In Another Life, ITB
(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)
Jendelakita.my.id. - Setiap manusia pasti memiliki mimpi yang begitu ingin diwujudkan, makanan favorit yang ingin dinikmati, bahkan seseorang yang ingin diajak menjalani hidup bersama.
Namun, jika hanya ada keinginan tanpa disertai usaha, semuanya hanya akan menjadi debu di dalam benak, serpihan kecil dari ingatan yang perlahan memudar, kemudian menjelma menjadi rasa sakit ketika kenyataan berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi.
Sedih, kecewa, dan menangis adalah hal paling mendasar yang dilakukan manusia ketika rencananya runtuh. Entah karena usaha yang belum cukup, doa yang masih lirih, atau memang takdir belum mengizinkan.
Di kehidupan yang hanya satu kali ini, aku menyimpan satu keinginan besar terhadap sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Siapa yang tidak terpikat? Siapa yang tidak ingin menjadi bagian darinya? Institut Teknologi Bandung bukan sekadar perguruan tinggi, melainkan benteng kalkulasi, pusat ilmu teknik, sekaligus rumah bagi orang-orang hebat yang mendedikasikan hidupnya pada kerumitan angka dan ketepatan.
Sebagai seseorang yang selalu menemukan ketenangan dalam angka, rumus, dan logika matematika, ITB bukan sekadar kampus bagiku. ITB adalah ruang impian, tempat setiap perhitungan matematis seolah memiliki jiwa, tempat berbagai persoalan teknik dapat diurai melalui analisis mendalam dan ketelitian tanpa celah.
Namun, dalam kehidupan yang hanya satu kali ini, takdir tampaknya belum berpihak kepadaku. Mungkin untuk saat ini, aku hanya diperbolehkan berandai-andai tanpa benar-benar memiliki kesempatan untuk berada di sana.
In another life, ya ITB, semoga aku bisa bertemu denganmu. Mengenakan almamater kebanggaan, berjalan menyusuri selasar Ganesha, berkutat dengan tumpukan tugas kalkulus, pemodelan sistem, hingga analisis data numerik yang rumit. Aku membayangkan sore-sore produktif di sebuah coffee shop di Bandung bersama teman-teman seperjuangan. Laptop terbuka, kertas grafis dipenuhi coretan rumus, dan kami sibuk membedah simulasi teknik sambil menikmati dinginnya udara kota.
Dan jika pada akhirnya takdir mengubah arahnya di dunia ini, izinkan aku melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Semoga langkah S2-ku kelak bermuara di ITB, menembus fakultas teknik impian, bergulat dengan kerumitan angka yang lebih tinggi, lalu keluar sebagai lulusan terbaik.
In another life... or maybe in the next step of this life, wait for me.