Di Balik Luka, Masih Ada Harapan
Tulisan oleh : Sabrina Ramadhanie Putri
(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)
Jendelakita.my.id. - Manusia-manusia malang yang terbengkalai dalam kesedihan, terkurung dalam kegelapan, tetapi masih percaya bahwa suatu keajaiban akan datang.
Cacian dan teriakan terus terdengar, bahkan sumpah serapah seakan tidak pernah berhenti. Namun, jiwa ini tetap memilih untuk berdiri.
Manusia memang seperti itu. Ketika tidak menyakiti diri sendiri, terkadang mereka justru menyakiti orang lain.
Apakah tidak ada sesuatu yang dapat membuatmu terdiam? Memberikan bualan hanya untuk menenangkan keadaan sesaat, mengamankan diri sendiri, lalu berpura-pura seolah semuanya akan dipercaya. Manusia memang makhluk yang unik.
Perkataanmu begitu manis, semanis gula. Dirimu diagung-agungkan ketika jiwamu hadir. Namun, tanpa disadari orang lain, dirimu justru telah menenggelamkan seseorang yang sebenarnya membutuhkan dekapanmu, kehadiranmu, serta seluruh kasih sayang dan cinta darimu.
Nyaris kehilangan nyawa, tubuhnya berlumuran darah, bahkan separuh jiwanya seakan telah hilang ditelan malam.
Apakah masih ada manusia yang tidak rela jika buah hatinya merasakan pahitnya kenyataan, merasakan sakit karena ditusuk dari belakang, sementara tidak ada satu pun manusia yang berusaha membantunya untuk kembali hidup?
Jika diriku benar-benar tidak memiliki perasaan, mungkin sudah sejak lama aku mengasingkan diri.
Namun, harapan itu masih ada, meskipun hanya sebesar biji jagung. Aku masih percaya bahwa dirimu menyayangiku, meskipun pada kenyataannya dirimu telah melukaiku dengan begitu hebat.
Percayalah, rasa sakit yang kuterima akan menjadi anak panah paling tajam. Anak panah itu akan menembus segala sesuatu yang bahkan tidak mungkin dilihat oleh orang lain, termasuk oleh dirimu sendiri, dari dalam diriku.