Bunga Bersimbah Darah
Tulisan oleh : Cahaya Dewi Sakina
(Siswa SMA Negeri Tugumulyo / Peserta Bimtek Literasi BACA - DISKUSI - AKSI - Relima Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Lokus Kabupaten Musi Rawas)
.......................
“Waahh!”
Suara riuh terdengar dari berbagai sudut istana. Suasana bahagia menyelimuti tempat itu, dipenuhi para tamu yang datang dari berbagai penjuru.
Setiap sudut istana dihiasi kain sutra putih dan rangkaian bunga pernikahan. Di kamar pengantin, seorang wanita cantik tengah bercermin. Ia mengenakan gaun putih gading yang sangat indah. Di sampingnya terdapat berbagai perlengkapan rias wajah.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu.
"Kakak boleh aku masuk?"
"Masuk lah."
Seorang wanita cantik berwajah bulat dengan fitur lembut kemudian masuk sambil membawa nampan berisi hiasan kepala emas yang tampak sangat indah.
"Kakak ini, hiasan rambut ini dibuat khusus oleh ayah untuk pernikahan mu," katanya lembut sambil meletakkan nampan tersebut di meja rias.
"Terima kasih, bisa pasang kan itu untuk ku Rebecca."
"Tentu saja."
Rebecca mengambil jepit rambut berbentuk bunga di antara hiasan kepala lainnya. Ia kemudian berjalan mendekati sang kakak dan memasangkan jepit tersebut dengan hati-hati.
Setelah seluruh hiasan kepala terpasang sempurna, Rebecca memandangi kakaknya dengan kagum.
Kemudian, ia mengeluarkan sebuah gelang yang sangat cantik dari saku rok panjangnya dan menunjukkannya kepada sang kakak.
"Kakak lihat, aku mendapatkan ini dengan susah payah, aku berikan sebagai hadiah pernikahan," katanya. Sebelum mendengar jawaban sang kakak, Rebecca langsung memasangkan gelang itu ke lengan putih kakaknya.
"Terima kasih Rebecca, aku menyukainya," ucap gadis itu sambil memandangi gelang yang melingkar di tangannya.
Tidak lama berselang, kembali terdengar ketukan di pintu. Suara berat, tetapi lembut, terdengar dari balik pintu.
"Antheia, apa kau sudah siap?"
"Sebentar lagi ayah," jawab Antheia.
Ia berdiri dan berjalan menuju meja yang tidak jauh dari meja rias. Antheia kemudian mengambil kerudung putih gading dan memasangkannya di kepalanya.
"Ayo kakak kita keluar."
Keduanya meninggalkan kamar dan berjalan menuju altar. Sang ayah yang sebelumnya menunggu di depan pintu ikut mendampingi mereka, sementara Rebecca menggandeng tangan kakaknya.
Di altar pernikahan yang terbuka, para tamu telah duduk di meja masing-masing. Di bagian tengah altar berdiri seorang pria tampan mengenakan jas putih yang sangat rapi. Ia menunggu kedatangan Antheia.
Di belakang meja altar, seorang pendeta mengenakan pakaian gereja berwarna putih sambil memegang kitab.
Melihat Antheia datang, pria tampan itu berjalan menghampirinya. Ia menggenggam tangan Antheia dan menuntunnya dengan lembut menuju altar.
Mereka berjalan perlahan hingga tiba di hadapan pendeta. Prosesi pernikahan pun dimulai. Setiap tahapan berlangsung dengan khidmat hingga akhirnya tiba pada bagian pengucapan janji pernikahan.
"Antheia Bloudewedd, apakah engkau bersedia menerima Austin Gradel sebagai suami mu?"
"Saya bersedia."
"Austin Gradel apakah engkau bersedia menerima Antheia Bloudewedd sebagai istri mu?"
"Saya bersedia."
"Baiklah ciumlah istrimu untuk yang pertama kalinya."
Mendengar perkataan tersebut, Austin mengangkat tangannya perlahan. Ia membuka kerudung yang menutupi wajah Antheia, kemudian mendekatkan wajahnya untuk mencium sang pengantin.
Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Antheia tiba-tiba mendorongnya menjauh. Wajah gadis itu tampak sangat pucat. Garis-garis biru kehitaman terlihat di sekitar lehernya dan menjalar hingga ke wajah.
Para tamu yang melihat kondisi tersebut sontak berteriak panik.
"Dia menggunakan sihir iblis!"
Entah siapa yang pertama kali meneriakkan tuduhan itu. Para tamu langsung berhamburan dan menuduh Antheia menggunakan sihir iblis.
"Tidak aku tidak menggunakan nya," jelas Antheia dengan panik kepada orang-orang yang menuduhnya.
Namun, tidak seorang pun menghiraukan perkataannya. Tuduhan terus dilontarkan. Bahkan, beberapa orang mengeluarkan pedang dan mengarahkannya kepada Antheia dengan wajah penuh kemarahan.
Dari sudut matanya, Antheia melihat Rebecca. Adiknya tampak sedih, seolah-olah ingin membantunya. Namun, Antheia dapat melihat dengan jelas senyum bahagia yang tersimpan di mata Rebecca.
