Breaking News

Lebanon Menjadi Kambing Hitam dalam Gencatan Senjata Iran vs Amerika Serikat dan Israel

Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. (Pengamat Hukum dan Politik)

Jendelakita.my.id –  Baru beberapa jam setelah disepakatinya gencatan senjata antara Iran dan Amerika SerikatIsrael, di mana Donald Trump menerima 10 persyaratan yang diajukan oleh pemerintah Iran yang ditengahi oleh Pakistan, situasi kembali memanas. Tidak lama setelah kesepakatan tersebut, Israel justru melancarkan serangan terhadap 100 titik di wilayah Lebanon.

Israel beralasan bahwa Lebanon bukan merupakan pihak dalam kesepakatan gencatan senjata. Namun, tindakan ini menuai kecaman dari 67 negara karena Lebanon adalah negara berdaulat dan menjadi wilayah penempatan pasukan perdamaian internasional. Bahkan, pasukan perdamaian dari Indonesia turut menjadi korban, dengan tiga personel gugur akibat serangan tersebut.

Pernyataan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam wilayah gencatan senjata juga disampaikan oleh Amerika Serikat. Padahal, Perdana Menteri Pakistan sebagai mediator sebelumnya telah menegaskan bahwa Lebanon termasuk dalam pembahasan kesepakatan tersebut.

Tindakan ini kembali menunjukkan pola strategi yang kerap dikaitkan dengan kepentingan geopolitik Amerika Serikat dan Israel. Upaya menciptakan ketegangan baru dinilai sebagai bagian dari strategi untuk memperoleh keuntungan tertentu di tengah konflik yang berlangsung.

Iran sendiri telah memahami pola tersebut sejak lama. Sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon, Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dengan menggunakan persenjataan modern. Selain itu, Iran juga kembali menutup Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka.

Dampak dari serangan Israel di Lebanon sangat besar. Ratusan warga dilaporkan meninggal dunia dan ribuan lainnya mengalami luka-luka. Pada Jumat, 10 April 2026, direncanakan akan dilakukan pertemuan antara pemerintah Amerika Serikat, Israel, dan Iran untuk mencari solusi damai guna mengakhiri konflik secara permanen.

Konflik berkepanjangan ini pada akhirnya tetap berakar pada persoalan kemerdekaan Palestina, yang selama ini masih menghadapi penderitaan di tanahnya sendiri. Wilayah tersebut kerap menjadi objek kepentingan geopolitik, baik dalam bentuk ekonomi, militer, maupun uji coba persenjataan.

Dominasi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah juga terlihat dari keberadaan sejumlah pangkalan militernya. Namun, beberapa di antaranya dilaporkan berhasil dilumpuhkan oleh Iran. Dalam perkembangan terakhir, pertemuan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran yang kembali dimediasi Pakistan belum mencapai kesepakatan dan berakhir buntu.

Para pengamat internasional menilai strategi Iran cukup menyulitkan pihak Amerika Serikat. Delegasi Amerika Serikat dinilai lebih banyak membawa kepentingan Israel dalam forum diplomasi tersebut. Sementara itu, Iran tetap bertahan pada 10 poin persyaratan yang sebelumnya telah disepakati dalam gencatan senjata sementara.