Akhirnya Kumenemukan-Mu
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita.my.id – Pada hakikatnya, sumber kebahagiaan berasal dari Tuhan. Sayangnya, sebagian umat manusia belum memahami keberadaan Tuhan. Sudah tahukah di mana Tuhan “bersembunyi”? Jika belum, berikut ini sebuah kisah yang menarik dan populer dari negeri para artis Bollywood, India. Cerita ini telah menjadi cerita rakyat yang mendarah daging. Bahkan, seorang anak kecil pun mampu menceritakannya kembali kepada teman-temannya. Kisah sederhana ini menjadi rujukan spiritual yang mendalam tentang makna kebahagiaan.
Suatu hari di surga, Tuhan sedang memikirkan bagaimana caranya agar tidak diganggu oleh manusia yang selalu memiliki banyak permintaan dan tuntutan. Tuhan pun memanggil empat malaikat terbaik dan bertanya, bagaimana caranya agar diri-Nya tidak ditemukan oleh manusia.
Malaikat pertama berkata, “Tuhanku, mengapa Engkau tidak pergi ke sebuah gunung yang tinggi, tempat yang belum diketahui dan tidak berani didatangi manusia? Di sana Engkau dapat beristirahat tanpa gangguan. Himalaya, misalnya.”
Tuhan menjawab, “Itu dahulu. Sekarang manusia telah mampu mendaki gunung-gunung tertinggi, termasuk Himalaya. Tidak mungkin. Manusia adalah makhluk pemberani, mereka pasti akan menemukannya.”
Kemudian malaikat kedua memberi saran, “Mengapa Tuhan tidak pergi ke dasar lautan? Manusia adalah makhluk darat, pasti mereka tidak mampu menjangkaunya.”
Tuhan pun menjawab, “Itu dahulu. Sekarang mereka telah menciptakan alat untuk menyelam. Mereka pasti akan menemukanku di sana.”
Tuhan kembali berpikir, lalu meminta pendapat malaikat ketiga. Malaikat itu berkata, “Mengapa Tuhan tidak pergi ke planet di antariksa? Jelas manusia tidak bisa ke sana.”
Tuhan menjawab, “Itu dahulu. Kini mereka sangat cerdas. Mereka menciptakan pesawat yang mampu menjelajah ruang angkasa. Mereka pasti akan menemukanku.”
Pada saat semua tampak buntu, malaikat terakhir berkata, “Tuhanku, ada satu tempat yang sangat dekat dengan manusia. Bukan di gunung, bukan di dasar laut, dan bukan pula di planet lain. Namun manusia tidak mengetahuinya.”
Tuhan bertanya, “Di mana tempat itu?”
Malaikat itu menjawab dengan tenang, “Di hati manusia itu sendiri, Tuhanku.”
Sejak itulah, konon Tuhan bersemayam di dalam hati setiap hamba-Nya.
Kisah ini kemudian diperkuat oleh pemikiran Jalaluddin Rumi, yang menyatakan bahwa siapa pun manusia, tanpa memandang warna kulit, suku, maupun agama, jika telah berdamai dengan hatinya, maka ia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan sejati.
Kebahagiaan tidak ditemukan di laut, tidak pula di bukit dan gunung yang tinggi, dan bukan pula di planet lain. Kebahagiaan sejati berada di dalam hati kita sendiri—di kedalaman yang sering kali kita lupakan. Kita sering kali seperti tumbuhan yang akarnya menjulur ke atas, padahal sejatinya kita adalah tumbuhan yang akarnya menghujam ke dalam, yaitu ke dalam hati kita.
Ketika hal itu terjadi, seseorang akan merasakan kebahagiaan yang melampaui kebahagiaan materi. Bukan karena uang, jabatan, atau kedudukan, melainkan karena telah menemukan Tuhan dalam dirinya.
Akhirnya, kumenemukan-Mu.
Sebagaimana sabda Muhammad saw.,
“Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Disarikan dari kultum: Mengubah Kehidupan dan Kebahagiaan (Pesan Bijak Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis) oleh Rudiyanto SW.