"Rebecca?"
Antheia menatap adiknya dengan kebingungan. Entah mengapa, hatinya terasa begitu sakit. Kemarahan mulai memenuhi dirinya. Energi di sekitar tubuhnya perlahan menguat, diselimuti aura hitam dan merah pekat.
Pria yang seharusnya menjadi suaminya kemudian mengangkat pedang dan mengarahkannya kepada Antheia.
"Maaf kan aku tapi seorang yang menggunakan sihir iblis harus di bunuh."
Ucapan itu terasa sangat menyakitkan bagi Antheia.
Dalam keadaan marah, ia menyerang Austin secara membabi buta, seolah-olah tidak lagi mampu mengendalikan tubuhnya sendiri.
Pertarungan sengit pun terjadi. Orang-orang yang berusaha melindungi Antheia juga menjadi korban dan terbunuh oleh para tamu.
Melihat keadaan semakin membahayakan dirinya, Antheia memutuskan melarikan diri. Dengan kecepatan tinggi, ia berhasil menjauh dari tempat tersebut.
Namun, di tengah perjalanan, pamannya menghadangnya.
"Paman, tolong aku mereka mencoba membunuh ku," katanya dengan panik di hadapan sang paman.
"Hahaha, itu pantas untuk mu, kau dan ayah mu memang seharusnya mati."
Ucapan tersebut membuat Antheia terkejut. Dengan penuh kemarahan, ia maju dan berusaha menyerang pamannya.
Namun, sebelum berhasil mendekat, sebuah jarum es menembus perutnya dan membuat tubuhnya terdorong mundur.
Meski terluka parah, Antheia menggertakkan gigi dan bangkit. Dengan suara penuh amarah, ia bertanya,
"Di mana ayah ku?"
Suaranya terdengar menekan, sementara darah mulai mengalir dari mulutnya.
Darah dari luka di perutnya juga terus merembes keluar dan membasahi gaun putih yang telah kotor serta compang-camping. Warna merah pekat perlahan menyebar di atas kain putih tersebut.
"Ayah mu? Dia sudah mati di aula leluhur."
Mendengar jawaban itu, Antheia berlari untuk mencari ayahnya. Namun, pamannya kembali berusaha menghentikannya. Setelah berjuang keras, Antheia akhirnya berhasil melepaskan diri dan melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di aula leluhur, ia menemukan ayahnya dalam keadaan mengenaskan. Tubuh sang ayah terbalut es yang sangat tebal, sementara sejumlah bagian tubuhnya tertusuk bongkahan es.
Tiba-tiba, pintu didorong dengan keras hingga menghantam dada kanan Antheia. Tubuhnya terdorong ke belakang dan menancap pada tiang.
Seseorang yang seharusnya menjadi suaminya kemudian menusukkan belati ke tubuhnya.
"Kenapa, kenapa kau melakukan ini?"
"Memangnya kenapa, kau tidak pantas menjadi seorang saintess yang pantas hanya Rebecca, kau kira kenapa aku menikahimu?"
" Itu tidak lebih untuk membunuhmu dan mengambil artefak itu."
Aura di sekitar tubuh Antheia kembali menguat. Dengan sisa tenaganya, ia berhasil melepaskan diri dan kembali berlari menjauh.
Ia berjalan di tengah hamparan salju. Setiap langkah yang diambilnya meninggalkan jejak darah di atas permukaan putih.
Tidak lama kemudian, Antheia merasakan aura seseorang yang semakin mendekat. Ia pun berlari secepat mungkin untuk menghindari kejaran.
Namun, nasib kembali tidak berpihak kepadanya. Di hadapannya terbentang jurang yang sangat dalam.
Tidak lama kemudian, orang yang mengejarnya tiba di tempat tersebut.
Rebecca.
Orang yang selama ini paling dipercayai Antheia kini berdiri di hadapannya dengan senyum penuh kemenangan. Ia berjalan perlahan mendekati kakaknya.
"Sudahlah kakak ku sayang, serahkan saja artefak nya pada ku."
"Apa yang kau bicarakan aku tidak memiliki nya."
"Berhenti lah berpura-pura, jika kau menyerah kan artefak nya aku akan mengampuni mu."
"Hahaha, mengampuni ku setelah semua ini!! Lebih baik aku mati."
Setelah mengatakan itu, Antheia membentuk sebuah pedang es dan mengarahkannya ke jantung Rebecca. Namun, serangannya gagal karena Rebecca berhasil menghindar.
Melihat Antheia gagal menyerang Rebecca, Austin yang berada di dekatnya diliputi kemarahan. Ia kemudian mengarahkan pedangnya ke jantung Antheia.
Pedang itu berhasil menembus tubuh Antheia. Austin kemudian mendorongnya hingga tubuh Antheia terjatuh ke arah jurang.
Rasa panas dan sakit yang luar biasa menjalar dari dada kirinya. Perlahan, kesadaran Antheia mulai menghilang.
Di penghujung hidupnya, hanya kebencian dan kemarahan yang tersisa di dalam hatinya.
.
.
.