Strategi Mengajar dan Menghafal Al-Qur'an
Oleh: Yeni Marini (Mahasiswa Prodi KPI Semester IV)
Jendelakita.my.id – Guru tahfidz, Maghfiroh, mengungkapkan motivasi, tantangan, serta metode dalam mengajar dan menghafal Al-Qur’an dalam wawancara yang dilakukan pada Senin (13/04/2026).
Maghfiroh mengatakan bahwa alasan dirinya memilih menjadi guru tahfidz tidak hanya untuk mengajarkan ilmu dunia, tetapi juga sebagai bekal akhirat. Menurutnya, mengajarkan Al-Qur’an merupakan bentuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
“Fokusnya bukan cuma ilmu dunia, tetapi juga ilmu akhirat. Ini juga menjadi amal jariyah,” ujarnya.
Dalam proses mengajar, ia menghadapi tantangan berupa perbedaan kemampuan dan karakter anak-anak. Untuk mengatasi hal tersebut, Maghfiroh menerapkan metode pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan serta menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan usia.
Ia menjelaskan bahwa siswa dikelompokkan dan dibedakan antara yang sudah memiliki bacaan baik dengan yang masih perlu perbaikan. Selain itu, suasana belajar yang menyenangkan juga diciptakan agar anak-anak lebih nyaman dan mudah menerima materi. Perhatian khusus juga diberikan kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) agar tetap dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
Lebih lanjut, Maghfiroh menegaskan bahwa tidak ada batasan usia untuk belajar tahfidz. Siapa pun dapat mulai menghafal Al-Qur’an selama memiliki kemauan. Terkait metode menghafal, ia menyarankan cara sederhana, yaitu membaca ayat secara berulang hingga hafal serta menjaga konsistensi dalam mengulang hafalan. Selain itu, ia juga menerapkan sistem talaqqi, yaitu guru membacakan ayat terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh murid.
“Cara simpel menghafal yaitu dibaca terus sampai hafal, yang penting konsisten,” tambahnya.