Breaking News

Dipersaudarakannya Kaum Muhajirin dan Anshar


 Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.  (Pengamat politik dan hukum)

Jendelakita.my.id. - Salah satu buah terbesar dari peristiwa hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. bersama para sahabatnya adalah dipersaudarakannya kaum Muhajirin dan Anshar. Semoga Allah Swt. meridhai mereka semua. Peristiwa ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kemanusiaan, yaitu tentang pengorbanan, pembelaan terhadap sesama, serta itsar (mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi). Inilah bentuk persaudaraan yang sejati dan tulus.

Seandainya kisah persaudaraan tersebut tidak sampai kepada kita melalui sanad yang sahih dan terpercaya, mungkin banyak orang akan menganggapnya sebagai khayalan atau gagasan yang sulit diterima akal. Namun, keimanan yang benar akan menerima dan membenarkan berita tersebut. Demikianlah, selalu ada orang-orang yang ikhlas dan jujur dalam barisan orang-orang yang beriman.

Persaudaraan yang dibangun oleh Rasulullah saw. merupakan landasan pokok dan fondasi utama dalam membangun tatanan masyarakat Islam yang ideal. Masyarakat tersebut tumbuh dari benih-benih ukhuwah, cinta kasih, keadilan, solidaritas, saling menolong, pengorbanan, dan itsar. Nilai-nilai tersebut menjadi asas bagi terbentuknya masyarakat Islam yang saleh, sehingga kapan pun dan di mana pun manusia berada, mereka tetap merasakan ikatan persaudaraan yang mampu meringankan berbagai kesulitan hidup.

Dengan semangat persaudaraan itu, mereka hidup dalam suasana aman, damai, dan penuh keselamatan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Hijrah, Sebuah Peristiwa yang Tidak Akan Pernah Dilupakan Sejarah karya Syaunqi Abu Khalid, persaudaraan menjadi salah satu pilar utama keberhasilan dakwah Islam pada masa awal perkembangannya.

Dasar persaudaraan yang dibangun Rasulullah saw. tidak pernah memandang perbedaan suku, ras, keturunan, maupun status sosial. Rasulullah saw. memandang sama antara bangsa Arab dan non-Arab, antara orang merdeka dan budak, antara tokoh masyarakat dan rakyat biasa, serta antara orang kaya dan miskin. Semua dipersatukan oleh keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mempersaudarakan para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Beliau bersabda, “Bersaudaralah kalian karena Allah, dua orang-dua orang.” Setelah itu, Rasulullah saw. menggandeng tangan Ali bin Abi Thalib seraya bersabda, “Ini adalah saudaraku.” Rasulullah saw. yang merupakan pemimpin para nabi, imam bagi orang-orang bertakwa, dan utusan Allah bagi seluruh umat manusia, menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai saudaranya.

Adapun Hamzah bin Abdul Muthalib, yang dikenal sebagai Singa Allah dan Rasul-Nya sekaligus paman Rasulullah saw., dipersaudarakan dengan Zaid bin Haritsah, seorang bekas budak yang telah dimerdekakan oleh Rasulullah saw. Bahkan, ketika Hamzah gugur sebagai syuhada dalam Perang Uhud, ia sempat berwasiat kepada Zaid. Sementara itu, Ja’far bin Abi Thalib yang dikenal sebagai pemilik dua sayap di surga dipersaudarakan dengan Mu’adz bin Jabal dari Bani Salamah.

Kisah-kisah persaudaraan tersebut memberikan teladan yang sangat berharga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai persatuan, kesetaraan, dan kepedulian sosial yang dicontohkan Rasulullah saw. sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan Indonesia saat ini, terutama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Keberhasilan Rasulullah saw. dalam mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai apabila masyarakatnya menjunjung tinggi persaudaraan, keadilan, dan semangat kebersamaan. Perbedaan latar belakang tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun persatuan dan kerja sama demi kemaslahatan bersama.

Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah hendaknya menjadi sarana refleksi bagi seluruh bangsa Indonesia untuk memperkuat ukhuwah, mempererat persatuan, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Dengan semangat tersebut, Indonesia dapat berkembang menjadi bangsa yang maju, berkeadilan, dan membawa rahmat bagi seluruh warganya.

Kita juga diingatkan pada alinea ketiga Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Kalimat tersebut mengandung konsekuensi moral bagi para pemimpin bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa diskriminasi dan tanpa kesenjangan sosial yang terlalu tajam.

Nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan para pendahulu bangsa selaras dengan ajaran Islam, sebagaimana tercermin dalam pepatah, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” serta “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Kedua pepatah tersebut mengajarkan pentingnya solidaritas, gotong royong, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan bersama.

Selamat memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Semoga semangat hijrah, ukhuwah, dan pengorbanan yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabat menjadi inspirasi bagi seluruh rakyat Indonesia dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, tepat satu abad kemerdekaan Republik Indonesia.