akar ontologisnya, yaitu Allah, merupakan satu-satunya jalan yang dapat dipercaya membuahkan hasil. Yang diperlukan adalah orang yang mampu menghidupkan kembali semangat kehidupan beragama sebagai sarana mencapai Realitas Terakhir, Yang Mutlak, dan Yang Esa, yaitu Allah.
Agama mampu mengubah budak menjadi pemimpin dunia (umat manusia) serta mengilhami timbulnya perubahan besar di dunia. Kekuatan ruhaniah pengalaman keagamaan itu tampak dalam gerakan yang dipelopori oleh Nabi Muhammad Saw. Gerakan tersebut membangkitkan semangat kehidupan baru yang bertitik tolak dan bertumpu pada landasan yang baru pula.
Pengalaman keagamaan memiliki arti eksistensial yang sangat penting bagi diri manusia. Diri manusialah yang dapat menjulang tinggi dengan cara menggabungkan dirinya sendiri dengan Yang Mutlak. Tujuan terakhir diri bukanlah melihat sesuatu, tetapi menjadi diri yang lebih fundamental. Bukan sebagai aku yang berpikir, melainkan sebagai aku yang menjadi pelaku kerja kreatif.
Pencarian diri yang sebenarnya (jati diri) bukanlah pembebasan diri dari keterbatasannya, tetapi menemukan pemahaman yang lebih mendalam tentang hakikatnya. Hasil akhirnya adalah pengukuhan wujud diri, peningkatan daya kreatif, dan ketajaman penglihatan, sehingga tampak bahwa dunia ini bukanlah sesuatu yang hanya dilihat, melainkan sesuatu yang harus dibangun dengan kerja keras terus-menerus dan tiada henti.
Apakah mi’raj itu? Mi’raj adalah berdiri di hadapan Allah tanpa goyah sedikit pun. “Kuatkan dirimu dan jangan sampai goyah! Jika tidak, dirimu hanyalah kepulan adab belaka.” Semoga Allah memberi kita kekuatan dan kesanggupan serta memudahkan kita memperoleh karunia yang diridai-Nya. Aamiin ya Rabbal Alamin.

