Makna Syukur Tanpa Batas dalam Teladan Rasulullah SAW
Jendelakita.my.id. - Alhamdulillah, syukur tiada akhir. Atha berkata, suatu ketika saya bertanya kepada Aisyah Ra, “Ceritakan sesuatu yang sangat menakjubkan dari Rasulullah Saw.” Dia berkata, “Perbuatan-perbuatan Rasulullah Saw yang manakah yang tidak menakjubkan.” Setelah itu Aisyah Ra bercerita.
Pada suatu malam Rasulullah Saw datang ke rumahku. Setelah tidur beberapa saat, beliau berkata, “Biarkanlah saya, saya ingin beribadah kepada Allah.” Setelah berbicara demikian, beliau berwudhu lalu berdiri sholat sambil menangis terisak-isak, sehingga air matanya membasahi dada beliau. Setelah itu beliau rukuk sambil menangis dalam rukuknya, lalu bersujud dan menangis pula dalam sujudnya, kemudian bangun dari sujud juga sambil menangis.
Begitulah terus-menerus Rasulullah Saw dalam keadaan menangis, sehingga Bilal Ra datang memanggil azan untuk sholat subuh. Saya (Bilal) bertanya, “Ya Rasulullah, kenapa engkau begitu banyak sekali menangis, padahal Allah telah memaafkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Rasulullah Saw menjawab, “Apakah tidak sepantasnya saya menjadi hamba Allah yang bersyukur.”
Bagaimana suara hati Anda ketika menyimak kisah di atas? Bayangkan Rasulullah Saw adalah manusia yang paling sempurna. Semua dosanya—jika ada—baik yang lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Allah SWT sebagaimana dikatakan oleh Bilal, tetapi beliau tetap ingin menjadi hamba-Nya yang paling bersyukur. Barangkali, jika kita berada pada kedudukan seperti Rasulullah Saw, kita beribadah secukupnya saja. Toh, hal itu karena sudah ada jaminan ampunan Allah, seperti apa pun dosa kita.
Menjadi hamba yang bersyukur bagi Rasulullah Saw tidak semata-mata mengatakan “Alhamdulillah”, namun beliau mengimplementasikan makna syukur itu dalam bentuk menjadi hamba yang ahli ibadah. Ibadah Rasulullah Saw tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun.
Mengapa kita harus bersyukur? Allah menjawabnya dengan firman-Nya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Secara bahasa, syukur adalah pujian kepada yang telah berbuat baik atas apa yang dilakukan kepadanya. Syukur adalah kebalikan dari kufur. Sementara itu, syukur menurut istilah adalah penggunaan seluruh nikmat Allah SWT oleh seorang hamba—baik dalam bentuk pendengaran, penglihatan, hati, maupun yang lain—sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Syukur terbagi menjadi empat. Pertama, syukur melalui ucapan, yaitu dengan memuji-Nya dan menyebutkan berbagai nikmat-Nya kepada manusia, yakni menyifati Pemberi nikmat dengan sifat kedermawanan, kemuliaan, dan sifat-sifat yang menunjukkan penerimaan atas nikmat serta pengakuan atas rendahnya maqam seorang hamba di hadapan Pemberi nikmat. Kedua, syukur dengan lisan, yang dapat dilakukan dengan memperbanyak zikir kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan. Aisyah Ra menyebutkan bahwa Rasulullah Saw selalu berzikir kepada Allah SWT pada setiap kesempatan dalam hidupnya. Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam bahwa Nabi Musa berkata, “Tuhanku, Engkau telah memberi nikmat yang banyak kepadaku, maka berilah aku petunjuk agar dapat banyak bersyukur kepada-Mu.” Allah SWT berfirman, “Berzikirlah engkau sebanyak-banyaknya kepada-Ku, maka engkau telah bersyukur banyak kepada-Ku. Jika engkau melupakan-Ku maka engkau telah kufur kepada-Ku.”
Ketiga, syukur melalui hati. Allah SWT berfirman, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An-Nahl: 53). Imam Sya’rani berkata, “Syukur hati hanya dapat dicapai melalui keyakinan seseorang yang kukuh bahwa segala yang berada dalam genggamannya—baik nikmat, manfaat, kenyamanan, gerakan, maupun diam—adalah karunia dari Tuhannya, bukan dari yang lain.” Semua itu agar syukur hamba melalui lisannya sesuai dengan hatinya dan menggambarkan bahwa tidak ada yang memberi nikmat kepada hamba tersebut selain Tuhannya Yang Maha Agung.
Keempat, syukur melalui anggota badan, yaitu dengan melaksanakan segala hal yang telah diwajibkan oleh Allah SWT kepada manusia. Ibnu Qudamah berkata, “Syukur anggota badan adalah menggunakan segala nikmat Allah SWT dalam melakukan ketaatan kepada-Nya dan berupaya memohon pertolongan agar dihindarkan dari kemaksiatan kepada-Nya.” Di antaranya, dengan kedua mata seseorang menutupi segala aib seorang muslim yang terlihat, dan dengan kedua telinga menutup pendengaran dari setiap aib seorang muslim yang didengar. Semua itu termasuk kategori syukur melalui anggota badan. Ingin bertambah nikmat? Mudah, perbanyaklah syukur kepada Allah SWT.

