Breaking News

Gunung Anak Krakatau

 


 Tulisan oleh : Mirna lestari

(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)

Jendelakita.my.id. - Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dan beberapa kali erupsi sepanjang bulan ini. Kondisi tersebut tidak hanya berpotensi mengancam keselamatan masyarakat, tetapi juga dapat menimbulkan polusi udara akibat paparan abu vulkanik.

Secara historis, Gunung Anak Krakatau muncul pada 1927 dari kaldera bawah laut yang merupakan sisa letusan Gunung Krakatau pada 26–27 Agustus 1883. Letusan tersebut tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik terbesar di dunia dengan kekuatan mencapai 200 megaton TNT. Dentumannya bahkan terdengar hingga Australia dan China.

Runtuhnya tubuh Gunung Krakatau ke laut kemudian memicu tsunami dahsyat yang menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Dampak letusan itu juga tidak hanya dirasakan di wilayah sekitar Krakatau. Material vulkanik yang tersebar ke atmosfer turut memengaruhi kondisi bumi, menurunkan suhu global sebesar 1,2°C, serta memicu perubahan iklim, gagal panen, dan krisis pangan yang berlangsung cukup lama.

Kekhawatiran terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali muncul setelah saya menonton tayangan Nadia Omara mengenai letusan Gunung Krakatau purba pada 1883. Kisah tentang dahsyatnya letusan tersebut membuat saya berpikir sekaligus merasa takut jika suatu saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi besar seperti induknya.

Tentunya, harapan kita adalah sejarah kelam letusan Krakatau pada 1883 tidak kembali terulang. Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau perlu terus dipantau dan masyarakat di sekitar kawasan tersebut diharapkan selalu mengikuti informasi serta imbauan dari pihak berwenang.