Hikmah Hijrah Masa Kini
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita.my.id. - Hijrah merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan tempat dari Makkah ke Madinah, tetapi juga menjadi simbol perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan iman dalam mempertahankan ajaran Islam.
Ketika berhijrah, Rasulullah Saw. ditemani oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Keduanya meninggalkan Kota Makkah secara diam-diam karena kaum Quraisy telah merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah Saw. Berbagai upaya dilakukan oleh kaum Quraisy untuk menghalangi dakwah Islam, sehingga hijrah menjadi langkah strategis demi menjaga keselamatan Rasulullah Saw. dan keberlangsungan syiar Islam.
Perjalanan hijrah yang ditempuh Rasulullah Saw. dan Abu Bakar r.a. bukanlah perjalanan yang mudah. Berbagai kesulitan dan bahaya harus mereka hadapi. Mereka terus diburu oleh kaum Quraisy yang berusaha menangkap dan mengembalikan mereka ke Makkah. Namun, dengan pertolongan Allah Swt., keduanya akhirnya tiba dengan selamat di Quba, sebuah daerah yang terletak dekat Yatsrib, pada hari Senin, 12 Rabiul Awal.
Tidak lama kemudian, Rasulullah Saw. bersama para sahabat memasuki Kota Yatsrib. Sejak saat itu, Yatsrib dikenal dengan nama Madinah Munawwarah yang berarti “kota yang bercahaya” atau “kota yang diterangi cahaya kenabian”. Dari kota inilah peradaban Islam berkembang dan menjadi pusat penyebaran ajaran Islam ke berbagai penjuru dunia.
Hijrah merupakan perjuangan yang sangat berat. Para sahabat rela meninggalkan kampung halaman, keluarga, harta benda, bahkan mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan keimanan dan menegakkan agama Allah. Pengorbanan yang besar tersebut menjadi bukti ketulusan mereka dalam memperjuangkan Islam.
Oleh karena itu, Allah Swt. menjanjikan pahala yang agung bagi orang-orang yang berhijrah di jalan-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 100:
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat yang dituju, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100).
Namun demikian, Rasulullah Saw. juga mengingatkan bahwa nilai sebuah hijrah sangat bergantung pada niat yang melatarbelakanginya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan tujuan yang diniatkannya.” (HR. Bukhari).
Peristiwa hijrah Rasulullah Saw. mengandung berbagai hikmah yang sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masa kini.
Pertama, hijrah dapat dimaknai sebagai hijrah insaniyah, yaitu perubahan cara pandang terhadap sesama manusia. Islam mengajarkan bahwa seluruh manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah Swt. Kekayaan, jabatan, kedudukan sosial, maupun keturunan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Kemuliaan yang sesungguhnya hanya ditentukan oleh tingkat ketakwaan kepada Allah Swt., sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13.
Kedua, hijrah dapat dimaknai sebagai hijrah tsaqafiyah, yaitu perubahan budaya dari budaya jahiliah menuju budaya yang beradab dan berakhlak mulia. Kehadiran Islam membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Arab yang sebelumnya dipenuhi berbagai praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Dengan demikian, hijrah pada masa kini dapat diwujudkan melalui upaya memperbaiki karakter, etika, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, hijrah dapat dimaknai sebagai hijrah islamiyah, yaitu perubahan menuju kepasrahan dan ketundukan yang lebih sempurna kepada Allah Swt. Hijrah bukan hanya perpindahan fisik, melainkan juga perpindahan hati dan perilaku. Hijrah berarti meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, ketergantungan kepada selain Allah, serta berbagai kebiasaan yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai Islam. Sebaliknya, hijrah mengarahkan manusia untuk menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya tempat bersandar dan memohon pertolongan dalam menjalani kehidupan.
Dengan demikian, makna hijrah tidak terbatas pada peristiwa sejarah yang terjadi lebih dari empat belas abad yang lalu. Hijrah merupakan proses perubahan diri yang harus terus dilakukan oleh setiap Muslim agar menjadi pribadi yang lebih beriman, berakhlak mulia, dan lebih dekat kepada Allah Swt.
