Breaking News

Hari Liburku


 Tulisan oleh : Elsa Okta Viani 

(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)

Jendelakita.my.id. - Kesunyian subuh merayap perlahan. Udara dingin menusuk tulang, sementara suara jangkrik yang mulai lelah masih terdengar di kejauhan. Tak lama kemudian, sayup-sayup azan dari masjid di ujung gang terdengar membangunkan desa dari lelapnya.

Sesaat setelah azan berkumandang, aku mendengar suara ibu yang membangunkanku untuk segera mengambil wudu dan melaksanakan salat Subuh.

"Bangun nak, ayo kita sholat bersama," ucap ibu yang sudah mengenakan mukena.

"E-em iya sebentar bu, aku masih ngantuk nih," sahutku.

Namun, tanpa sengaja aku kembali tertidur. Padahal, ibu dan ayah sudah menungguku. Beberapa saat kemudian, ibu kembali membangunkanku karena waktu salat Subuh hampir habis.

"Heh, kok malah tidur lagi, ayo bangun! Keburu habis waktunya, nanti kamu nggak sholat," ucap ibu.

"Hoo-ah, ya santai bu, sabar dikit dong!" jawabku dengan kesal.

Setelah itu, ibu meninggalkan kamarku tanpa sepatah kata pun. Aku pun kembali tertidur.

Pagi akhirnya tiba. Matahari telah terbit dan sinarnya mulai masuk melalui celah jendela. Ketika terbangun, aku langsung membuka ponsel yang berada di sampingku.

"Waduh, sudah jam 08.00, mana aku tidak sholat subuh, biar aja lah sesekali pasti ibu ngga marah," ucapku sambil tersenyum.

Aku segera bergegas menuju dapur untuk mencari ibu. Sesampainya di dapur, aku tidak melihat ibu. Di sana hanya ada ayah yang sedang mengaduk secangkir kopi. Aku kemudian membuka tempat makanan dan melihat berbagai hidangan lezat yang sudah dimasak oleh ibu.

Tiba-tiba, terlintas dalam pikiranku, "Kasihan ibu, semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan, pasti ibu capek, belum lagi tadi aku membuatnya kesal, aku harus minta maaf sama ibu..".

Aku pun segera bertanya kepada ayah.

"Yah, ibu dimana? Kok didapur tidak ada?" tanyaku.

"Ibu didepan lagi menyirami bunga, sana kamu bantuin," jawab ayah.

"Iya ayah, ngomong-ngomong ibu sudah makan belum?" jawabku sembari bertanya.

Ayah kemudian menjawab, "Sepertinya belum, coba kamu bawakan saja."

Aku segera membawa makanan dan berlari keluar rumah untuk menghampiri ibu. Sesampainya di teras depan, aku memanggil ibu sambil tersenyum kepadanya.

Kami kemudian duduk bersama di teras rumah. Aku pun segera meminta maaf kepada ibu.

"Bu aku minta maaf ya, tadi aku membuat ibu kesal, tidak seharusnya aku begitu," ucapku.

"Ya gapapa nak, besok lagi kalau tidur jangan malam-malam, biar kalau bangun tidak kesiangan, jangan seperti tadi, kamu jadi ngga sholat subuh kan," jawab ibu.

Setelah itu, kami makan bersama di teras rumah. Suasana menjadi hangat dengan obrolan dan tawa kecil di antara kami.

Dari kejadian itu, aku memahami betapa luasnya kesabaran yang dimiliki ibu. Meskipun sempat kesal, ibu tetap memaafkanku dan memberikan nasihat yang baik.

Oleh karena itu, selagi kita masih diberi umur panjang dan kesehatan, gunakanlah kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Sayangilah kedua orang tua dan jangan pernah melupakan Sang Pencipta.