Ketika Kebenaran Disampaikan Tanpa Takut: Kisah Fudhail bin Iyadh dan Harun Ar-Rasyid
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U.
Jendelakita,my.id. - Fudhail bin Iyadh adalah seorang kekasih Allah yang rendah hati, namun tegas dalam menyampaikan kebenaran, bahkan kepada seorang khalifah sekalipun atau kepada siapa pun tanpa sedikit pun kehilangan kepercayaan dirinya. Kepercayaan diri tersebut lahir dari kedalaman jiwa, yaitu keyakinan yang mampu memandang manusia sebagai manusia. Kepercayaan diri Fudhail bersumber dari prinsip tauhid, bahwa Allah adalah pusat keyakinannya.
Pada suatu malam, Harun Ar-Rasyid bersama Fazl Barmasid, salah seorang pengawal kesayangannya, mendatangi Fudhail bin Iyadh untuk meminta nasihat. Ketika sampai di rumah Fudhail, Harun Ar-Rasyid mengulurkan tangannya dan disambut oleh Fudhail seraya berkata, "katakanlah sesuatu kepadaku". Harun Ar-Rasyid pun memohon nasihat dengan penuh harap.
"Ketika diangkat menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz memanggil Salim bin Abdullah, Raja bin Hayat, dan Muhammad bin Ka'ab. Umar berkata kepada mereka, hatiku sangat gundah karena cobaan ini. Apakah yang harus kukatakan? Aku tahu bahwa kedudukan yang tinggi adalah sebuah cobaan walaupun orang lain menganggapnya sebagai karunia." Salah seorang di antara mereka berkata, "Jika engkau ingin terlepas dari hukuman Allah di akhirat nanti, pandanglah setiap orang muslim yang tua sebagai ayahmu sendiri, setiap muslim yang remaja sebagai saudaramu sendiri, dan setiap muslim yang kanak-kanak sebagai putramu sendiri. Perlakukanlah mereka sebagaimana seharusnya seorang memperlakukan ayahnya, saudaranya, dan putrinya."
"Lanjutkanlah," pinta Harun Ar-Rasyid. "Anggaplah negeri Islam sebagai rumahmu sendiri dan penduduknya sebagai keluargamu sendiri. Jenguklah ayahmu, hormati saudaramu, dan bersikap baiklah kepada putramu. Aku sayangkan jiwa wajah yang tampan ini akan hangus terbakar di dalam neraka nanti. Takutilah Allah dan taati perintah-Nya, berhati-hatilah dan bersikaplah secara bijaksana. Karena pada hari berbangkit nanti Allah akan meminta pertanggungjawabanmu sehubungan dengan setiap muslim. Dia akan memeriksa apakah engkau telah berlaku adil kepada setiap orang."
"Apabila ada seorang wanita uzur yang tertidur dalam keadaan lapar, pada hari berbangkit nanti ia akan menarik pakaianmu dan akan memberi kesaksian yang memberatkanmu." Mendengar nasihat tersebut, Harun Ar-Rasyid menangis dengan sangat getir hingga tampak hampir pingsan. Melihat keadaan itu, Fazl menyentak Fudhail dan berkata, "Cukup! Engkau telah membunuh pimpinan kaum Muslimin. Diamlah, Jaman!" Fudhail menjawab dengan tegas, "Engkau dan orang-orang seperti engkau inilah yang telah menjerumuskannya. Kemudian engkau katakan aku membunuhnya? Apakah yang kulakukan ini membunuhnya?"
Mendengar jawaban Fudhail, tangis Harun Ar-Rasyid semakin menjadi-jadi. "Engkau menyebutmu Haman?" kata Harun Ar-Rasyid sambil memandang Fazl, karena ia mempersamakan dirinya dengan Fir’aun. Harun Ar-Rasyid kemudian bertanya kepada Fudhail, "Apakah engkau mempunyai hutang yang belum dilunasi?" "Ya," jawab Fudhail, "utang kepatuhan kepada Allah. Seandainya Dia memaksaku untuk melunasi hutang ini, celakalah aku." Harun Ar-Rasyid menjelaskan, "Yang aku maksudkan adalah hutang dengan manusia." Fudhail berkata, "Aku bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan kepadaku sedemikian melimpahnya, sehingga tidak ada keluh kesah yang harus kusampaikan kepada hamba-hamba-Nya."
Kemudian Harun Ar-Rasyid meletakkan sebuah kantong berisi seribu dinar di hadapan Fudhail sambil berkata, "Ini uang halal yang diwariskan ibuku." Fudhail mencela, "Wahai pemimpin kaum muslimin, nasihat-nasihat yang kusampaikan kepadamu ternyata tak berguna. Bahkan engkau memulai lagi dengan perbuatan yang salah dan mengulangi kezaliman." "Perbuatan salah apa yang kulakukan?" tanya Harun. Fudhail menjawab, "Aku mengajakmu ke jalan keselamatan, tetapi engkau menjerumuskanku ke dalam godaan. Bukankah itu suatu kesalahan? Telah kukatakan kepadamu, kembalikanlah segala sesuatu yang ada padamu kepada pemiliknya yang berhak, namun engkau memberikannya kepada yang tidak pantas menerimanya. Percuma aku memberi nasihat."
Setelah berkata demikian, Fudhail berdiri dan melemparkan uang emas itu keluar rumah. Ia benar-benar seorang manusia yang agung, bahkan dapat disebut sebagai raja bagi umat manusia. Fudhail bersikap sangat terus terang dan dunia terasa amat kecil dalam pandangannya. Harun Ar-Rasyid berkata ketika meninggalkan rumah Fudhail, "Inilah harga diri dari sebuah kepercayaan diri dan keberanian yang tinggi, sehingga dapat menimbulkan kepercayaan dari orang lain."
"Dan milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah ibadah selama-lamanya. Mengapa kamu takut kepada selain Allah?" (QS. An-Nahl: 52). Andaikan setiap muslim, khususnya para ulama, dapat meneladani sikap Fudhail bin Iyadh.

