Breaking News

Bahagia-kah HMI?


Tulisan Oleh : Agus M. (Penulis adalah Sekretaris SC dan Presidium Sidang Pada Kongres HMI ke-27 di Depok tahun 2010) 

Jendelakita.my.id. - Sejarah memiliki hukum universal. Namun, membuktikan kebenarannya haruslah bersifat eksperimental. Napas kita sedetik yang lalu telah menjadi sejarah. Di lintasan masa itu, perubahan selalu terjadi.

Demikian pula yang dialami oleh organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Pada 5 Februari 2026, HMI telah melintasi lini masa selama 79 tahun sejak kelahirannya pada 5 Februari 1947. Dinamika yang menanjak dan menurun terus mengiringi perjalanan organisasi ini. Tarik-menarik antara kebenaran dan kebatilan bergumul dalam tubuh organisasi.

Heroismenya telah tercatat sejak stase awal kelahiran hingga fase perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. Usia kelahiran HMI dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia bagaikan sepasang “kakak dan adik” yang menghadapi situasi serta ancaman yang sama.

Status dan Peran Selama 79 Tahun

Pada usia ke-79 ini, saya mencoba mengurai dendrit kesadaran organisasi. Angka 79 dalam teori bilangan merupakan gabungan dua bilangan cacah, yaitu angka 7 dan 9, meskipun angka 7 bernilai puluhan dan angka 9 bernilai satuan.

Jika ruh suatu organisasi terletak pada Anggaran Dasar, maka Anggaran Dasar HMI Pasal 7 dan Pasal 9 menjadi bagian penting yang ingin saya bincangkan. Pada Pasal 7 Anggaran Dasar HMI tentang status disebutkan bahwa “HMI adalah organisasi mahasiswa”, sedangkan pada Pasal 9 Anggaran Dasar HMI tentang peran disebutkan bahwa “HMI berperan sebagai organisasi perjuangan”.

Dari kedua pasal tersebut, jelas dan tegas bahwa HMI berstatus sebagai organisasi mahasiswa dan berperan sebagai organisasi perjuangan. Namun, apabila menelusuri lembar-lembar sejarah terkini, muncul pertanyaan kritis: apakah kedua pasal itu masih menjadi ruh yang menghidupkan organisasi?

Mahasiswa sebagai sumber daya sekaligus agen perubahan yang berperan dalam perjuangan menuju kondisi yang lebih baik rasanya perlu ditinjau ulang. Optik kita justru sering menampilkan dinamika organisasi yang berupaya mengingkari ruh Pasal 7 dan Pasal 9 Anggaran Dasar HMI.

HMI yang berstatus mahasiswa justru kian kehilangan habitatnya di kampus-kampus. Identitas mahasiswa lebih sering diletakkan di atas meja-meja kafe atau ruang hedonisme daripada di lapangan keilmuan dan karya akademik. HMI seolah kehilangan sudut pandang dan bacaan yang komprehensif. Modernisasi sarana pengetahuan dari buku autentik ke buku digital nyaris kosong dari memori internal teknologi yang sesungguhnya berada dalam genggaman para kader.

Mahasiswa tidak lagi “cogito ergo sum” — “aku berpikir maka aku ada”. Kini beralih menjadi “photos ergo sum” — “dengan berfoto maka aku ada”. Mahasiswa sebagai entitas manusia yang diciptakan Tuhan dalam bentuk sempurna, dengan anugerah kecerdasan ilahiah, tidak lagi mengasah potensi tersebut. Bahkan, kehanifannya seakan diabdikan kepada kecerdasan buatan. Hingga detik ini, HMI belum melahirkan fajar teori ilmiah baru untuk menghadapi era Homo Deus.

Selanjutnya, peran HMI sebagai organisasi perjuangan semakin meredup dalam sikap aktivismenya. Perjuangan individualistis dan kepentingan kelompok lebih sering mengemuka, sementara kehadiran HMI di tengah tangisan kaum mustadafin serta bencana hukum dan alam semesta terasa kian hambar.

Dalam peran perjuangannya terhadap kemerdekaan Palestina dan perlawanan atas genosida yang dilakukan Zionis Israel beserta kroninya, HMI seakan absen dalam catatan sejarah mutakhir. Keberanian menjadi martir justru muncul pada bab perebutan kuasa dan sumber-sumber kapital.

Ego kelompok yang menjangkiti peran perjuangan telah merobek batas-batas kesucian perjuangan dan meludahi kehormatannya. Yang penting “menang”, bukan yang “benar”. Bukan pula berdasarkan sunah, apalagi Al-Qur’an. Bahkan, dengus napas perjuangan bukan lagi keislaman, melainkan kepentingan.

Bahagia HMI

Pada lapisan dendrit kesadaran yang lebih dalam, saya mencoba mengurai makna bahagia. Dengan segala keterbatasan, saya meminjam pandangan para arifillah tentang makna kebahagiaan.

Kebahagiaan menurut Sayyidina Al-Farabi berbeda dengan kenikmatan. Kenikmatan bersifat temporer, tidak abadi, dan mudah berubah. Pencapaian materi, kedudukan sosial, serta kekuasaan bukanlah kebahagiaan, melainkan sekadar kenikmatan.

Sayyidina Al-Farabi mengajarkan bahwa kebahagiaan merupakan hasil dari pengembangan akal dan jiwa serta penyempurnaan potensi diri dalam mengenal Allah SWT. Dalam kitab Tansil al-Sa‘adah, dijelaskan bahwa kenikmatan hanyalah perantara menuju kebahagiaan. Kebahagiaan manusia tidak terletak pada dimensi fisik, melainkan pada dimensi spiritual. Kesempurnaan spiritual itulah kebahagiaan sejati.

Kebahagiaan sejati, yakni bertemu dan akrab dengan Tuhan, hanya dapat diraih ketika manusia meninggalkan kebahagiaan semu berupa kenikmatan duniawi. Inilah yang dimaksud Imam Khomeini bahwa kebahagiaan duniawi atau pencapaian kenikmatan temporer yang hanya berorientasi pada aspek fisik dan materi adalah “NAJIS”.

Sering kali kita menganggap bahwa terpenuhinya kebutuhan ekonomi, kepemilikan jabatan, harta berlimpah, keluarga yang lengkap, serta kesempatan menunaikan umrah dan haji berkali-kali sebagai kebahagiaan sejati. Padahal, menurut Al-Farabi, semua itu bukanlah kebahagiaan, bahkan merupakan “najis” yang terus ditumpuk sebagaimana pandangan Imam Khomeini, karena diraih selain dari Allah SWT.

Apa yang dianggap sebagai kebahagiaan dan kenikmatan justru dapat menjadi penghalang untuk berjumpa dengan Allah SWT. Kebahagiaan sejati adalah kemampuan manusia membersihkan kotoran jiwa dan raga serta menjalin keakraban dengan Allah SWT.

Mari kita maknai kembali frasa “Bahagia HMI” pada baris terakhir Hymne HMI, yaitu kebahagiaan sebagaimana dimaknai Sayyidina Al-Farabi: berjuang secara total dalam perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah SWT.

Dies Natalis ke-79 HMI. Selamat berjuang, bahagiakan HMI.

Bumi Sari, 2 Februari 2026