Hati Seorang Anak Untuk Orang Tua
Penulis: H. Albar Sentosa Subari, S.H., S.U. (Pengamat Hukum dan Sosial)
Jendelakita.My.Id – Artikel ini terinspirasi oleh sebuah video yang sempat beredar di media sosial. Video tersebut menampilkan satu momen perilaku seorang gadis yang melangkah dengan pasti menuju bandara untuk penerbangan ke ibu kota. Namun, sepanjang perjalanannya, perilakunya justru menimbulkan kecurigaan penumpang lain, termasuk awak pesawat, karena terdapat hal-hal yang tampak di luar kebiasaan penumpang pada umumnya. Berdasarkan cerita yang bersangkutan, kecurigaan bermula ketika ia membeli tiket pesawat sendiri, padahal ia mengenakan setelan seragam awak pesawat dari sebuah perusahaan penerbangan.
Akhirnya, sebut saja ia berinisial NK, tetap mengikuti penerbangan tersebut. Selama perjalanan, NK sempat dicurigai oleh dua orang pramugari karena penampilannya yang menyerupai seragam mereka. Setibanya di bandara tujuan, NK kemudian diamankan dan diinterogasi oleh petugas. Terlepas dari peristiwa tersebut, terdapat hal menarik di balik kisah NK. Dalam klarifikasinya atas video yang beredar, NK mengakui bahwa kejadian itu berawal dari niatnya untuk menjadi seorang pramugari di salah satu maskapai penerbangan, namun usahanya tidak berhasil. Bahkan, ia mengaku telah mengeluarkan biaya yang cukup besar karena diiming-imingi oleh seseorang yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan uang sebesar Rp30.000.000.
Dalam kondisi demikian, sebagai seorang perempuan muda, NK mengalami kebingungan dan kekecewaan yang mendalam, terutama terhadap kedua orang tuanya yang telah berkorban demi masa depan dirinya. Namun, mari kita hentikan sejenak cerita NK. Kisah seperti ini sejatinya bukanlah hal baru, karena pernah pula menjadi pertimbangan seorang anak dalam upayanya membahagiakan orang tua. Pada tahun 2004, penulis mendengar cerita seorang teman yang bersama istrinya berencana menunaikan ibadah haji. Saat itu, belum ada sistem antrean panjang, dan pendaftaran serta pembayaran akan segera ditutup keesokan harinya. Dalam situasi tersebut, sang suami masih diliputi kebimbangan karena merasa usianya relatif muda, yakni sekitar 40 tahun, sehingga terpikir untuk menunda keberangkatan.
Namun, Allah SWT memberinya firasat agar ia berangkat haji saat itu juga, dengan satu pertimbangan utama, yaitu membahagiakan kedua orang tuanya yang masih hidup. Dari dua kisah tersebut, terdapat kesamaan makna bahwa seorang anak pada dasarnya akan berusaha melakukan kebaikan demi membahagiakan orang tuanya sebagai wujud bakti. Membahagiakan orang tua merupakan cita-cita luhur seorang anak, dengan harapan memperoleh kasih sayang-Nya. Kabar terakhir yang beredar menyebutkan bahwa NK mendapat perhatian dari sebuah lembaga penerbangan yang bersedia mendidiknya secara gratis sebagai calon pramugari, dan semoga hal tersebut benar-benar terwujud. Dalam bahasa agama, teringat sebuah ungkapan indah, “Siapa yang membahagiakan kedua orang tuanya, Allah akan menyayangi dan mengasihinya.” Oleh karena itu, kurang tepat apabila NK semata-mata diberi predikat “pramugari gadungan”, karena tidak ditemukan niat jahat maupun kerugian yang ditimbulkan terhadap orang atau pihak lain.

