Breaking News

Komparasi Problematika Sosiologi Perkotaan di Indonesia dan Malaysia



Biodata Penulis

Nama: Harits Al Harrats Jawad

TTL: Padang, 18 Oktober 2001

Riwayat Pendidikan: 

- SDIT Buah Hati, Padang, 

- Madrasah Al Yamani, Kuala Lumpur

- Ponpes Darussalam Al Waliyyah, Aceh Selatan

- STAI Bumi Silampari, Lubuklinggau

Profesi: Guru Tahfizh, Mahasiswa

Domisili: Dusun 2, F Trikoyo, Tugumulyo, Musi Rawas


Komparasi Problematika Sosiologi Perkotaan di Indonesia dan di Malaysia

Perkotaan di Asia Tenggara tumbuh sangat cepat. Indonesia dan Malaysia sama-sama mengalami urbanisasi masif, tapi problematika sosiologinya punya kemiripan sekaligus perbedaan yang menarik untuk dibandingkan.

1. Kepadatan Penduduk dan Permukiman Kumuh

- Indonesia: Jakarta, Surabaya, Medan menghadapi ledakan penduduk urban. Akibatnya muncul permukiman kumuh di bantaran sungai, rel kereta, dan kolong jembatan. Program rusunawa ada, tapi belum mengejar laju migrasi desa-kota.

- Malaysia: Kuala Lumpur, Johor Bahru, dan Penang juga padat, tapi kebijakan perumahan rakyat seperti PPR dan PR1MA lebih terstruktur. Masalah urban squatters masih ada, terutama di kalangan imigran, namun skalanya lebih kecil dibanding Jakarta.

2. Kemacetan dan Mobilitas Sosial

- Indonesia: Transportasi publik baru berkembang masif dalam 10 tahun terakhir lewat MRT, LRT, TransJakarta. Budaya kendaraan pribadi masih dominan, membuat kemacetan jadi problem sosial harian yang menurunkan kualitas hidup.

- Malaysia : Sistem transportasi publik lebih terintegrasi sejak awal 2000-an dengan LRT, MRT, KTM Komuter. Kemacetan tetap ada, tapi mobilitas warga kota lebih terbantu. Tantangannya justru ketergantungan kelas menengah pada mobil karena harga BBM bersubsidi.

3. Ketimpangan Sosial dan Kesenjangan Ekonomi

- Indonesia: Gentrifikasi terjadi cepat. Di satu sisi muncul SCBD, PIK, dan kawasan elit. Di sisi lain, ketimpangan terlihat jelas antara pekerja formal dan informal. Pedagang kaki lima, ojek online, dan buruh harian jadi wajah mayoritas kota.

- Malaysia: Ketimpangan juga ada, tapi dibingkai isu etnis: Melayu, Cina, India, plus pekerja migran dari Indonesia, Bangladesh, Nepal. Kebijakan ekonomi Bumiputera memengaruhi distribusi kesempatan di perkotaan. Isu pekerja migran ilegal jadi problem sosial tersendiri.

4. Kriminalitas dan Keamanan

- Indonesia: Kriminalitas perkotaan didominasi kejahatan jalanan, tawuran, narkoba, dan kejahatan siber. Kerap terkait dengan pengangguran dan kemiskinan struktural di kantong-kantong miskin kota.

- Malaysia: Angka kriminalitas relatif lebih rendah, tapi isu gengsterisme, penyelundupan, dan scam online menonjol. CCTV dan safe city program sudah lama diterapkan di kota besar.

5. Identitas Sosial dan Budaya Kota

- Indonesia: Kota jadi ruang percampuran budaya dari berbagai daerah. Muncul problem akulturasi, konflik horizontal berbasis etnis atau ormas, tapi juga melahirkan budaya pop urban yang kreatif.

- Malaysia: Isu identitas lebih sensitif karena relasi antar-etnis sudah dilembagakan sejak lama. Di perkotaan, ruang publik jadi arena negosiasi budaya Melayu, Cina, India. Isu bahasa, sekolah vernakular, dan representasi jadi problem sosiologis yang khas.

6. Lingkungan dan Ruang Terbuka Hijau

- Indonesia: Alih fungsi lahan sangat cepat. Banjir, polusi udara, dan minimnya RTH jadi problem kronis. Jakarta contohnya, baru 10% RTH dari target 30%.

- Malaysia: Aturan tata kota lebih ketat. Program Green City dan taman kota seperti KLCC Park, Taman Tasik Perdana jadi standar. Tantangannya adalah pembangunan berlebihan di pinggiran kota yang menggerus kawasan hijau.

Kesimpulan

Intinya, Indonesia bergulat dengan volume dan kecepatan urbanisasi, sedangkan Malaysia lebih fokus pada manajemen keragaman dan keberlanjutan kota. Keduanya bisa saling belajar: Indonesia dari manajemen transportasi dan perumahan Malaysia, Malaysia dari kreativitas budaya urban Indonesia.

Sebagai warga Indonesia yang pernah hidup di Malaysia kurang lebih 3 tahun dan hingga sekarang masih sering bolak-balik kesana, saya berharap Indonesia bisa banyak belajar dari perkotaan dari Malaysia yang lebih sistematis dan terstruktur, seperti masalah kemacetan, lingkungan hidup, tata kelola pembangunan infrastruktur dan lain-lain, akan tetapi walaupun demikian, Malaysia juga masih memiliki kekurangan yang juga harus belajar dari kehidupan sosial dari Indonesia, seperti tingkat keberagaman, toleransi yang lebih cair, solidaritas yang lebih kuat saat krisis, dan fleksibilitas sosial antar sesama. Maka, pada akhirnya, tulisan ini bukan untuk saling membandingkan siapa yang menang atau kalah, tapi agar menjadi bahan peningkatan agar lebih baik kedepannya.