Breaking News

Pelajaran Berharga dari Perjalanan Ibu Saya



Tulisan Oleh: Ribda Nabillah

Jendelakita.my.id. - Kewirausahaan merupakan salah satu keterampilan penting yang semakin dibutuhkan di era modern. Persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kemajuan teknologi, serta dinamika kebutuhan masyarakat membuat banyak orang mulai mempertimbangkan pilihan untuk membangun usaha sendiri. Namun, memulai usaha tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak orang memiliki keinginan berwirausaha tetapi sering kali kebingungan dari mana harus memulai, tidak memahami target pasar, atau kurang memiliki pengetahuan dalam mengelola bisnis.

Dalam praktiknya, kegagalan usaha pada tahap awal sangat sering terjadi. Penyebabnya beragam, mulai dari modal terbatas, salah memilih lokasi, produk yang tidak sesuai kebutuhan pembeli, hingga ketidaksiapan mental menghadapi tekanan. Karena itu, memahami proses perjalanan usaha orang lain dapat menjadi pembelajaran berharga. Kisah nyata memberikan gambaran bahwa sebuah usaha tidak tumbuh dengan cepat, tetapi melalui proses panjang yang penuh tantangan.

Pengalaman ini juga saya dapatkan dari kisah ibu saya sendiri. Beliau bukan berasal dari keluarga pedagang dan tidak memiliki pendidikan khusus dalam bisnis. Namun, demi memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya, ibu berani memulai usaha dari nol. Dalam perjalanannya, beliau menghadapi banyak tekanan, mulai dari hinaan, lokasi tidak mendukung, kehilangan barang, hingga konflik keluarga. Dari situlah saya belajar bahwa kewirausahaan bukan hanya soal mendapatkan keuntungan, melainkan soal ketekunan, keberanian, dan kemampuan beradaptasi.

Tulisan ini menggabungkan konsep dasar kewirausahaan dengan perjalanan panjang ibu saya dalam membangun usaha keluarga. Melalui kisah ini, saya ingin menunjukkan bahwa usaha yang sukses tidak selalu dimulai dari modal besar, melainkan dari mental yang kuat dan kemauan untuk terus mencoba meskipun sering gagal.

1. Pentingnya Menentukan Target Pasar

Salah satu hal penting sebelum memulai usaha adalah mengetahui siapa target pasar kita. Banyak usaha gagal bukan karena produknya tidak bagus, tetapi karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan keadaan lingkungan tempat usaha itu berada. Hal inilah yang sering saya lihat pada orang-orang yang baru merintis usaha; mereka kurang memahami lokasi, pelanggan, dan selera pasar.

Pengalaman ibu saya menjadi contoh nyata mengenai pentingnya hal ini. Beliau memulai usaha dari kondisi yang sederhana, penuh keterbatasan, namun tetap berusaha memahami apa yang dibutuhkan masyarakat di sekitar tempat beliau berdagang.

2. Perjalanan Awal: Jualan Buah Keliling

Ibu saya memulai usahanya dengan berjualan buah keliling. Ketika saya masih kecil, saya sering ikut beliau berjualan dari rumah ke rumah menggunakan mobil angkot sewaan yang dikendarai oleh ayah saya. Meskipun ibu saya sebenarnya tidak memiliki latar belakang sebagai pedagang, beliau selalu berusaha belajar dan beradaptasi.

Dalam proses itu, hinaan dan kritik sudah sering beliau terima. Namun, beliau tetap melanjutkan usahanya, tidak mudah menyerah meskipun banyak tantangan yang harus dilalui.

3. Berjualan Menetap dan Tantangan Kehilangan

Setelah beberapa bulan berkeliling, ibu saya mulai mencoba berjualan menetap di daerah Kompi. Pada masa itu belum ada aturan perizinan yang jelas seperti sekarang. Beliau pernah diusir dan dipindahkan berkali-kali, tetapi tetap mencari jalan lain agar usahanya bisa bertahan.

Di lokasi tersebut, ibu saya pernah mengalami kejadian kurang menyenangkan. Handphone ayah saya dipinjam oleh seorang kenalan yang mengaku butuh menelepon saudaranya. Karena percaya, ibu saya memberikan handphone itu. Namun, orang tersebut tidak kembali dan handphone itu pun hilang. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga tentang risiko dalam berinteraksi dengan berbagai macam orang saat berusaha.

4. Berjualan di Pasar Baru

Setelah tidak diizinkan berjualan di lokasi sebelumnya, orang tua saya berpindah ke Pasar Simpang Periuk yang baru dibuka. Di sana mereka kembali menjual buah bersama saudara ayah dan ibu saya. Namun, seiring waktu, pasar tersebut mengalami renovasi dan para pedagang dipindahkan sementara ke lokasi lain.

Ketika kembali ke tempat yang telah direnovasi, usaha kami tetap berjalan, tetapi timbul masalah baru, yaitu iri dan persaingan tidak sehat dari bibik saya. Karena kami berjualan berdampingan, ketika dagangan yang satu laris, yang lain menjadi sepi. Hal ini menimbulkan ketegangan hingga beberapa bulan tidak saling menyapa. Bahkan, dalam acara keluarga pun ibu saya memilih menghindar demi menjaga suasana.

5. Mencari Lokasi Baru dan Beralih Usaha

Karena kondisi yang kurang nyaman, ibu saya memutuskan mencari lokasi baru. Beliau mencoba berjualan di daerah Simpang Periuk dekat terminal, namun setelah beberapa bulan, pasar di daerah tersebut kurang ramai dan tidak sesuai dengan target pembeli.

Akhirnya, beliau memutuskan beralih usaha menjadi penjual gorengan. Usaha ini pun tidak mudah. Terkadang ramai, terkadang sangat sepi. Namun, ibu saya terus mencoba bertahan. Usaha gorengan itu berjalan beberapa bulan sebelum akhirnya beliau memutuskan untuk pindah jualan lagi.

6. Menemukan Peluang Baru di Kampung

Kesempatan baru datang ketika bibik saya—yang sebelumnya berjualan makanan di kampung nenek—menutup usahanya karena berpindah pekerjaan menjadi perias henna dan wedding. Beliau menawarkan tempat kepada ibu saya untuk meneruskan usaha tersebut.

Tempatnya berada di pinggir jalan raya, dekat jalur masyarakat yang hendak pergi ke sawah pada pagi hari. Banyak dari mereka membutuhkan makanan cepat saji seperti gorengan sebelum berangkat bekerja. Hal ini menjadi peluang yang sangat cocok. Akhirnya, ibu saya memutuskan menetap dan melanjutkan jualan makanan di sana hingga sekarang.

Usaha ini menjadi sumber rezeki keluarga kami—dari berjualan buah keliling hingga kini menetap menjual makanan sederhana yang justru sangat dibutuhkan masyarakat sekitar.

PENUTUP

Dari perjalanan panjang ibu saya, saya belajar banyak hal tentang kewirausahaan, antara lain:

Pantang menyerah adalah kunci utama.
Usaha harus menyesuaikan kebutuhan pasar.
Lokasi menentukan keberhasilan.
Setiap tantangan adalah peluang untuk belajar.
Kerja keras orang tua tidak dapat dibandingkan dengan keluhan kecil anaknya.

Saya sering merasa lelah dengan tugas kuliah, tetapi jika dibandingkan dengan perjuangan ibu dan ayah saya, rasa lelah saya tidak ada apa-apanya. Mereka bekerja tanpa banyak mengeluh demi masa depan anak-anaknya agar tidak mengalami kesulitan yang sama.

Tulisan ini bukan hanya sekadar kisah pengalaman, tetapi juga contoh nyata bahwa kewirausahaan bukan hanya tentang usaha, melainkan tentang perjuangan, adaptasi, keteguhan hati, dan keberanian untuk terus mencoba meskipun sering gagal.

Biodata Penulis

Ribda Nabillah lahir di Lubuklinggau pada tanggal 7 Oktober 2004. Ia merupakan warga negara Indonesia yang beragama Islam dan berdomisili di Jalan Duku I, Kelurahan Watervang. Dalam perjalanan pendidikannya, Ribda Nabillah menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 41 Lubuklinggau dan lulus pada tahun 2016. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Lubuklinggau dan menyelesaikannya pada tahun 2019. Pendidikan menengah atas ditempuh di MAN 2 Lubuklinggau dan berhasil diselesaikan pada tahun 2022. Pada tahun 2025, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di STAI Bumi Silampari.